
Cika menggoyangkan lengan Ustaz Hafid saat tidak ada respons. "Ustaz, jangan pergi, ya," ujarnya sekali lagi.
"Maaf, ustaz harus tetap pergi."
Mata Cika sudah berair.
"Oke, itu keputusan Ustaz. Sepertinya aku memang nggak ada hak juga untuk melarang Ustaz pergi," ucap Cika ketus. Ia menghapus jejak air matanya secara kasar, ia bangkit berdiri.
"Ustaz cuma sebentar di sana Cika. Mengertilah."
"Pergi sudah, mau sampai sepuluh tahun pun aku nggak mau peduli lagi, tapi ingat! Setelah Ustaz balik jangan harap aku mau ketemu sama Ustaz lagi. Aku mau keluar dari pondok, pulang ke rumah hari ini juga," ancam Cika. Ia merapikan jilbabnya sebelum keluar kamar.
Ustaz Hafid buru-buru bangkit, mencegah Cika.
"Ustaz nggak punya hak ngelarang aku, aku mau pulang ke rumah," kata Cika dengan suara tidak bersahabat, kemudian menyingkirkan tangan Ustaz Hafid yang mencoba menahannya.
"Aku suamimu dan tidak mengizinkanmu pergi ke mana pun. Jangan bersikap seperti anak kecil seperti ini, Cika!" bentak Ustaz Hafid dengan nada suara naik dua oktaf.
Cika merembes keluar dari persembunyiannya, saat mendengar bentakan tersebut.
Baru kali ini Ustaz Hafid membentak dirinya dengan suara yang keras. Tentu saja ia bergetar ketakutan. "Anak kecil? Iya aku memang masih anak kecil. Kenapa?!" tanyanya dengan bulir air mata di pipi.
Ustaz Hafid langsung beristigfar. "Maaf, bukan maksud ...."
"Jahat!"
Nyai Hana dan Kyai Abdullah yang duduk di ruangan keluarga tidak sengaja mendengar keributan di kamar putranya.
"Hafid. Buka pintunya, Nak." Nyai Hana mengetuk pintu kamar pelan, kekhawatirannya semakin menjadi-jadi mendengar isakan tangis menantunya.
Ckelek!
Pintu kamar terbuka.
__ADS_1
"Bah, Ummi, aku mau pulang ke rumah," ucap Cika dan langsung berlari secepat kilat dari hadapan kedua mertuanya. Ia tidak peduli dengan teriakan dari Kyai Abdullah dan Nyai Hana yang membutuhkan penjelasannya.
Ustaz Hafid tidak ingin berbuat apa-apa, hanya bisa memandang punggung Cika yang kian menjauh. Timbul rasa lelah di benaknya, menghadapi sikap Cika yang keras kepala dan sulit sekali untuk mengerti.
"Apa yang terjadi, Fid?" Kyai Abdullah angkat bicara.
"Tidak terjadi apa-apa, Bah. Hafid pergi ke masjid dulu. Sebentar lagi mau maghrib."
...••••...
Ustaz Hafid menghentikan langkahnya, ia memandang ke arah gerbang. Melihat gadis yang sedang berusaha membujuk satpam dengan berbagai cara.
"Pak Dandang, buka dong pintunya."
Sudah kesekian kalinya kalimat permohonan keluar dari bibir Cika kepada Pak Dandang agar ia diizinkan untuk keluar.
"Tunjukkan kartu izin dulu, Neng. Baru bapak akan buka pintunya," sahut Pak Dandang.
Sudah menjadi peraturan di pesantren itu, tanpa ada kartu izin yang diberikan oleh ustaz atau ustazah para santri tidak diperbolehkan untuk keluar. Penjagaan memang sangat ketat di pesantren milik Kyai Abdullah.
Sudut bibir Ustaz Hafid tertarik mendengar ucapan itu. Istri kecilnya seenaknya menjual nama dirinya.
Itulah kenapa alasan utama Ustaz Hafid tidak ingin menyusul Cika, karena tidak akan mudah bagi istrinya itu keluar dengan begitu saja.
Ia memberikan isyarat kepada Pak Dandang melalui kedipan matanya. Pak Dandang yang juga kebetulan melihat kehadiran Ustaz Hafid menganguk paham.
"Woy Pak! Main kedipan sama siapa, sih?" Cika bertanya sengit.
Kesedihannya hilang begitu saja. Sekarang ia kesal dengan pak satpam itu.
Cika mengikuti arah pandang Pak Dandang, terlihat Ustaz Hafid di sana. Ustaz Hafid yang kedapatan buru-buru melanjutkan langkahnya lagi menuju masjid dengan santai. Berpura-pura tidak ikut terlibat.
Bukan Cika namanya, kalau tidak geram dengan sikap Ustaz Hafid. Ia segera berlari kecil ke arah suaminya itu.
__ADS_1
"Dasar Ustaz jahat! Nggak peka!" teriaknya menyumpahi. Ia berdiri tepat di depan Ustaz Hafid. Merentangkan kedua tangannya, tidak memberikan jalan bagi pria itu.
"Mau kabur silakan, tapi sepertinya tidak bisa ...." Ustaz Hafid tertawa mengejek di akhir kalimatnya, membuat kekesalan Cika semakin menjadi-jadi.
"Nanti aku panjat tembok," jawab Cika ketus.
Ia mencubit pinggang Ustaz Hafid dengan keras, meluapkan kekesalannya.
"Ustaz sudah wudhu Cika, jadi batal wudhunya." Ustadz Hafid mengeluh, mengusap pinggangnya yang teramat sakit.
"Aku nggak peduli." Ia mengambil sajadah di tangan Ustaz Hafid, tidak hanya sajadah ia menarik peci hitam yang dipakai oleh Ustaz Hafid.
"Astagfirullah, Cika. Sini sajadah sama pecinya," pinta Ustaz Hafid.
Cika tersenyum miring, menyembunyikan kedua benda itu di belakang punggungnya.
"Apa, mau marah?" sungut Cika.
"Enggak. Jangan salahkan ustaz bila, ustaz memelukmu di sini."
Ustaz Hafid mengunci pergerakan Cika, ingin mengambil peci dan sajadahnya.
"Jangan peluk-peluk!" teriak Cika keras, yang berhasil mengundang perhatian beberapa santri putri yang sedang berjalan juga menuju masjid.
"Sini sajadah dan peci ustaz dulu." Ustaz Hafid tidak mau kalah.
"Nggak akan!"
Cika tetap mempertahankan kedua benda tersebut, meskipun Ustaz Hafid ingin merebut dengan paksa.
"Jangan nakal."
"Biarin." Kedua benda itu hampir terlepas dari tangan Cika. Namun, dengan gerak cepat ia langsung menyiku perut Ustaz Hafid.
__ADS_1
"Aww." Ustadz Hafid merintih kesaktian, ia melepaskan pelukannya.
Cika berlari secepat kilat, senyum kemenangan terbit di bibirnya. "Itu bukan seberapa, Ustaz. Jangan pernah main-main dengan aku," teriak Cika dari kejauhan, Ustaz Hafid telah kalah telak dari dirinya. Ia mengangkat jari jempolnya ke atas lalu diarahkan ke bawah. "Huh ... cemen!"