
Enam bulan kemudian.
"Enggak nyangka, ya, sebentar lagi kita bertiga lulus," kata Cika setelah keluar dari perpustakaan. Ia memandang ke arah Novi dan Dinda secara bergantian.
Ketiga gadis itu berjalan menuju panggung yang akan dihiasi sedemikian rupa untuk acara lulus nanti.
"Iya, banyak sekali pengalaman kita di pesantren ini," sahut Novi mengiyakan.
"Kita juga akan pisah. Mengejar impian kita masing-masing," celetuk Dinda.
Hening. Setelah Dinda mengatakan itu. Rasanya mereka tidak siap. Pengumuman kelulusan tinggal dihitung jari saja. Begitu pun dengan perpisahan mereka, tinggal dihitung jari saja.
"Tapi, aku tetap di sini. Kalian berdua saja yang akan pergi ninggalin aku. Novi akan kuliah ke luar kota. Dan kamu Dinda selamat, ya, dapat beasiswa kuliah ke Kairo Mesir. Huft, rasanya ...."
Novi dan Dinda langsung memeluk tubuh Cika.
"Kami akan sering ke sini kok!" ujar Novi dan Dinda bersamaan.
"Iya, tapi sangat jarang. Kalian pasti sibuk banget dengan berbagai tugas mata kuliah nanti. Aku juga pengin kuliah, ambil jurusan kedokteran. Tapi gitu, takdir Allah tidak mengizinkan. Mungkin aku akan mengajar santri di sini," ucap Cika. Ia menghapuskan air mata di kedua pipi sahabatnya itu. "Kalian kok cengeng, sudah besar juga."
Novi dan Dinda melepaskan pelukannya.
"Kita sahabat sampai kapan pun. Walaupun kita berjauhan pulau bahkan negara. Itu tidak masalah, asalkan kita tetap berkomunikasi dan berdoa satu sama lain. Ayo berjanjilah!" Dinda mengangkat jari kelingkingnya ke atas.
Cika dan Novi tersenyum. Mereka berdua mengangkat jari kelingkingnya juga. Ketiga jari kelingking berbeda ukuran itu saling terkait.
"Janji!" teriak ketiganya bersamaan.
Mereka kembali berpelukan. Setelah itu tertawa terbahak-bahak menghilangkan suasana sedih.
__ADS_1
Hoeeek!
Cika tiba-tiba merasa mual. Ia langsung berlari ke kamar mandi.
Novi dan Dinda saling pandang, cepat-cepat mereka berdua mengikuti Cika dari belakang.
Hoeeek!
Cika kembali memuntahkan isi perutnya.
Dinda mengusap punggung Cika. "Kamu sakit? Atau gimana?" tanyanya khawatir.
Cika tidak menjawab. Ia menunduk sedikit tubuhnya, terus memuntahkan isi perutnya itu.
"Cika kamu telat datang bulan nggak?" Novi bertanya antusias.
Cika menegakkan tubuhnya kembali. "Sudah dua bulan ini nggak," sahutnya sembari mengelap bibirnya dengan tissue.
"Kamu hamil, yes!"
Cika membulatkan matanya mendengar ucapan itu. "Hamil? Kok bisa?" tanyanya bingung.
"Iya. Kamu 'kan sudah ehem ehem sama Ustaz Hafid saat waktu itu, pantaslah hamil cepat," ucap Novi menggoda Cika.
"Apa sih." Cika memandang ke arah lain. Kalau mengingat kejadian itu, ia merasa malu sendiri.
"Kita harus beli testpack dulu. Biar ucapan kita bukan hanya tebakan," usul Dinda.
"Iya sudah. Kami pergi ke apotek dulu. Kamu tunggu di sini sebentar nggak akan lama," ujar Novi.
__ADS_1
Cika mengangguk paham. "Apa aku benar hamil?" gumam Cika mengusap perutnya yang masih datar itu.
Sepuluh menit menunggu. Akhirnya Novi dan Dinda kembali. Testpack sudah ada di tangan mereka.
"Ini," ujar Dinda memberikan testpack itu.
Cika menerimanya dan kembali lagi ke dalam kamar mandi.
"Cika, kenapa kamu lama? Kami penasaran dengan hasilnya." Novi mengetuk pintu kamar mandi pelan.
Cika membuka pintu kamar mandi. "Dua garis biru," katanya dengan wajah ceria dan memperlihatkan testpack itu ke hadapan sahabatnya itu.
Novi dan Dinda kembali lompat-lompat bahagia. Tebakan mereka tidak salah.
"Hei, aku Aunty Dinda! Auntymu yang paling pintar dan yang tercantik setelah ibumu. Selamat datang, Sayang." Dinda membungkuk setengah tubuhnya. Hingga sejajar dengan perut Cika. Ia tidak segan-segan mencium perut sahabatnya itu.
Novi pun melakukan hal yang sama.
"Apa, sih, kalian cium-cium perut aku!" Cika mendorong tubuh Novi dan Dinda untuk jauh-jauh.
"Enggak apa-apa. Itu ciuman welcome dari aunty-auntynya," sahut Novi.
"Enggak boleh, sebelum ayahnya dulu. Sudah, ah, aku mau menelepon suamiku dulu."
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf, ya, akhir-akhir ini author jarang update. Dikarenakan kesibukan di dunia nyata yang begitu padat. Btw, terima kasih sudah membaca cerita receh ini sampai detik ini. Terima kasih semuanya🖤