Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 38 : Hari Spesial, Hari Memalukan


__ADS_3

Jarum jam tepat menunjukkan pukul dua belas malam, Ustaz Hafid sudah terjaga dari tidurnya sepuluh menit sebelum itu, ia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan ucapan selamat atas bertambah usianya istrinya itu. Ustaz Hafid tidak mungkin lupa hari ulang tahunnya Cika, ia hanya berpura-pura saja tidak mengetahuinya sejak kemarin.


Ia menggoyangkan tubuh Cika pelan.


"Mabruk alfa ...." Ucapan Ustadz Hafid tergantung, ketika merasakan kasurnya seperti basah.


Cika menggeliatkan tubuhnya, menguap satu kali. "Tadz, masih ngantuk," ucapnya dengan suara khas bangun tidur.


"Cika, kamu ngompol?"


Bagaikan petir di siang bolong mendengar pertanyaan tersebut, Cika langsung beringsut duduk dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. "Ngompol?" Ia berbalik bertanya. Segera memeriksa celananya, dan benar saja ...


"Celana aku basah, Tadz. Kok aku bisa ngompol? Aku memang sempat mimpi dikejar tuh suster ngesot, dalam mimpi itu aku pipis dalam celana karena takut. Aku nggak tahu kalau itu nyata," ucapnya dengan suara kecil.


Sungguh sangat memalukan!


Kenapa harus ngompol saat situasi ini? Cika sendiri juga merasa bingung. Ia masih tidak bergeming di tempat, menutup wajah malunya dengan sisi selimut. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Apa Ustaz Hafid akan mengomeli dirinya? Seperti seorang ibu yang memarahi anaknya bila ngompol di atas kasur?


Ia pasrah, ia mengaku salah saat ini.


Atmosfer di dalam kamar itu tiba-tiba terasa canggung, Cika masih enggan membuka selimut yang menutupi wajahnya. Embusan napas kasar dan panjang dapat ia rasakan dari pria yang masih berdiri di sampingnya itu.


Ustaz Hafid menghela napas panjang lagi, sudut bibirnya tertarik, tangannya bergerak mengusap kepala istri kecilnya dengan lembut. "Iya udah, sekarang pergi bersihkan diri kamu ke kamar mandi," ucapnya. Tidak ada nada suara kemarahan atau pun jengkel. Rasa cinta dan kasih sayangnya menutup semuanya. Inilah aib dari istri kecilnya, cukup ia yang mengetahuinya.

__ADS_1


Cika bernapas lega mendengar perkataan Ustaz Hafid. "Tadz ...," ucap Cika mengintip sedikit dibalik selimutnya itu. "Nggak marah sama aku?" tanyanya dengan pelan.


Ustadz Hafid menggelengkan kepalanya.


"Nggak," sahutnya cepat dan yakin.


"Nggak jijik atau ilfil gitu?" Cika merasa insecure dengan dirinya sendiri. Masih tak percaya mendengar jawaban pria di sampingnya itu.


"Nggak, cepat gih ke kamar mandi. Biar ustaz bersihkan semuanya."


"Masih takut." Cika beringsut untuk bangkit, ia melilit tubuhnya dengan selimut.


"Hmm. Tidak ada apa-apa. Lain kali kamu jangan lagi nonton film horor! Dasarnya kamu penakut gini," ujar Ustaz Hafid. Menyesal. Karena mengizinkan Cika menonton.


"Ustaz akan bersihkan ini." Ustaz Hafid menunjuk kasur. "Kalau ada apa-apa tinggal panggil ustaz aja," lanjutnya.


"Nggak mau, aku takut," jelasnya lagi tetap keukeh. "Aku panggil ummi dan abah aja untuk nemenin kalau gitu," ucapnya mengancam. Sengaja, supaya Ustaz Hafid mau menemaninya ke kamar mandi.


Ustadz Hafid mengalah, ia menunggu Cika sampai selesai di depan pintu kamar mandi. "Tadz, keran airnya kok mati?" teriak Cika dari dalam sana. Gadis ini memutuskan untuk mandi saja, walaupun sangat dingin sekali mandi di tengah malam. Ia tidak mempunyai pilihan lain.


"Benarkah?" Ustaz Hafid bertanya balik.


"Iya, aku belum selesai mandi," keluh Cika.

__ADS_1


"Buka pintunya, biar ustaz perbaiki."


Cika menuruti instruksi Ustaz Hafid, dengan segera ia membuka pintu kamar mandi.


Gluk. Ustaz Hafid menelan saliva susah payah, melihat tubuh istrinya yang hanya dililit oleh handuk. Benteng pertahanannya lama-lama bisa runtuh kalau seperti ini terus.


"Kenapa belum pakai baju?" tanyanya langsung membuang pandangan ke arah lain. Halal memang memandangnya, tapi ini bukan saatnya. Ustaz Hafid harus menunggu sampai hari kelulusan. Sangat menyiksa dirinya, tapi inilah konsekuensi yang harus diterima.


Cika mengangkat kedua alisnya. "Aku udah bilang belum selesai mandi, Tadz. Kenapa sih lihat aku kayak kaget gitu? Ada yang aneh?" tanyanya. Cika tidak sadar kalau lekuk tubuhnya itu berhasil membuat Ustaz Hafid mikir-mikir yang aneh.


"Hm, nggak ada," sahut Ustadz Hafid tanpa menoleh. Ia memijat sedikit kepalanya, mencoba menjernihkan pikirannya.


"Ustaz, sakit?" Cika bertanya khawatir lalu berjalan mendekat ke Ustadz Hafid.


"Menjaulah!"


"Kenapa sih?!" tanyanya sengit, melihat Ustaz Hafid seperti alergi melihatnya. Karena kesal ia langsung mengentakkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Ustadz Hafid selesai membereskan kran air yang rusak itu. "Eh, kok sudah pakai baju. Emang sudah selesai mandi?" Ustaz Hafid bertanya heran.


Cika yang sedang membersihkan kasur itu menoleh dengan malas. "Udah, mandi pake tissue basah!" sahutnya dengan jutek.


"Lah ...."

__ADS_1


"Kenapa, salah?" sungutnya dengan nada suara tidak suka.


__ADS_2