Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 55 : Kedatangan Sahabat Lama


__ADS_3

Cika baru saja pulang dari kursus memasak hari ini, moodnya begitu bagus hari ini karena hubungannya dengan Ustaz Hafid sudah cukup membaik daripada kemarin setelah Ustaz Hafid berjanji akan mempertemukan dirinya dan Ning Aisyah setelah kembali ke pesantren nanti. Ia sudah hendak masuk ke kamar mandi untuk mandi, tetapi ketukan pintu menghentikan langkahnya.


"Siapa?" tanyanya, dan berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


"Non," panggil wanita paruh baya di ambang pintu kamar. Tak lain adalah ART.


"Ada apa, Bi?" tanyanya penasaran.


"Ada teman, Non, di bawah," jawab ART itu.


Cika mengerutkan keningnya mendengar hal tersebut. "Siapa, Bi? Cewek atau cowok?"


"Cewek, Non. Kalau bibi nggak salah ingat. Itu teman Non yang sering datang dulu ke sini. Au ...."


"Audy ya, Bi?" tebak Cika dengan begitu antusias.


Wanita paruh baya itu mengangguk kecil. Cika tersenyum senang. Ah, ia juga sudah rindu bertemu dengan sahabatnya itu. Dengan cepat, ia mengikat rambut panjangnya asal-asalan dan langsung memakai jilbab instan.


"Bibi, Ustaz Hafid mana?" tanyanya sebelum turun. Takut jika Audy sudah bertemu dengan Ustaz Hafid di bawah. Bisa-bisa habislah riwayatnya.


"Tadi pergi sama ibu, Non. Mungkin ke butik," jawabnya.


Cika manggut-manggut mengerti. Ia mengembuskan napas lega.


"Cika ...!" teriak cempreng gadis rambut sebahu itu. Ia beranjak bangkit berdiri, berjalan dengan cepat ke arah Cika yang masih menuruni tangga itu.


Cika tersenyum lebar. "Audy!" sapanya tidak kalah senang.


Pelukan hangat melepaskan kerinduan antara kedua sahabat yang baru bertemu kembali itu.

__ADS_1


"Kenapa baru datang, Dy? Sudah lupa sama aku?" Cika memalingkan wajahnya, pura-pura marah.


"Sorry. Aku nggak tahu kamu pulang ke rumah."


"Alasan saja, palingan sibuk sama pacar barumu itu," cibir Cika sembari mendudukkan tubuhnya di atas sofa diikuti oleh Audy.


Audy cengir kuda. "Salah satu alasannya emang itu sih," jawabnya, "Btw, penampilan kamu berubah banget, ya."


Cika memanyunkan bibirnya. "Tapi aku tetap cantik," bangganya.


Audy tersenyum mengejek. "Biasa aja. Masih cantik akulah."


"Oh."


Audy menjitak kepala Cika, membuat si empu merintih.


"Dy! Sakit tahu!" ucapnya dengan nada tidak suka. Kebiasaan sahabatnya itu suka sekali menjitak kepalanya.


Cika memutar tubuhnya menghadap Audy sepenuhnya. Sahabatnya itu terlihat serius.


"Apa?"


"Tentang Kak Ivan."


Deg!


Jantung Cika berdegup dengan kencang ketika nama itu terdengar.


"Kak Ivan sepertinya suka sama kamu, Cika. Sejak kamu pindah ke ponpes dia sering nanyain kamu terus ke aku. Kayak orang gila tahu dan sejak itu juga dia terlihat galau terus."

__ADS_1


"Benaran?" Cika bertanya penuh selidik. Memang ia pernah mengidolakan kakak kelasnya itu.


Audy mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai menceritakan panjang lebar. "Iya, aku aja sering risih sih kalau dicari terus oleh Kak Ivan. Kamu tahu 'kan dia itu most wanted di sekolah kita. Fans-nya itu lho, sangat menyebalkan! Hampir setiap hari dia nanyain kabar kamu, kapan kamu pulang. Pokoknya apapun tentang kamu. Aku nggak bisa jawab apa-apa selain bilang nggak tahu."


Cika diam.


"Cika, kok kamu kelihatan nggak senang. Bukannya kamu sudah suka sama Kak Ivan sejak kelas 10? Ini kesempatan, lho."


Cika menggelengkan kepalanya pelan. "Aku nggak suka sama Kak Ivan. Aku hanya kagum dengan segala prestasinya aja. Dia hebat banget." Cika tersenyum tipis.


"Nggak usah bohong, Cika! Jelas-jelas kamu yang bilang suka dulu. Ayolah, jangan bohongi perasaan kamu sendiri begini."


Cika tetap menggelengkan kepalanya cepat. "Dulu memang iya sih, tapi sekarang udah nggak."


"Assalamu'alaikum ...." salam pria yang baru masuk itu.


Percakapan Cika dan Audy seketika berhenti mendengar salam itu. Mereka berdua menoleh ke arah pintu. Cika melebar kedua netranya saat melihat kedua pria yang masuk.


"Wa'alaikumussalam," sahut Audy, sementara Cika hanya menjawab pelan.


Tubuh Cika bergetar hebat.


"Assalamu'alaikum, Cika," sapa ramah pemuda yang menggunakan kemeja navy blue itu. Dan langsung duduk di samping Cika


"Hei, kenapa diam terus?"" Pemuda itu melambaikan tangannya di depan wajah Cika.


Cika tersentak sejenak. "Wa'alaikumussalam. K--ak Ivan, kok bisa di sini?" Cika bertanya gugup.


Bukan gugup karena adanya Ivan. Melainkan karena melihat wajah Ustaz Hafid yang masih diambang pintu itu memandang dirinya dengan tatapan datar.

__ADS_1


"Jaga jarak dari bukan mahram," ucap Ustadz Hafid menasihati. Setelah mengatakan itu pria ini langsung pergi.


__ADS_2