Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 24 : Jangan Pergi, Titik!


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Ustazah Laili, Ustaz Hafid berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Ia tersenyum tipis saat melihat istri kecilnya itu sudah terbangun.


"Ustaz Hafid, aku lapar!" Cika merengek selayaknya anak kecil. Gadis ini memegang perutnya, cacing-cacing di dalam perutnya itu sudah berdemo karena kelaparan.


Ustaz Hafid duduk di bibir ranjang, pria ini mengambil semangkuk bubur buatan umminya yang ada di atas nakas.


"Ustaz suapin, mau?" tanyanya sembari menarik pipi Cika.


Cika menggembungkan kedua pipinya, membuat Ustaz Hafid kian gemas melihat tingkah istrinya itu.


"Bisa nggak jangan tarik pipi aku? Sakit tahu ...," ucapnya kesal, mengusap pipi kirinya yang di tarik Ustaz Hafid.


Ustaz Hafid cengir kuda menanggapinya.


"Sekarang makan, ya, buka mulutmu," titah Ustaz Hafid.


Cika tidak mau menuruti perintah ustadz Hafid, gadis ini masih menutup rapat-rapat mulutnya.


"Kenapa? Tadi ... katanya lapar."


Cika mengambil mangkuk itu dari tangan Ustaz Hafid. "Aku bisa makan sendiri, nggak perlu disuapin, Ustaz."


"Hem, baiklah." Ustaz Hafid hanya bisa memerhatikan Cika yang makan dengan lahap di hadapannya.


"Ustaz, pelaku pencuri uang Kak Ayuni sudah ketemu nggak? Aku takut balik ke asrama lagi. Pasti teman-teman masih membenciku," tutur Cika di sela-sela makannya.


Masih ada raut kesedihan di wajahnya, meskipun ia berusaha menyembunyikan dengan senyuman.


"Selesaikan makan dulu, baru ngomong." Ustaz Hafid memperingati.

__ADS_1


Cika mengangguk paham.


Setelah selesai dengan aktivitas makanannya. Cika beringsut bangkit, membawa mangkuk ke dapur.


"Eh ...." Ia kaget saat ketika ia kembali lagi ke kamar, Ustaz Hafid langsung memeluk tubuhnya.


Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang, ia berusaha memberontak melepaskan pelukan itu. Namun, nihil ia tidak bisa karena Ustaz Hafid memeluk erat tubuhnya.


"Ustaz, aku sulit napas, nih! Lepasin, atau nggak aku teriak," ancam Cika terus memberontak.


"Biarkan seperti ini dua menit saja."


"Tapi ...."


"Kali ini aja, Sayang," bisik Ustaz Hafid di daun telinga Cika.


Bulu kuduk Cika langsung berdiri. Ia merasa geli dengan dirinya sendiri bila ada seseorang pria memanggil dengan sebutan 'sayang'.


Ustaz Hafid tidak menjawab. Pria ini memejamkan matanya, tubuh mungil Cika yang ada di dalam dekapannya sekarang, akan sangat dirindukan saat di Mesir nanti.


"Sudah dua menit, lepasin sekarang."


Ustaz Hafid melepaskan pelukannya, seulas senyum tipis terukir di bibirnya.


"Kenapa pipi kamu memerah, sakit lagi?" Ustaz Hafid bertanya khawatir.


Cika menghadap ke arah lain mengatur mimik wajahnya. Mana mungkin dirinya sakit lagi, pipinya bersemu merah gara-gara dekat dengan Ustaz Hafid.


"Nih, jantung kenapa sih," batin Cika berdecak kesal pada jantungnya itu.


Ia mengambil napas dalam-dalam lalu diembuskan secara perlahan-lahan. Ia memutar tubuhnya menghadap Ustaz Hafid lagi.

__ADS_1


"Ustaz mau kasih tahu sesuatu," ucap Ustaz Hafid dengan serius. Ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang.


"Apa?" tanya Cika penasaran.


"Ustaz akan pergi ke Mesir besok," katanya to the point.


"Pergi ke Mesir?" tanya Cika memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Raut kesedihan tampak di wajahnya.


"Iya. Ustaz di sana dua bulan saja. Ada hal yang harus ustaz selesaikan," jelas Ustaz Hafid.


Cika langsung bungkam seribu bahasa. Meremas ujung jilbabnya.


Ia berjalan ke arah jendela kamar. "Ustaz kok pergi? Aku nggak izinin Ustaz untuk pergi!" ujarnya, tanpa menoleh.


Hening disela-sela obrolan mereka.


"Ustaz cinta sama aku?" tanya Cika membuka keheningan yang terjadi.


"Tentu saja. Kamu istriku."


"Kalau Ustaz cinta sama aku, Ustaz nggak boleh pergi titik!"


"Cuman sebentar, Cika—"


"Nggak boleh pergi pokoknya! Kalau Ustaz tetap pergi aku juga ikut." Ia memotong cepat pembicaraan Ustaz Hafid. Ia berjalan ke arah Ustaz Hafid, kemudian mendudukkan tubuhnya.


"Ustaz sangat ingin sekali mengajak kamu, tapi kamu 'kan harus sekolah." Ustaz Hafid menjelaskan dengan suara lembut, memberikan pengertian kepada Cika.


Cika menggelengkan kepalanya cepat. "Aku nggak mau pisah sama Ustaz. Jangan pergi, ya." Cika bernada suara memohon sekali. Menunjukkan ekspresi melasnya terbaiknya, berharap Ustaz Hafid akan luluh.


Cika menggoyangkan lengan Ustaz Hafid saat tidak ada respons. "Ustaz, jangan pergi, ya," ujarnya sekali lagi.

__ADS_1


"Maaf, ustaz harus tetap pergi."


__ADS_2