
Ucapan shadaqallahul'adzim terucap di bibir Cika. Gadis yang menggunakan jilbab segi empat lebar warna peach itu tersenyum tipis kepada Ustaz Hafid di seberang sana.
Hebat aku 'kan, Ustaz? tanyanya meminta persetujuan. Ia merasa bangga terhadap dirinya sendiri karena sudah bisa menghafal Al-Qur'an. Ia bisa menghafal cukup cepat karena dibantu oleh Nyai Hana. Mertuanya itu mengajarkan dengan penuh kasih sayang dan juga mengajarkan metode mudah untuk menghafal Al-Qur'an.
Iya, sudah lumayan bacaannya, tapi masih ada yang perlu diperbaiki. Jangan cepat merasa puas, terus belajar.
Cika mengangguk paham, ia mengerucutkan bibirnya, saat melihat Ustaz Hafid tertawa cengengesan tidak jelas.
Apa sih yang lucu?
Tidak ada. Ustaz Hafid menjawab masih dengan tawanya.
Jujur, Ustaz! Cika kian geram, coba saja Ustaz Hafid ada di dekatnya, mungkin sudah ia cubit habis-habisan pinggangnya.
Ustaz sudah jujur, Cika.
Huh! Cika mengembuskan napas panjang, kemudian mengangguk malas.
__ADS_1
Ustaz dengar kamu tidak nakal dan telat lagi setelah ustaz pergi. Kamu sudah menjadi santri yang patuh dan disiplin sekarang.
Enggak kok, aku lagi istirahat aja selama dua bulan ini. Mengumpulkan tenaga dulu, ketika Ustaz Hafid pulang nantinya, baru nakal lagi bikin onar terus.
Astagfirullah, anak ini. Ustaz Hafid hanya bisa mengelus dadanya.
Cika hanya tertawa cengengesan. Tak lama ia mengingat satu hal. Lalu, berkata,
Ustaz, aku ingin pulang ke rumah hari ini. Rindu sama ayah dan ibu. Besok aku balik lagi kok, boleh, kan? tanyanya dengan sedikit memohon.
Jujur. Ia sering dilanda kebosanan di pesantren akhir-akhir ini, karena tidak ada orang-orang yang mau berteman dengannya, bahkan untuk sekedar mengobrol saja tidak punya. Kebanyakan waktu luangnya dihabiskan di ndalem, bercerita banyak hal dengan kedua mertuanya dan Ustazah Laili.
Ustaz, please. Kata ummi aku nggak boleh keluar ke mana pun tanpa seizin Ustaz. Dosa kata ummi. Ayolah, aku boleh pulang, ya? Kali ini aja.
Cika merengek, menunjukkan muka melas terbaiknya berharap Ustaz Hafid akan luluh.
Tidak bisa! Kamu diam di pesantren saja. Tunggu sampai Ustaz pulang.
__ADS_1
Huh, egois!
Cika langsung mematikan telepon secara sepihak. Ia sangat kesal dan juga sedih. "Kenapa Ustaz Hafid enggak pernah pengertian?" batinnya melempar handphone itu ke atas kasur.
Ia berjalan ke luar kembali, memberikan handphone itu kepada Ustazah Laili.
"Sudah selesai bicara dengan suamimu, Nak?" tanya Nyai Hana.
Cika hanya mengangguk, moodnya langsung hancur. Gadis itu berjalan malas-malasan menuju asrama putri.
"Eh!" ucapnya kaget saat seseorang melempar kertas ke arahnya. Ia menengok ke kiri dan kanan, tetapi tidak ada siapa-siapa. Merasa penasaran sendiri ia membungkukkan setengah badannya, kemudian mengambil kertas kecil yang dilipat di lantai, lalu membuka kertas yang dilipat itu.
"Ta'aruf ma'ak." Itulah tulisan yang ada di dalam kertas itu. Di ujung surat tertera nama pengagum rahasiamu.
"Artinya apa, ya?" gumam Cika bertanya pada dirinya sendiri. Bingung, ia benar-benar bingung.
Netra hitamnya, bertubrukan dengan seorang pemuda yang berdiri beberapa meter dari hadapannya, tepatnya di kawasan santri putra. Pemuda itu cepat-cepat pergi saat Cika melihatnya. "Apa dia yang melempar barusan?" gumamnya lagi terus menebak-nebak.
__ADS_1
Tidak mau mengambil pusing dengan arti surat itu, Cika langsung membuang kertas itu ke tempat sampah. Ia sedikit penasaran, tetapi rasa kesal terhadap Ustaz Hafid sekarang lebih mendominasi dirinya.