Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 59 : Perbincangan Malam Pasutri


__ADS_3

Suara bersin berkali-kali terdengar dari pria yang duduk di hadapannya itu. Cika yang baru selesai mengaji itu menutup mushaf di tangannya. Ia mendongak menatap wajah Ustaz Hafid.


"Ustaz, sakit?" Cika bertanya khawatir.


"Cuma flu biasa. Mungkin efek karena basah kuyup hujan tadi," jawab Ustaz Hafid. Pria ini ikut menutup mushaf di tangannya.


Cika menaruh punggung tangannya di kening Ustaz Hafid. "Astaga ini panas, Ustaz sakit," ucapnya panik. Cika menarik lengan suaminya itu menuju tempat tidur. Ia segera melepaskan mukenah dengan begitu terburu-buru. "Ustaz Hafid harus segera istirahat," lanjutnya.


Ustaz Hafid menuruti. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Ini salah aku. Gara-gara nyuruh, Ustaz, terobos hujan." Cika merasa menyesal.


Ia segera menyelimuti setengah tubuh Ustaz Hafid. "Ustaz butuh sesuatu? Mau minum teh atau susu? Mau minum obat?" tanyanya beruntun.


Ustaz Hafid menggeleng pelan. Tidak menyangka istri kecilnya itu perhatian juga.


"Aku mau telepon ayah suruh pulang cepat. Biar Ustaz Hafid bisa diperiksa dan disuntik."


Ustaz Hafid menahan tangan Cika. "Nggak usah. Besok pagi insyaAllah sudah membaik, ustaz cuma butuh istirahat sekarang."


"Beneran nggak apa-apa?" tanya Cika tak sepenuhnya percaya.


"Iya."


Ustaz Hafid tersenyum menyakinkan kepada istri kecilnya itu bahwa kondisinya tidak perlu dikhawatirkan. Ia menarik tubuh mungil Cika untuk tidur di sampingnya.


"Hem." Cika berdehem singkat tidak suka dengan posisinya sekarang, di mana ia jatuh di atas tubuh Ustaz Hafid.


"Boleh?" Ustaz Hafid meminta izin.


Cika mengerutkan kedua alisnya. "Boleh apa?"

__ADS_1


Ustaz Hafid menunjuk pipi Cika. "Itu."


"Untuk?"


"Ehem." Ustadz Hafid malu untuk mengatakannya. "Nggak jadi," lanjutnya.


Cika tertawa cengengesan melihat wajah malu Ustaz Hafid. Dengan gerak cepat ia memberikan kecupan singkat di pipi kanan Ustaz Hafid. "Bilang gitu saja susah," ucapnya.


Ustaz Hafid terdiam. Ia tidak mimpi kan apa yang terjadi barusan?


Cika segera tidur dengan posisi seperti biasa. Ia juga tidak tahu kenapa kembali tergoda dengan pipi suaminya itu.


Ustaz Hafid menyingkirkan bantal guling yang membatasi mereka.


"Terima kasih," kata Ustaz Hafid, sembari mengacak-acak rambut panjang milik istrinya itu dengan gemas.


Cika menutupi wajahnya dengan kedua tangannya menyembunyikan rona merah.


"Oh, tidak apa-apa. Khilaf berkali-kali pun ustaz tidak akan marah. Malah, ustaz menyukainya," jawab Ustaz Hafid dengan senyuman manis terbit di bibirnya.


Cika mencebik kesal mendengar jawabannya itu. "Mesum," umpatnya dalam hati, tapi berselang lama ia kepikiran sesuatu untuk ditanyakan ke Ustaz Hafid.


"Apa Ustaz Hafid tidak pernah tergoda dengan aku?" Pertanyaan tersebut sudah beberapa hari terakhir ini berputar di pikirannya.


Ustaz Hafid tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Tanpa ditanya pun jawaban pasti tergoda. Hanya saja ia sangat pandai melawan napsu itu.


"Sedikit," jawabnya berbohong. Ia berpura-pura tidak tertarik dengan obrolan itu. Agar pertanyaan Cika tidak melebar kemana-mana.


"Terus, bagaimana Ustaz melawannya?"


"Berpuasa."

__ADS_1


Cika mengangguk. "Ustaz, apakah aku berdosa selama ini karena tidak melayani ...."


Ustaz Hafid menaruh telunjuknya di bibir mungil Cika supaya istrinya berhenti berbicara. "Kenapa topik pembicaraan kita ke sini?"


Cika menelan ludah. "Aku hanya ingin tahu hal itu, Tadz," jawabnya.


"Tujuan pernikahan pada dasarnya memang untuk mendapatkan keturunan dan memenuhi hasrat biologis setiap manusia. Tapi, ustadz tidak akan pernah memaksakan hak itu selama kamu belum siap." Ustaz Hafid menjelaskan dengan suara pelan.


"Tapi, aku tetap berdosa."


"Nggak. Ustaz pun belum benar-benar juga menginginkannya."


Cika diam, kemudian hanya mengangguk saja.


"Suatu hari ustaz akan memintanya. Ustaz harap di saat itu kamu sudah benar-benar siap," ucap Ustaz Hafid. "Di kelas tiga nanti kamu akan belajar isi kitab qurrotul uyun. Kamu akan tahu bagaimana melakukan jima' menurut islam."


"Ustaz ...."


"Sudah, sekarang tidur," potong Ustaz Hafid cepat. Ia menyelimuti tubuh Cika. "Ustaz, sudah sangat dan sangat mengantuk," lanjutnya.


Cika memanyunkan bibirnya. Padahal masih banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan.


"Peluk!" Cika merengek.


Ustaz Hafid yang hampir saja terlelap itu membuka matanya pelan. Ia menggeserkan tubuhnya. Kemudian, memeluk tubuh Cika.


"Ustaz," panggil Cika, ia belum benar-benar mengantuk. Ingin mengobrol lebih lama lagi.


"Tidur, Sayang."


Cika yang berada dalam dekapan Ustaz Hafid itu mengangguk malas. "Baiklah," jawabnya pasrah.

__ADS_1


__ADS_2