Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 26 : Permintaan Maaf


__ADS_3

Cika meninggalkan Ustaz Hafid, ia tetap membawa peci dan sajadah milik suaminya itu.


Baru satu langkah, ia masuk ke dalam asrama putri. Teman-temannya langsung memeluk tubuh dirinya dengan erat.


"Maafkan kami, Cika."


"Kami sudah memfitnah kamu."


"Kami benar-benar menyesal."


Ucapan permintaan maaf terus terlontar dari teman-temannya. Mereka tidak segan-segan menangis dipelukan Cika. Sungguh mereka sangat menyesal.


Cika terharu, gadis ini ikut meneteskan air matanya. "Aku sudah maafin kalian kok," ucapnya dengan seulas senyum tipis.


Mereka semakin mempererat pelukannya.


"Sudah, ah, sesi menangisnya," ucap Cika tidak mau terlarut dalam kesedihan, ia melepaskan pelukannya.


"Maaf Cika, kami cuman takut kamu masih marah," sahut salah satu dari mereka.


"Nggak kok, santai saja kalau sama aku," jawab Cika tersenyum.


"Iya sudah kami ke masjid duluan. Kamu cepatan, yah."

__ADS_1


"Iya, aku sebentar lagi nyusul kok."


Para santri putri lainnya segera pergi. Tinggal Novi dan Dinda yang ada dalam asrama.


"Cika ...," Suara Novi dan Dinda terdengar sendu. Mereka berdua benar-benar merasa sangat bersalah karena tidak mempercayai Cika.


Cika tidak menghiraukan panggilan itu, ia berjalan ke lemarinya lalu mengambil mukenah. Peci dan sajadah milik Ustaz Hafid ia simpan di dalam lemari itu.


"Maafin kami." Novi dan Dinda berjalan mengekor di belakang Cika.


"Nggak."


"Lah, kok gitu sih, Cika? Yang lainnya kamu maafin, kami kok nggak?" tanya Novi tampak tidak terima.


Novi dan Dinda menarik lengan Cika, kedua sahabatnya itu merengek minta maaf.


"Cika, aku sebenarnya percaya sama kamu, tapi Novi aja yang menjadi setan, dia terus menggodaku untuk menuduhmu juga. Jadi, aku ikut-ikutan saja," jelas Dinda mencoba meyakinkan.


"Mana ada, jangan nyebar fitnah kamu, Din," bantah Novi tidak terima.


"Benar kok. Kamu saja yang percaya sama sih Kak Ayuni yang nyinyir itu, Vi. Aku 'kan kalem."


"Huh, dasar, main salahin orang. Aku mana tahu." Novi mencebik kesal.

__ADS_1


Cika memandang malas, telinganya terasa panas mendengar perdebatan yang terjadi antara kedua sahabatnya itu. "Berisik!"


"Cika sudah dong marah-marahnya. Suer, kami benar-benar menyesal." Novi berdiri di depan Cika. Melipatkan kedua tangannya di depan dada. "Please ... maafin kami," ucapnya memohon.


"Iya betul kata Novi, maafin kami Cika. Allah saja maha pemaaf kepada umatnya. Masa kamu nggak." Dinda terus membujuk.


Cika mengembuskan napas panjang. "Iya, iya aku maafin kok," ucapnya. Ia kembali melanjutkan, "Eits ... ada syaratnya."


"Apa syaratnya?" Novi dan Dinda bertanya tidak semangat. Sahabatnya itu selalu saja ada maunya.


"Kerjain tugas aku. Bagaimana Din, Vi?" tanya Cika, ia tersenyum lebar sekali.


"Tugas apa?" tanya Novi dan Dinda bersamaan.


"Tugas mencatat, terus tugas matematika," sahut Cika antusias. "Novi kamu kerjain tugas matematika aku, kalau Dinda mencacat saja karena tulisannya bagus," sambungnya lagi. Dengan seenak jidatnya ia menyuruh kedua sahabatnya itu.


Novi dan Dinda diam sejenak, menimang-nimang keputusannya.


"Huft, baiklah, kali ini aja," tutur Novi pasrah.


Cika ber 'iyes' kegembiraan dalam hatinya.


"Oke, terima kasih. Makin sayang sama kalian berdua." Cika melangkah kakinya kembali menuju masjid. Meninggalkan kedua sahabatnya itu yang masih mematung di tempat.

__ADS_1


Dinda dan Novi hanya saling beradu pandang. Mereka berdua tahu itu semuanya hanya akal-akalan Cika saja.


__ADS_2