
"Iya benar, aku belajar dengan Ustazah Laili. Kalian tahu 'kan aku masih awam akan ilmu agama." Cika mencoba menjelaskan secara detail dengan rangkaian kata-kata hasil karangan di kepalanya. Memang keluarga besar Ustaz Hafid untuk sementara waktu memilih menyembunyikan dulu pernikahan ini, mereka melakukan itu karena permintaan Cika sendiri.
"Huft, hampir saja," gumam Cika mengucapkan syukur.
Novi dan Dinda mengangguk paham. Setelah itu mereka bertiga berjalan bersama menuju asrama putri.
"Bantu aku nyuci, ya," pinta Cika memohon pada Novi dan Dinda. Kini ia sudah memegang setumpuk pakaiannya. Ia sudah terbiasa mencuci pakaian menggunakan mesin cuci di rumahnya, berbeda dengan pondok. Itu pun dilakukan oleh ibunya. Ia tipe gadis yang manja. "Din, Vi. Ayolah!" Ia merengek seperti anak kecil kepada kedua sahabatnya itu.
"Iya, kami akan bantu kok," jawab Dinda.
"Makin sayang sama kalian berdua, baik banget sama aku." Cika memeluk tubuh kedua sahabatnya itu.
"Kita bertiga sahabat, harus saling tolong menolong. Suka dan duka kita hadapi bersama, Cika." Novi mengeratkan pelukannya.
Tidak butuh waktu lama ke tiga gadis itu selesai mencuci pakaian. Mereka duduk di kursi besi yang ada di taman pondok sambil memakan camilan.
"Itu-itu bukannya Ning Aisyah, Vi?" tunjuk Dinda ke arah parkir.
Sorot mata Cika dan Dinda mengikuti arah tunjuk Dinda.
"Nggih, makin cantik Ning Aisyah," jawab Novi menyetujui.
Cika melihat dari kejauhan wanita yang bernama Ning Aisyah itu yang sedang berjalan bersama Ustazah Laili dan diikuti oleh pria paruh baya yang sepertinya ayahnya. "Siapa Ning Aisyah itu?" tanya Cika penasaran.
Novi dan Dinda menaruh wajah sedih.
__ADS_1
"Calon istri Ustaz Hafid, Cika," jawab Novi bersedih. Harapannya ingin menikah dengan ustaz muda itu akan segera pupus saat mengetahui Ustaz Hafid sudah melamar Ning Aisyah.
Uhuk!
Uhuk!
Cika langsung keselek makanan mendengar itu. Dinda buru-buru memberikan botol minuman ke Cika.
"Benar, kamu tidak bohong, Vi?" tanya Cika sekali lagi.
"Aku bicara jujur Cika, yah ... wajarlah Ustaz Hafid melamar Ning Aisyah, seraya Ning Aisyah sudah hafal 30 juz Al-Qur'an, sama seperti Ustaz Hafid. Keluarga mereka juga dekat dari dulu."
"Ya, kita mah jauh banget, Cika. Aku sangat cemburu pada Ning Aisyah itu. Sudah cantik, pintar lagi. Wanita idaman banget, mah," sahut Dinda dengan sendunya juga.
"Kalau nggak percaya tanya langsung ke Ustaz Hafid," tutur Dinda, "Kamu patah hati juga seperti kami?"
"Nggak!" sahut Cika ketus.
Novi memeluk tubuh Dinda, kedua gadis itu terlihat sangat lebay di mata Cika sekarang.
"Bentar lagi akan nikah tuh ustaz, Din. Padahal aku sudah ngarep banget."
"Aku juga, Vi."
"Coba ceritakan ke aku tentang hubungan Ustaz Hafid dengan wanita itu," pinta Cika.
__ADS_1
Novi melepaskan pelukannya. Ia menatap lurus wajah Cika. "Tumben kepo sama Ustaz Hafid. Kamu mulai suka juga, ya?"
"Nggak kok, pengin tahu aja, Vi."
Novi menarik napas dalam-dalam sebelum bercerita. Novi dan Dinda tidak akan ketinggalan informasi bila menyangkut dengan Ustaz Hafid.
"Gitu ya, ceritanya." Cika menundukkan kepalanya setelah Novi menceritakannya.
"Iya."
"Kenapa aku jadi sedih begini? Seharusnya kan senang Ustaz Hafid nikah lagi, dan aku bisa bebas dari pernikahan gila ini," batinnya. Baru satu hari juga ia menyandang status istri dari seorang Muhammad Hafid Febriansyah. Ia sudah mengetahui kenyataan pahit saja.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar." Cika berlari secepat kilat dari hadapan Novi dan Dinda.
Sampai di kamar mandi, Cika mencoba menepis perasaan yang sulit dijelaskan. "Aku tidak cemburu, aku tidak cemburu. Aku nggak suka sama Ustaz Hafid! Nggak suka!" tegasnya.
Namun, sepertinya ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, air matanya tiba-tiba luruh tanpa diminta. Ia menyenderkan tubuhnya ke dinding. Perlahan-lahan tubuhnya jatuh di ubin keramik.
"Aku nggak mungkin cemburu, kan? Dan nggak mungkin juga suka sama tuh ustaz?" katanya masih berusaha tidak mengakui perasaan yang ada. Ia menyembunyikan kepalanya di lekukan lututnya.
Setelah puas menangis di kamar mandi, ia segera membasuh wajahnya. Matanya sungguh sembap akibat menangis berlebihan.
"Aku nggak akan peduli lagi," batin Cika sembari berjalan keluar dari kamar mandi.
Ia pun tersenyum kecut saat melihat Ustaz Hafid berjalan beriringan dengan Ustazah Laili tak lupa dengan Ning Aisyah itu. Dan membuat ia kian geram saat laki-laki berpeci itu hanya memandang sekilas ke arah dirinya. Ingin sekali ia mencakar-cakar muka Ustaz Hafid meluapkan kekesalannya.
__ADS_1