Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 18 : Dihukum Bersama


__ADS_3

Cika, Novi dan Dinda berdiri di tiang bendera, meraka berbasis sejajar. Kepala mereka bertiga mendongak ke arah bendera merah putih yang berkibar sembari hormat.


"Maafin aku, ya. Kalian berdua jadi ikut-ikutan terkena hukum juga," ucap Cika yang tiba-tiba saja merasa bersalah karena sudah mengajak kedua sahabatnya itu untuk ikut-ikutan mencuri mangga.


"Jangan bilang gitu, Cika. Kami berdua begini karena kami salah juga," sahut Novi tanpa menoleh.


"Benar, jadi kamu jangan merasa bersalah!" timpal Dinda. "Kalau dihukum barengan gini, enggak kerasa juga hukumannya," lanjutnya.


Cika tertawa mendengar ucapan Dinda begitu pun Novi. Tak lama ekor mata Cika melirik ke arah Ustaz Hafid yang memantau dari bawah pohon. "Sungguh ustaz begitu jahat!" gumamnya tersenyum lirih. Ia mengira Ustaz Hafid tidak akan peduli ia mencuri mangga tadi, tetapi ternyata salah. Bahkan setelah ia sampai di asrama membawa buah mangga yang dipetik, Ustaz Hafid sudah berdiri di depan asmara menunggu dan langsung memanggil dirinya, Novi dan Dinda ke ruangan. Dan iya, ujung-ujungnya mendapatkan hukumannya juga.


"Aku capek banget, Vi, Din," ucap Cika mengeluh. Ia membungkukkan tubuhnya, sungguh tubuhnya sudah merasa pegal. Wajar saja ia merasakan hal itu karena sudah hampir dua puluh menit ia dan kedua sahabatnya itu berdiri di bawah terik matahari.

__ADS_1


"Lima menit lagi, Cika. Bertahan sebentar, daripada nanti ditambah," ucap Novi berusaha mencegah.


Namun, sepertinya bukan Cika kalau tidak keras kepala. Ia langsung duduk, meluruskan kedua kakinya. Ia berkata, "Akh, enggak bisa. Aku enggak kuat lagi berdiri, Vi."


"Sabar, ini konsekuensi juga yang harus kita terima. Ini aja belum selesai hukumannya, kita harus bersihkan kamar mandi berturut-turut sampai seminggu, huft." Dinda ikut mengeluh.


"Setelah kejadian ini aku juga trauma melakukan pelanggaran lagi. Cukup satu kali dalam seumur hidup aku," sahut Novi, ikut-ikutan mengeluh.


"Dinda, Novi, kalian bisa kembali ke asrama untuk istirahat sebentar, hukuman pertama ustaz anggap tuntas, setelah itu lanjutkan hukuman selanjutnya," ucap Ustaz Hafid yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang mereka ketiga.


"Ustaz tidak menyuruhmu pergi, kamu masih tetap di sini. Hukuman yang ini belum tuntas!" tegas Ustaz Hafid.

__ADS_1


Cika tak membantah, ia segera hormat lagi ke tiang bendera.


"Kalau abah, umi, ibu dan ayah mengetahui ustaz beginian aku, mereka pasti akan marah besar pada Ustaz. Jahat! Jahat!" ucap Cika tanpa memandang ke arah Ustaz Hafid, ia terus-menerus menyumpah serapah pria berpeci yang masih berdiri di sampingnya itu.


"Jangan coba melibatkan urusan keluarga di sini. Ustaz menghukummu karena kesalahan yang kamu buat sendiri."


"Tetap jahat!" ketus Cika.


"Justru kamu yang jahat pada dirimu sendiri!" Ustaz Hafid tak mau kalah.


Perdebatan sengit di antara mereka berdua terus terjadi. "Tuh, calon istri Ustaz yang baru sudah datang!" ucap Cika ketus saat melihat Ning Aisyah bersama Ustazah Laili berjalan beriringan. Ia tersenyum pahit, kembali melanjutkan, "Kenapa tidak disamperin?" tanyanya tertawa sumbang.

__ADS_1


"Fokus pada hukumanmu, jangan terus mengarang cerita yang tidak-tidak."


"Oh sudahlah, tetapi ingat! Sampai detik ini aku belum maafin Ustaz Hafid!" Cika langsung pergi begitu saja dari lapangan, tidak peduli lagi Ustaz Hafid yang meneriaki dirinya untuk kembali.


__ADS_2