Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 36 : Hilang Kendali


__ADS_3

Kyai Abdullah dan Nyai Hana, menyambut kepulangan Ustaz Hafid di ambang pintu rumah. Tidak lama, mobil sedan hitam itu tiba di pesantren.


"Assalamu'alaikum, Bah, Ummi," salam Ustaz Hafid. Ia langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu secara bergantian.


"Wa'alaikumussalam, Nak," sahut keduanya bersamaan.


"Abah dan Ummi kondisinya baik-baik saja?" tanya Ustaz Hafid.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Kami baik-baik, Nak," jawab Nyai Hana.


Mereka semua berjalan masuk ke ndalem, sementara Cika masih ada di dalam mobil. Gadis itu tetap keukeuh tidak mau keluar, padahal Ustaz Hafid sudah berusaha membujuk dengan berbagai cara.


"Sampai kapan betah di dalam mobil?" tanya Ustaz Andre, ia kembali ke dalam mobil karena kelupaan handphonenya.


"Sampai Ustaz Hafid mengetahui besok hari apa," jawab Cika tanpa menoleh.


"Jawaban Hafid benar 'kan, besok hari isnaini. Kenapa kamu begitu keras kepala?"


"Sudahlah, Ustaz. Pergi sana, Ustaz Andre dan Ustaz Hafid sama saja, nggak ngerti dan kurang pintar!" usir Cika terang-terangan, ia mengibaskan tangannya mengusir Ustaz Andre supaya meninggalkan dirinya.


Ustaz Andre hanya bisa tersenyum kecil, lalu pergi. Ia ikut gemas melihat tingkah aneh Cika.


Satu jam, bahkan dua jam berlalu Cika masih betah di dalam mobil. Ustadz Hafid dilanda kebingungan, bagaimana membujuk istri kecilnya yang keras kepala itu.


"Cika, katanya lapar tadi, gih kita makan. Ustaz suapin," tawarnya dengan begitu ramah. Tangannya bergerak ingin memegang lengan Cika, tetapi hanya tepisan bahkan pukulan yang didapatkan. Ia harus memiliki kesabaran yang lebih dan lebih lagi menghadapi istrinya itu.


"Nggak usah, laparnya udah hilang," sahut Cika tanpa menoleh ke arah Ustadz Hafid.


"Jangan keras kepala. Kamu punya riwayat penyakit maag."


"Biarin. Ustaz Hafid harus tahu pokoknya besok hari apa, aku baru keluar!" ucapnya kembali.

__ADS_1


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang, ia kembali masuk ke dalam meminta bantuan umminya untuk membujuk Cika. Hanya umminya itu yang bisa membujuk Cika agar keluar untuk saat ini.


Dan akhirnya dengan penuh keterpaksaan, Cika mengalah untuk turun, ia tidak merasa nyaman juga apabila mertuanya memohon pada dirinya.


"Ustaz Hafid, benar-benar tidak peka. Mungkin saja dia memang tak mengingat hari ulang tahunku," batinnya, ia mengepal tangannya ketika melihat Ustaz Hafid tersenyum kemenangan di hadapannya.


****


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ustaz Hafid berjalan masuk ke kamarnya, pria ini baru saja keluar dari masjid. Cukup lama ia berzikir sendirian di dalam masjid.


"Cika, tidur sama ustaz malam ini, yah," ucapnya. Ustaz Hafid mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang, netra hitamnya menatap wajah Cika dengan intens. Istri kecilnya itu tengah sibuk mengutak-atik handphonenya, entahlah apa yang dilakukan.


Cika bersikap acuh, tidak ingin menjawab. Sejak pulang dari bandara, moodnya sudah hancur, mulutnya tertutup rapat bila berbicara dengan Ustadz Hafid. Kecewa. Ia benar-benar kecewa, tidak hanya Ustadz Hafid yang tidak mengingat bahwa besok hari ulang tahunnya. Mertuanya dan kedua sahabatnya sama saja.


"Cika."


"Cika."


"Sayang."


Cika beringsut duduk, handphone Ustaz Hafid dimasukkan ke dalam saku gamisnya. Ia masih belum memeriksa seluruh media sosial Ustaz Hafid. Terutama pesan-pesan yang ada.


"Tidur aja sendiri," sahut Cika dengan jutek.


Mendengar hal tersebut, Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang. "Ustaz akan menuruti apa pun kemauanmu. Tapi, maafkan ustaz bila salah."


Netra Cika berbinar bahagia mendengar ucapan tersebut. "Beneran, apa pun kemauan aku Ustaz akan penuhi?" Cika bertanya penuh semangat.


Ustaz Hafid mengangguk lemah.


"Oke, cuma satu kok permintaanku, Tadz. Kita mabar, ya," ucapnya dengan semangat. Sudah lama ia tidak lagi memainkan game yang sedang trend dikalangan remaja saat ini.

__ADS_1


"Mabar?" Ustaz Hafid mengerutkan keningnya mendengar hal tersebut.


"Iya, main bareng, Tadz. Aku udah download aplikasinya di handphone Ustadz," jawabnya dengan penuh semangat, "Ustaz, pinjam handphone Ustazah Laili dulu sana," lanjutnya dengan seenaknya menyuruh. Tidak sabar bagi dirinya untuk bermain game lagi, ia dulu sebelum masuk ke pesantren adalah seorang gamer.


Ustaz Hafid menggelengkan kepalanya pelan. "Ustaz tidak mengizinkan kamu main game! Itu tidak ada keuntungannya, lebih banyak mudharat yang ada!" ujar Ustadz Hafid, pria ini langsung mengambil handphone di dalam saku gamis Cika, "Mendingan kamu banyak baca Al-qur'an, dan kegiatan yang bermanfaat lainnya," lanjutnya lagi.


"Huh ... Ustaz ingkar janji, barusan bilang apa pun keinginanku akan dituruti," cibir Cika.


Cika segera mencegah tangan Ustaz Hafid yang ingin menghapus aplikasi game tersebut. Ia sudah sempat main sebentar, ranknya sudah dalam posisi lumayanlah. "Tadz, jangan hapus dong. Aku sudah susah payah naikkan ranknya, malam ini aja kok aku main," rengek Cika.


"Kali ini ustaz tidak mau menuruti kemauan kamu. Ini akan memberikan candu bagimu, Cika," jawab Ustaz Hafid tidak mau luluh begitu saja. Ustaz Hafid segera menghapus aplikasi itu.


"Aku nggak melampaui batas mainnya, Tadz. Ustaz tahu banyak piagam penghargaan yang aku dapatkan, pundi-pundi uang juga aku dapatkan dari main game."


"Tetap, tidak baik!"


"Terserah Ustaz aja, deh," ucap Cika dengan kekesalan yang begitu dalam. Kekesalan Cika makin menjadi-jadi, melihat pintu kamar sudah dikunci dan kuncinya ada di tangan Ustaz Hafid.


"Sini kuncinya, Tadz! Aku nggak mau tidur sama Ustadz! Jangan maksa."


"Malam ini aja," sahut Ustaz Hafid terdengar membujuk, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Aku tidak mau, aku tetap tidur di asrama."


"Kenapa susah sekali untuk kamu menuruti keinginan ustaz satu kali aja?"


"Ustaz sendiri begitu juga, kan, sama aku?" Cika bertanya balik tak mau disudutkan begitu saja.


"Hmm." Ustaz Hafid hanya bisa berdehem singkat setelah itu.


Cika mengulurkan tangannya ke hadapan Ustaz Hafid "Kunci kamar, aku mau keluar," ucapnya tanpa memandang ke lawan bicaranya. "Akh!" teriaknya spontan saat tiba-tiba tangannya ditarik paksa, refleks saja ia jatuh ke dalam pelukan Ustaz Hafid. "Jangan cari kesempatan," ucapnya, ia mencoba bangkit, tetapi Ustaz Hafid menahan.

__ADS_1


"Sepertinya kamu memang perlu dihukum lebih dari hukuman dari biasanya."


Cika langsung diam membeku ketika Ustaz Hafid mengecup singkat pipi kanannya. Kesadaran Cika nyaris hilang saat itu juga. Beberapa menit kemudian ia langsung tersadar dan segera memberontak ingin dilepas. "Ustaz Hafid, jangan macam-macam! Ustaz harus ingat perjanjian kita!" tegasnya. "Ummi, abah!" Ia berteriak sekencang-kencangnya di dalam kamar itu ketika tangan Ustaz Hafid mulai kehilangan kendali di tubuhnya.


__ADS_2