
Setelah selesai salat subuh, Cika duduk di sisi ranjang. Wajah gadis ini sedih. Sampai pagi ini juga belum ada satu orang pun yang mengucapkan selamat ulang tahun pada dirinya.
Tidak terasa sudut mata gadis ini menitikkan air mata. Biasanya kalau di rumahnya, ayah dan ibunya akan memberikan surprise. Namun, kali ini berbeda. Benar-benar berbeda. Krek. Pintu kamar terbuka, ia buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya saat melihat Ustaz Hafid masuk ke kamar.
Ustaz Hafid yang baru masuk kamar itu mengerutkan kedua alisnya. Khawatir. Melihat wajah istrinya kecilnya itu tampak begitu menyedihkan..
"Kenapa, Cika?" tanyanya, lalu duduk di samping istri kecilnya.
Cika hanya menoleh, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kebiasaannya mulai lagi, menjadi bisu. Ada apa?" Ustaz Hafid tak mau menyerah, ia menarik lembut pipi kiri istri kecilnya itu.
Cika menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskan lagi. "Ustaz, benar-benar enggak ingat kalau hari ini, adalah hari ulang tahunku?" tanyanya dengan suara sendu. "Tapi, sudahlah. Untuk apa juga aku berharap," lanjutnya lagi.
Ustaz Hafid menepuk jidatnya mendengar ucapan itu, akibat kejadian istri kecilnya itu mengompol. Ia jadi lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun.
Ustaz Hafid menggenggam kedua tangan Cika. Lalu, jari jempol dan telunjuknya mengapit dagu Cika, kemudian diangkat perlahan-lahan agar mau menatapi dirinya. "Ustaz nggak lupa, mabruk alfa mabruk. Barakallah fii umrik, istriku. Yeah, udah tambah besar. Semoga saja nggak ngompol lagi." Ustaz Hafid mengacak-acak rambut Cika dengan gemas. Tertawa kecil mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Cika mengembungkan kedua pipinya. "Palingan Ustaz lupa. Ustaz baru ingat, 'kan, setelah aku ingatin?" tanyanya. Ia menyingkirkan tangan Ustaz Hafid dari pipinya. Kenapa pria itu suka sekali mengelus pipinya, dirinya jadi merasa geli sendiri.
"Nggak. Semalam ustaz sudah mau ngucapin. Tapi, kamu ngompol. Terus nggak jadi, dan ustaz lupa," ucap Ustaz Hafid mencoba menjelaskan sejujur-jujurnya.
"Hanya ngucapin, nggak ada kue ulang tahun atau adegan tiup lilin gitu?" tanya Cika penuh harap. Biasanya ia dikasih surpise seperti itu.
Ustaz Hafid tersenyum simpul mendengarnya. "Agama kita melarang hal itu Cika. Karena itu menyerupai tradisi umat non-muslim. Tradisi tersebut juga sering dilakukan oleh kaum yahudi dan nasrani. Untuk itu Allah Subhanahu Wata'ala, dan Rasullullah sangat melarang keras seorang muslim untuk menyerupai dengan suatu kaum, karena bila itu terjadi, kita akan termasuk dari bagian kaum itu," jelas Ustaz Hafid.
Cika menggangguk paham. "Berarti perayaan ulang tahun nggak boleh dong, Tadz?" tanya Cika penasaran.
"Boleh, tapi lebih ke hal yang bermanfaat saja. Jika ingin merayakannya lakukanlah dengan cara islam yakni undang anak-anak yatim piatu, kasih mereka makan. Itu lebih bermanfaat dan mendapatkan pahala," jelas Ustaz Hafid lagi. Ia kembali melanjutkan,
Moment berkurangnya umur pun dapat kamu jadikan sebagai moment untuk bermuhasabah, apakah kiranya yang akan kamu lakukan di sisa hidup kamu dalam ketaatan kepada Allah. Sekarang ustaz mau tanya. Selama tujuh belas tahun ini kebaikan apa yang sudah kamu lakukan untuk kedua orang tua, dan tentunya Allah?" tanya Ustaz Hafid dengan suara yang begitu lembut, ia memandang intens wajah istrinya kecilnya itu.
Cika menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak ada sepertinya, Tadz. Aku sering sekali membuat ibu dan ayah marah, ngebantah perintah mereka terus, salat pun baru aku lakukan kembali sejak masuk pondok pesantren ini. Hamba macam apa aku ini, huft ...," sahutnya. Suara Cika terdengar sedih, mengingat dosa-dosa yang dilakukan.
Ustaz Hafid menarik tubuh Cika ke dalam dekapannya. "Allah penerima taubat Cika. Nah, sekarang maksimalkan umur kamu dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik, dan beribadah kepada Allah. Untuk jadi bekal kamu di akhirat kelak. Jangan nakal terus."
__ADS_1
Cika membalas pelukan hangat suaminya itu. "Makasih, Tadz. Udah mengingatkan," ujarnya lalu menatap balik Ustaz Hafid. "Nanti diusahakan untuk jadi pribadi yang lebih baik dan nggak nakal," lanjutnya.
"Harus benar-benar diusahakan," balas Ustaz Hafid. "Kamu ini biasanya sadar sebentar saja, nantinya berulah lagi," sambungnya menggeleng kepalanya pelan.
Cika gugup tak karuan ketika Ustaz Hafid mendekati wajah ke wajahnya. Hingga deru napas hangat milik pria itu dapat ia rasakan. Refleks ia langsung memejamkan mata.
"Ehem!" Entah sejak kapan Kiai Abdullah masuk dalam kamar. Pria paruh baya ini tersenyum tipis melihat wajah malu putranya yang tertangkap basah. Dengan secepat kilat Cika membuka kedua bola matanya. Ia ikut malu.
"Kedatangan kita ganggu sepertinya,"
ucap Nyai Hana, merasa sangat bersalah menggangu moment putra dan menantunya.
"Lain kali tutup pintu, Fid," ujar Kiai Abdullah dengan senyum di bibirnya.
Dengan gerak cepat Nyai Hana menarik tangan suaminya untuk keluar kembali. "Abah ini nggak mau nimang cucu cepat apa?" omel Nyai Hana.
"Siapa yang tidak mau, Ummi. Jelas abah sangat mau."
__ADS_1
Dan percakapan itu masih dapat didengar oleh Ustaz Hafid dan Cika. Setelah mertuanya keluar Cika buru-buru berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.