Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 40 : Cemburu


__ADS_3

Ustaz Hafid mengusap wajahnya secara kasar, hampir saja ia khilaf. Istigfar terus terucap di bibirnya.


Sementara itu, Cika keluar dari kamar mandi setelah mengatur mimik wajahnya. Ia duduk di samping Ustaz Hafid kembali. Gadis ini memeluk lengan Ustaz Hafid. "Tadz, jadi kan hari ini kita pulang ke rumah?" tanyanya penasaran.


Ustaz Hafid mengangguk kecil, pertanda setuju. "Tutup matamu sebentar saja," pintanya.


Cika mengerutkan keningnya. "Kenapa tutup mata? Ustaz mau macam-macam, ya?" tanya Cika menaruh curiga. Seketika ia langsung menjauhkan tubuhnya dari Ustaz Hafid. Mengangkat kepalan tangannya, untuk mengancam Ustaz Hafid bila macam-macam pada dirinya.


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang. "Nggak akan, tutup saja sebentar."


"Nggak mau! Mau apa sih pakai tutup mata segala?" tanya Cika lagi, gadis ini benar-benar penasaran. Ia diam sejenak memikirkan sesuatu. "Hum ... Ustaz mau kasih aku kado ulang tahun, 'kan?" Tebaknya asal-asalan.


"Iya, makanya tutup mata kamu dulu. Ustaz nggak akan kasih kadonya kalau nggak nurut."


"Iya, iya. Aku tutup nih, ribet banget kasih kado," cibirnya cukup merasa kesal. Ia langsung menutup matanya setelah itu.


Ustaz Hafid bangkit berdiri, mengambil sesuatu di dalam almarinya.


"Boleh buka, Tadz?" tanya Cika. Matanya sudah terasa sakit.


"Boleh." Ustaz Hafid langsung menyerahkan kado untuk istrinya kecilnya itu.


Cika menerimanya dengan antusias. Dengan tidak sabaran, ia langsung membuka bungkus kado tersebut.

__ADS_1


"Hanya sebuah buku?" tanyanya agak kecewa. Ia langsung memandang tak semangat ke arah Ustaz Hafid.


Ustaz Hafid tersenyum menanggapinya. "Gimana kamu suka?"


"Aku suka, tapi enggak terlalu. Dan juga aku memang tidak gemar membaca sama sekali, Ustaz," jawab Cika menekuk wajahnya.


Ustaz Hafid tersenyum tipis melihat ekspresi Cika, ia menarik kedua pipi istrinya itu. "Itu buku parenting, Cika. Cara Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam mendidik anak-anaknya. Kamu baca dengan teliti, hitung-hitung mempersiapkan diri nantinya," tuturnya. Ustaz Hafid ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi Cika. Salah satunya mungkin buku yang dikasih itu.


Cika menyingkirkan tangan Ustaz Hafid dari wajahnya. Kecewa. Ia pikir akan mendapatkan kado ulang tahun seperti keinginannya, tetapi nyatanya tidak. "Oh," balasnya singkat. Ia memakai jilbabnya dan langsung keluar dari kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.


...----------------...


Cika duduk di teras masjid. Lingkungan pesantren kelihatan sepi sekali. Karena memang hari ini dan satu minggu yang akan datang libur, walaupun tidak libur panjang banyak santri yang memilih pulang ke rumahnya, melepaskan kerinduan dengan keluarganya masing-masing. Termasuk kedua sahabatnya sudah pulang kemarin malam.


"Assalamu'alaikum," salam Ustaz Andre.


"Kenapa pagi-pagi sudah melamun?" tanya Ustaz Andre sembari menyapu halaman masjid. Sudah menjadi rutinitasnya bila hari libur.


"Bukan ngelamun, Tadz. Aku lagi marah sama Ustaz Hafid, masa dihari ulang tahun aku ini, Ustaz Hafid hanya kasih buku doang," sahut Cika dengan nada suara ketus.


Ustaz Andre tertawa kecil mendengar penuturan gadis yang masih duduk menekuk wajahnya itu. Perkataannya main ceplas-ceplos saja.


"Bagus dong kalau hadiahnya buku. Lebih bermanfaat, untuk nambah wawasan juga," sahut Ustaz Andre.

__ADS_1


Cika yang mendengar itu tersenyum masam, tetapi satu detik kemudian ia bahagia ketika Ustaz Andre memberikan sebuah tasbih gelang berwarna biru muda, dimana warna biru itu warna favorit dirinya. "Tadz, terima kasih ya," girang gadis ini bahagia. Ia langsung memakai tasbih gelang itu di tangannya.


Ustaz Andre hanya tersenyum melihatnya. Tingkah Cika selalu saja membuat ia gemas. Tidak menyangka bila tasbih buatannya itu sangat disukai oleh istri sahabatnya itu. "Sama-sama. Kamu suka?"


"Hm, iya. Ustaz Andre, kok tahu aku sangat suka warna biru?"


Ustaz Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dengan gelagapan ia menjawab, "Mungkin kebetulan aja."


Cika mengangguk paham. Ia mengambil sapu lidi di tangan Ustaz Andre. "Sebagai bentuk terima kasih. Aku aja yang menyapu," ujarnya.


"Eh, tidak usah. Kamu bukannya akan pergi pulang juga?" tanya Ustaz Andre tanpa memandang Cika sepenuhnya demi gadhul bashar.


Cika mengangkat kedua alisnya. Entah kenapa pria berpeci di hadapannya itu banyak tahu akan dirinya. "Nggak tahu, jadi pulang atau nggak," jawabnya.


"Kenapa bilang begitu?"


"Males jelasinnya."


Di sisi lain dari kejauhan Ustaz Hafid melihat Cika yang sedang menyapu dan mengobrol dengan Ustaz Andre. Terlihat akrab sekali dengan sahabatnya. "Apakah ada yang tidak aku ketahui selama aku pergi ke Mesir" tanyanya kepada diri sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan jejak, ya, teman-teman. Terima kasih:)


__ADS_2