Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 49 : Deal


__ADS_3

Tak lama, hanya berlangsung beberapa detik saja. Baik dirinya maupun Ustaz Hafid langsung terdiam setelah kejadian tak disangka barusan. Benar-benar hening hampir satu menit di antara keduanya.


"Untuk saat ini nyicil dulu. Nanti kalau sudah lulus, baru dibayar tuntas."


Cika tak cukup fokus mendengarkan apa yang Ustaz Hafid katakan, gadis ini memegang bibirnya sembari bergumam, "Barusan aku dan Ustaz Hafid benar-benar melakukannya?" tanyanya masih tak percaya.


"Akh!" teriaknya ketakutan saat tiba-tiba listrik mati total. Ia segera maju selangkah, lalu memeluk tubuh kekar milik Ustaz Hafid. "Ustaz, aku takut. Aku mau keluar dari kamar, ini gelap banget."


"Nggak perlu takut, mungkin sebentar lagi listriknya menyala lagi," ucap Ustaz Hafid berusaha menenangkan. "Kita tidur aja, ya," lanjutnya.


"Tapi Ustaz Hafid nggak melakukan apa-apa lagi, kan?"


"Ustaz udah bilang tadi, nyicil dulu. Lagi pula ustaz tidak mau mengingkari janji yang kita pas awal pernikahan."


Cika mengangguk, lumayan bernapas lega mendengar penuturan Ustaz Hafid yang tidak akan meminta yang lebih lagi dari itu. Ia berjalan menuju tempat tidur dengan posisi tetap memeluk Ustaz Hafid. Ia segera membaringkan tubuhnya, sembari kata, "Ustaz, ayo cepatan naik juga. Aku takut kalau gelap gini, huh."


"Sebentar," ucap Ustaz Hafid mendengar istri kecilnya itu seperti tak sabaran. Ia masih sibuk mencari dimana ia menaruh tasbihnya. Karena masih belum bisa menemukannya ia memilih menyerah saja dan segera naik ke tempat tidur.


"Nggak boleh peluk!" Cika memperingatkan keras saat tangan Ustaz Hafid sudah bergerak ingin melingkar di perutnya. "Panas, Tadz," lanjutnya.

__ADS_1


Ustaz Hafid mengangguk, cukup mengerti.


"Satu lagi, Tadz. Besok aku akan ceritakan pada abah, ummi, ibu dan ayah kalau Ustaz Hafid merebut first kiss aku sebelum waktunya."


Di dalam kegelapan malam itu Ustaz Hafid tertawa kecil. "Aib sendiri, mau dibongkar begitu saja, Sayang?" tanya Ustaz Hafid, tangannya sudah bergerak menarik pipi chubby Cika. "Mungkin saja setelah kamu menceritakan kepada mereka, mereka malah semakin mendukung untuk secepatnya," lanjutnya.


"Udah deh," ucap Cika kesal tak terima jika dirinya dipojokkan dan kalah. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Ustaz Hafid lalu kembali berkata, "Untuk kejadian tadi, aku belum bisa menerima sepenuhnya, Ustaz Hafid harus ganti rugi."


"Ganti rugi? Bukankah kamu juga menikmatinya?" tanya Ustaz Hafid tak mau mengalah.


"Siapa yang menikmatinya? Dasar Ustaz gila, Ustaz mes4m!!" umpat Cika.


"Pokoknya aku mau ganti rugi!" ucap Cika kembali, tetap keukeuh.


"Ganti rugi dengan apa?" tanya Ustaz Hafid berusaha menuruti.


"Uang, satu juta," jawabnya. Ia berpikir sejenak. "Ralat lima juta," ucapnya.


"Cukup murah," jawab Ustaz Hafid dengan ringannya. "Besok ustaz kasih, ya," lanjutnya, ia tahu istri kecilnya itu begitu kesal mendengar ucapannya, tetapi entah kenapa ia suka melihat wajah kesal itu.

__ADS_1


Cika tak terima dengan kata 'murah' itu. Terdengar jahat sekali di telinganya. "Dua puluh juta," ucapnya kembali.


Ustaz Hafid menelan ludah susah payah mendengar ucapan itu.


"Langsung transfer ke rekening ayah besok! First kiss aku itu begitu berharga, Tadz."


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang. "Baiklah," jawabnya tak mau berdebat cukup lama.


Cika langsung membalikkan tubuhnya kembali, bergerak menjabat tangan Ustaz Hafid. "Udah deal Ustaz, ya, dua puluh juta."


"Iya, deal," jawab Ustaz Hafid pasrah. "Nggak ada bonusnya, ustaz kan sudah bayar mahal?" tanyanya kembali berusaha mencari celah. Timbul rasa menyesal tadi ia mengatakan murah.


Cika tersenyum puas, ia berkata, "Mengenai bonus bisa ustaz ajukan ke ayah besok. Itu pun jika aku setuju juga."


Ustaz Hafid hanya bisa melongo mendengar begitu liciknya pikiran istri kecilnya itu.


"Intinya, Tadz. Jika Ustaz Hafid melakukan pelanggaran di luar kendali sebelum aku lulus Ustaz harus membayarnya. Kalau aku sudah lulus baru semuanya free, tanpa negosiasi lagi," ujar Cika begitu semangatnya menjelaskannya. Entah kenapa ide brilian itu tiba-tiba terbesit di pikirannya. Dan sungguh ia menyukai mengerjai Ustaz Hafid seperti ini.


Ustaz Hafid tampak tak tahu harus menjawab apa lagi. Istri kecilnya itu memang pandai jika menyangkut hal-hal seperti ini. "Iya, iya. Ustaz tunggu lulus saja biar free," jawabnya terdengar pasrah.

__ADS_1


Cika tersenyum, ia menarik selimutnya menutupi setengah wajahnya. "Iya udah semuanya selesai, sekarang waktunya tidur. Good night, Tadz," ucapnya terdengar begitu senang sekali.


__ADS_2