
Cika sudah tampak cantik dengan seragam putih abu-abu. Kali pertama sekolah menggunakan jilbab, dihias bros mutiara kecil di dadanya. Hari ini, hari pertama bagi Cika masuk kelas dari hari-hari sebelumnya berada di pesantren.
"Kok aku nggak pernah lihat, santri putra ya, Din? Santri putri dan putra dipisah, ya?" tanyanya sambil memasukkan buku-buku pelajaran hari ini ke dalam tasnya.
Dinda yang sedang memakai jilbab di depan cermin menoleh ke arah Cika.
"Iya memang dipisah, Cika. Di sini memang ada batasnya untuk bergaul. Untuk menghindari terjadi fitnah," jawab Dinda.
Cika manggut-manggut mengerti. "Beda banget di sekolah umum, ya, apa proses belajar juga beda?"
"Nggak beda Cika, sama aja pembelajaran di sekolah umum. Cuman di sini lebih mengutamakan ilmu agama. Proses belajar juga sama kok. Suasana kekeluargaan sangat kental di sini," celutuk Novi yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
Setelah mereka bertiga sudah siap, ketiga gadis itu berjalan beriringan untuk masuk ke kelas masing-masing. Cika mengambil jurusan IPA, sementara kedua sahabat barunya itu mengambil jurusan IPS.
Lambaian tangan memisahkan mereka bertiga, Cika mempercepat langkah kakinya saat bel masuk sudah berbunyi. Pikiran Cika sudah tidak karuan karena jam pertama yang ia ketahui adalah pelajaran Ustaz Hafid. Jika dirinya terlambat bisa habislah riwayatnya.
__ADS_1
Benar saja. Cika terlambat masuk dua menit dari Ustaz Hafid. Ustaz Hafid sudah duduk manis di dalam kelas. Cika memundurkan langkahnya ke belakang. Nyali gadis ini tiba-tiba menciut untuk membuat ulah lagi setelah mendapat teguran keras dari pihak pesantren.
“Kenapa harus telat di saat seperti ini sih,” jerit Cika dalam hatinya. Ia berdiri mematung di tengah pintu.
"Hem ... telat lagi?" Ustaz Hafid sudah berdiri di depan pintu. Menatap lekat gadis yang menunduk kepalanya. Ustaz Hafid menggelengkan kepalanya pelan, santri putri baru itu selalu saja terlambat dalam hal apa pun.
Cika mendongak kepalanya perlahan-lahan lalu mengangkat kedua jari tangannya membentuk huruf V.
"Maaf, Taz," sahutnya sambil cengir kuda.
Cika mengembungkan kedua pipinya. "Aku nggak kurang disiplin kok Ustaz, aku hanya tadi lama jalannya," sanggahnya membela diri.
"Itu sama saja."
"Nggaklah, beda Ustaz!"
__ADS_1
"Mau saya hukum kamu?"
Cika langsung berhenti berbicara setelah mendengar ancaman itu.
Cukup menarik menyaksikan perdebatan antara Ustaz Hafid dan Cika bagi santri putri lainnya. Karena hanya Cika yang berani menjawab di saat Ustaz Hafid sedang berbicara.
"Kamu boleh masuk, tapi nanti sore bersihkan gudang pesantren!" Ustaz Hafid berjalan kembali ke dalam kelas dan duduk di kursinya.
"Ya, Ustaz. Kok hukum lagi sih?" tanya Cika dengan nada suara terdengar jengkel.
"Mau ustaz tambah lagi? Duduk ke bangkumu!" perintah ustadz Hafid dengan datar dan kembali membuka buku yang ada di hadapannya bersiap melanjutkan materi.
"Sabar Cika, kalau bukan seorang ustaz mungkin aku udah cakar muka tuh ustaz, nyebelin banget," batin Cika mencebik kesal dalam hatinya dan segera duduk ke tempat duduknya.
Pelajaran fiqih yang biasanya paling di takuti oleh para santri karena Ustaz Hafid yang biasanya di kenal dengan 'ustaz killer' pagi ini menjadi hiburan sendiri bagi mereka. Sangat langka bagi santri putri melihat Ustaz Hafid menyungging senyum tipis di dalam kelas.
__ADS_1
Hari demi hari yang dilalui oleh Cika di pesantren bukanlah perkara yang mudah. Beradaptasi dengan banyak hal baru yang sangat bertolak belakang dengan kehidupannya di sebelumnya. Terkadang hati Cika menjerit ingin 'menyerah', tetapi Cika selalu gigih melawan jeritan itu. Ia tidak ingin lagi mengecewakan kedua orang tuanya.