
Cika melepaskan pelukan Ustaz Hafid, gadis ini langsung pergi begitu saja. Ia harus menanyakan kepada ayahnya langsung, karena percuma juga ia bertanya dengan Ustaz Hafid ia tak mendapatkan informasi apa pun.
Tak butuh waktu lama kakinya sudah tiba di depan pintu kamar ayah dan ibunya. Ia mengetuk pintu yang tertutup itu beberapa kali, sembari berkata, "Ayah, aku boleh masuk?" tanyanya meminta izin.
"Iya, Sayang," jawab Pak Dedi dari dalam sana.
Cika yang mendapat persetujuan itu dengan secepat kilat memutar kenop pintu, dan langsung duduk di bibir ranjang.
"Ayah," ucap Cika tampak merengek karena pria paruh baya itu sepertinya tidak peduli dengan kehadirannya. Ayahnya itu masih sibuk dengan benda pipi persegi di tangannya.
"Iya, Sayang. Ada apa?" Pak Dedi menoleh, lalu mematikan ponselnya.
Cika mengembuskan napas panjang. "Um, nggak ada yang Ayah rahasiakan dari aku, kan?" tanyanya penuh selidik.
Pak Dedi mengangkat kedua alisnya. Tangannya bergerak mengusap lembut kepala putrinya yang dilapisi jilbab itu. "Tidak ada. Ayah selalu jujur padamu, Cika."
"Bohong! Tadi aku lihat Ayah dan Ustaz Hafid berbicara sesuatu yang serius," balas Cika tidak terima dengan jawaban itu.
Pak Dedi ikut mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang. "Duduk sini, Cika," pintanya, menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya.
Cika mengangguk paham. Ia menggeserkan tubuhnya,
duduk manis di samping ayahnya. Dan akhirnya Pak Dedi menjelaskan semuanya kepada Cika tanpa ada kebohongan sedikit pun. Pria paruh baya ini tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari putri kesayangannya.
Cika mendengarkan dengan saksama. Setelah ayahnya menceritakan semuanya secara detail, gadis ini langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ayah mengerjai Ustaz Hafid? Hahaha, pantas aja tadi Ustaz Hafid kayak sedih, jadi gitu ceritanya, hahaha ...." ucap Cika, tawanya semakin menjadi-jadi. Dapat ia bayangkan bagaimana ekspresi Ustaz Hafid saat berbicara dengan ayahnya.
Pak Dedi melipatkan kedua lengannya di depan dada. "Demi kamu, Sayang. Siapa suruh Hafid itu menolak mentah-mentah putri ayah," ucapnya. Ia menarik kedua pipi chubby Cika. "Padahal putri ayah ini begitu cantik, masa dia tidak tertarik sama sekali, menantu macam apa itu dan sekuat apa imannya sampai terang-terangan menolak putri ayah yang menggemaskan ini," ucapnya tak habis pikir dengan Ustaz Hafid.
Cika semalam sempat menceritakan bahwa Ustaz Hafid tidak tertarik kepada dirinya setelah ayahnya itu pulang bekerja. Pak Dedi yang mendengar itu tentu saja geram, bagaimana tidak menantunya itu tidak mau menyentuh putrinya. Dari cerita Cika itulah Pak Dedi berinsiatif mengancam Ustaz Hafid agar menceraikan Cika, tetapi itu hanyalah akal-akalan saja. Hanya sebuah gertakan semata.
Cika tersenyum mendengar ucapan ayahnya yang sungguh membela dirinya. "Makasih, Yah. Ayah memang the best deh," ucapnya langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. Beberapa detik kemudian ia mengingat sesuatu. Dan langsung berkata, "Tapi sepertinya Ayah sudah terlambat mengancam Ustaz Hafid. Tadi Ustaz Hafid sempat bilang. Siap-siap nanti malam, jadi Ustaz Hafid akan melakukan itu dengan aku?"
Pak Dedi mendorong tubuh Cika. "Benarkah? Hafid berbicara seperti itu?" Pria paruh baya ini bertanya penuh semangat.
"Iya," jawab Cika ia tiba-tiba tak semangat.
"Sudah ayah duga, Hafid mana mungkin tidak tertarik dengan putri ayah ini," jawab Pak Dedi terdengar bangga.
"Yah." Cika berucap lemah. "Tapi aku takut juga jika Ustaz Hafid benar-benar melakukannya," lanjutnya.
"Oh, Sayang. Bukankah kamu yang bersikeras semalam?" tanya Pak Dedi.
"Iya juga," jawab Cika dengan suara tetap lemah. Ia terus memikirkan mengenai nanti malam.
"Sepertinya penyesalanmu yang sekarang tidak akan berguna. Kamu sudah memancing ular yang tertidur, Sayang," jawab Pak Dedi tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ular apa?" tanya Cika tak mengerti.
"Lupakan saja, perkataan ayah barusan," jawab Pak Dedi tak mau membahas detail lagi, karena tahu bagaimana Cika yang akan terus-menerus bertanya.
"Um, aku takut, Yah. Hanya itu."
"Tidak ada hal yang perlu ditakutkan, mungkin iya awal-awalnya lumayan sakit, tetapi mungkin juga kamu akan merasa nyaman."
Cika mengerucutkan bibirnya. "Aku nggak ngerti sakitnya yang apa, dan nyaman yang apa. Aku nggak paham," ucapnya mengeluh sembari memikirkan maksud perkataan ayahnya.
"Nanti malam kamu tahu sendiri, Sayang."
"Huh." Hanya embusan napas panjang yang terdengar dari Cika.
Pak Dedi bangkit berdiri. "Ayah harus segera pergi, masih banyak pasien yang perlu ayah tangani," ucapnya, kemudian mengecup puncak kening Cika.
Cika mengangguk kemudian menyalami tangan ayahnya itu.
"Nanti kalau ada apa-apa telepon saja ayah. Ayah siap siaga membantu." Setelah mengatakan itu Pak Dedi berlalu pergi dari hadapan Cika, meninggalkan Cika yang masih sibuk dengan pikirannya.
Cika masih duduk termenung di bibir ranjang, ia tak berniat sama sekali keluar dari kamar ayah dan ibunya. Sekilas ia memandang perutnya yang rata. "Hamil? Aku akan hamil? Tapi, akh, aku kenapa jadi takut?" gumamnya lirih.
Ia mengambil handphonenya di saku bajunya, jari jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Jari tangannya bergerak membuka WhatsApp. Karena melihat kedua sahabatnya itu online, ia langsung mengajak keduanya untuk video call. Ia ingin meminta pendapat kedua sahabatnya itu tentang masalah yang tengah di hadapi oleh dirinya.
Assalamualaikum, gaes. Dinda menyapa ramah di sebrang sana.
Tuh wajah kenapa kusut benar Cika? tanya Novi.
Belum sarapan mungkin, Vi. Dinda menimpali.
Haha, mungkin saja, Din. Cika, video call bareng Ustaz Hafid juga dong aku mau melihat suami bayanganku itu.
Sejak kapan Ustaz Hafid menjadi suami bayanganmu, Vi?
Sejak tahu nikah sama Cika.
Wah bagus itu kasih judul film, suami sahabatku, suami bayanganku, Vi. Dinda ikut-ikutan dengan lawakan Novi.
Kayak film suara hati istri dong Din. Ih, tapi takut terkena azab, hahaha.
Novi dan Dinda tertawa terbahak-bahak di seberang sana atas lelucon mereka sendiri. Sementara itu, Cika hanya memasang wajah datar mendengar obrolan kedua sahabatnya itu.
Udah selesai membicarakan Ustaz Hafid? Cika akhirnya membuka suara.
Jangan serius gitu dong Cika. Aku dan Dinda becanda doang.
Aku ngerti, sekarang aku butuh pendapat dan masukan kalian.
__ADS_1
Apa? Pasti yang kamu ceritakan semalam, ya? tanya Dinda.
Cika mengangguk kepalanya di depan kamera.
Aku sempat menanyakan kepada kakak sepupuku, Cika. Kebetulan dia baru nikah ....
Apa yang dikatakan, Vi? tanya Cika tak sabaran.
Anu kata kakakku itu, misalnya kamu pertama kali melakukan hubungan itu, kamu nantinya akan ketagihan terus. Gitu sih Cika, kakakku nggak mau jelasinnya panjang lebar itu privasinya katanya.
Jorok banget pembicaraan kita. Dinda menimpali.
Nggak jorok kok, Din. Jadi, gimana Cika? Kamu dan Ustaz Hafid udah baikkan?
Udah, Ustaz Hafid pun akhirnya juga setuju untuk aku hamil.
Beneran, Cika?
Hmm, iya.
Berarti nanti malam ... sulit untuk dijelaskan bagi kami yang jomblo gini.
Akhirnya, kita akan menjadi aunty dalam waktu dekat ini, Vi.
Tapi aku agak berubah pikiran, misalnya nanti aku benar-benar hamil terus ketahuan sama teman-teman di asmara juga, bagaimana?
Itu bisa diakalin Cika. Ustaz Hafid pemilik pesantren, lho.
Jangan lupa mandi dengan kembang tujuh rupa Cika, biar Ustaz Hafid semakin tergoda.
Setuju, dengan pendapat, Vi. Ajak duluan juga pahalanya banyak banget Cika.
Kalian berdua ahli banget, padahal belum nikah.
Kalau dasar-dasar kami paham kok.
Cika refleks mematikan sambungan video call dengan kedua sahabatnya itu saat mendapati Ustaz Hafid yang sudah ada di hadapannya. Entah sejak kapan pria itu masuk ke dalam kamar. "Ada apa, Tadz?" tanyanya lumayan kaget.
Ustaz Hafid duduk di samping Cika. "Dicari ke mana-mana ternyata di sini. Ustaz mau pergi keluar sebentar."
"Mau ke mana?" tanya Cika penuh selidik.
"Antar ibu belanja."
"Oh, pergi saja," jawab Cika, ia mengembuskan napas lega ternyata Ustaz Hafid tidak mendengar obrolan dirinya dengan kedua sahabatnya itu.
"Iya sudah, ustaz pergi dulu." Ustaz Hafid beringsut bangkit kembali. "Kamu juga jangan lupa makan yang banyak, nanti malam membutuhkan tenaga yang banyak, Sayang," bisik Ustaz Hafid.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Cika, bulu kuduk Cika seketika berdiri. Ia semakin dilanda ketakutan. Rasanya ia ingin kabur saja dari rumah saat ini.