
"Enggak boleh, sebelum ayahnya dulu. Sudah ah, aku mau menelepon suamiku dulu."
Cika mengambil handphone di dalam saku gamisnya. Dengan cepat ia mencari nama 'my husband' di kontak teleponnya itu. Kemudian ia meng-klik tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Ustaz," salam Cika setelah saluran teleponnya itu sudah terhubung dengan suaminya di seberang sana.
Ustaz Hafid tersenyum tipis. "Wa'alaikumussalam, Sayang," sahutnya.
"Um, gimana kabarnya? Kok nggak kasih kabar sih dua hari ini? Kapan pulang?" Pertanyaan beruntun keluar begitu saja dari bibir mungil Cika.
"Alhamdulillah baik, insyaaAllah hari ini setelah salat magrib ustaz sudah sampai di pesantren. Kamu sendiri gimana kabarnya?"
"Baik juga," jawab Cika. "Ustaz, nggak bisa pulang siang ini aja?" tanyanya penuh harap, nggak sabar memberitahukan Ustaz Hafid secepatnya mungkin.
Ustaz Hafid terkekeh. "Rindu? Baru seminggu juga."
Mendengar ucapan itu Cika mengembuskan napas panjang. "Huh, salah apa kalau rindu sama suami sendiri? Ustaz Hafid, mungkin nggak rindu sama aku, ya?" Cika tersenyum masam.
"Enggak gitu, Sayang. Siapa yang enggak rindu sama istri kecil yang paling imut dan menggemaskan."
Cika memanyunkan bibirnya mendengar ucapan tersebut. "Tubuh aku sudah besar, nggak usah dipanggil istri kecil lagi. Dan beberapa hari lagi aku lulus," sahutnya dengan nada suara jutek.
"Iya, Sayang. Kamu sudah besar." Ustaz Hafid memilih mengalah.
Seminggu ini Ustaz Hafid pergi untuk mengurus panti asuhan. Ia ingin mengajak Cika, tetapi istrinya masih melakukan ujian praktek waktu itu.
"Ustaz tahu nggak kalau ...."
"Apa? Sepertinya kabar bahagia, ya?" Tebak Ustaz Hafid asal-asalan.
"Rahasia. Pulang dulu baru aku kasih tahu," sahut Cika tersenyum, hampir saja ia keceplosan.
"Sudah bisa main rahasia-rahasia, kasih tahu sekarang."
"Ini kejutan, Tadz. Kalau aku kasih tahu sekarang bukan namanya kejutan."
Ustaz Hafid menghela napas panjang. "Baiklah."
"Ustaz Hafid, mau makan apa nanti malam?"
"Terserah mau makanan apa pun, yang penting kamu yang masak pasti enak."
__ADS_1
"Oke nanti aku masak makanan kesukaan Ustaz Hafid," jawab Cika. Ia kembali melanjutkan, "Iya udah, aku mau mandi dulu gerah, Tadz."
"Baiklah. Ana uhibbuka."
Cika tersipu. Suaminya itu sering sekali mengucapkan kalimat itu akhir-akhir ini.
"Kenapa nggak dibalas, Sayang?" tanya Ustaz Hafid dengan suara sendu.
Cika melirik Novi dan Dinda di sampingnya itu. "Ada Novi dan Dinda di sini, malu ...."
Ustaz Hafid terkekeh. Perbincangan singkat keduanya pun berakhir.
Cika melipatkan kedua lengannya di depan dada. Menatap tidak suka kedua sahabatnya itu, karena mendengar percakapan dirinya. "Kalian berdua bisa nggak kasih aku ruang privasi sedikit?" tanyanya.
"Maaf. Kami, kan, juga rindu sama Ustaz Hafid. Hitung-hitung lepas rindu walaupun dengar suaranya doang," sahut Dinda cengengesan.
Cika mencebik kesal mendengarnya.
"Cika, ayolah cerita sama kami bagaimana malam pertama kamu dengan Ustaz Hafid itu. Aku dan Dinda penasaran," ucap Novi penuh harap.
"Iya, Cika. Kamu sudah janji, lho, untuk cerita sama kami. Janji itu adalah hutang! Kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat," timpal Dinda.
"Ayolah, Cika. Kami bisa belajar dari pengalaman kamu itu." Novi terus membujuk, tak mau menyerah begitu saja.
Cika diam sejenak. Menimang-nimang apa ia mau menceritakannya atau tidak. Beberapa menit berpikir akhirnya ia mengambil keputusan.
"Baiklah aku akan ceritakan. Awas saja kalian berdua kebelet nikah!" ujarnya memperingati.
"Nggak kok." Novi dan Dinda menyahut serentak. Mereka berdua menarik tangan Cika menuju teras masjid dan menyuruh Cika duduk di tengah-tengah mereka.
Cika berdehem sebelum memulai ceritanya.
"Ustaz Hafid meminta haknya waktu libur panjang kenaikan kelas itu. Waktu itu aku benar-benar belum siap juga," ucapnya memulai ceritanya.
"Oh, pantesan kamu jalan kayak siput waktu itu. Karena itu, ya?" Novi bertanya antusias, tak sabaran.
Cika menggeleng kepalanya pertanda tidak.
"Bukannya Ustaz Hafid sudah janji nggak akan menyentuh kamu sebelum kelulusan? Kok bisa nggak pegang janji itu?" Giliran Dinda yang bertanya.
"Iya perjanjian kami memang gitu, Din, tapi itu gara-gara aku juga membuat Ustaz Hafid melanggar janji itu."
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Novi dan Dinda bersamaan. Jiwa kepo mereka semakin menjadi-jadi.
Cika menarik napas, lalu diembuskan secara perlahan-lahan sembari mengingat moment itu.
"Waktu itu aku mandi sekitar jam sepuluh malam. Aku kegerahan saja. Terus, aku keluar pakai handuk dari kamar mandi. Eh, tanpa sengaja kakiku tersandung sama sisi ranjang. Handuk aku pun melorot ke bawah ...."
"Hahaha." Novi dan Dinda tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Cika.
Cika tersenyum juga, mengingat betapa malunya ia saat itu.
"Pantesan, pasti Ustaz Hafid nggak tahan karena sudah lihat semuanya?" tanya Novi disela-sela tawanya.
Cika mengangguk. "Mana Ustaz Hafid lagi muroja'ah hafalannya waktu itu."
"Terus setelah itu bagaimana lagi, Cika?" Dinda bertanya penasaran.
"Setelah itu kalian pasti tahulah," jawab Cika, tak mau menjelaskan lebih detail lagi.
"Gimana, aku belum ngerti?" tanya Dinda masih belum mengerti.
"Melakukan sunah rasul Dinda, nggak ngerti juga kamu," jawab Novi. "Ceritain lagi dong Cika. Tapi, itu kenikmatan yang tiada duanya, 'kan? Ibuku sering bilang gitu ke aku," ujar Novi lagi.
Cika beranjak bangkit. "Kalian masih belum cukup umur. Cukup sampai disitu."
"Yah Cika, ceritanya setengah-tengah." Novi menahan tangan Cika untuk kembali duduk.
"Apa lagi?" Cika bertanya sengit.
"Lanjut ceritanya itu."
"Intinya nggak enak. Sakit, Vi, Din. Ih, aku jadi ngeri mengingat hal itu lagi," jawab Cika bergedik sendiri. "Aku merasa aneh, padahal baru dua kali aja aku pernah melakukannya. Tapi aku kok cepat hamil."
"Doa Ustaz Hafid mustajab bangetlah. Hahaha," sahut Novi tertawa puas. "
"Mungkin. Udah, aku gerah mau mandi dulu." Cika segera beringsut bangkit kembali.
"Malam pertama kamu dan Ustaz Hafid itu sampai subuh, ya?" celutuk Dinda masih dengan kepolosannya.
"Bukan subuh lagi Din, tapi sampai pagi," sahut Cika tanpa menoleh.
"Hah?" Novi dan Dinda merinding sendiri mendengarnya.
__ADS_1