
Restoran X.
Dafa dan Edo sedang berbincang mengenai kerja sama mereka dengan BL Group yang baru saja mereka tanda tangani.
"Daf,apa menurut lo kerja sama kita dengan BL Group ini akan lancar?" tanya Edo yang masih ragu-ragu.
"Kita lihat saja nanti kedepannya" jawab Dafa santai sambil menyerumput coffe latenya.
"Hmmm iya,mungkin hanya perasaan gue aja yang ngerasa ada yang aneh" ucap Edo lalu meminum es cappucinonya.Setelah itu Dafa pamit ingin pulang karena merasa tak enak badan.
Sesampainya di rumah Dafa langsung merebahkan badannya ke sofa sebab ia merasa pusing dan tenggorokannya sakit.
"Kak Dafa,tumben pulang kerja jam segini" ucap Reina yang baru datang dari supermarket dekat rumah.
"Kamu dari mana?" tanya Dafa melirik ke arah Reina yang sedang memegang dua kantong belanjaan.
"Oh ini aku dari supermarket depan belanja.Kok tumben kakak pulang jam segini?" ucap Reina sambil melangkah meletakkan belanjaannya tadi ke atas meja dapur.
"Saya nggak enak badan" jawab Dafa singkat.
"Kak Dafa nggak enak badan" ucap Reina kemudian ia berjalan kembali ke arah sofa yang sedang di duduki oleh Dafa lalu menempelkan tangannya di jidat Dafa mengecek apakah suaminya itu demam.
"Badan kak Dafa kok panas banget.Kita ke rumah sakit yuk kak Dafa demam ini" ucap Reina yang mulai khawatir.
"Nggak usah,setelah minum obat panasnya juga akan turun sendiri" ucap Dafa.
"Pokoknya kita ke rumah sakit titikkkk" ucap Reina tegas.
"Pesankan saya bubur sekarang" ucap Dafa lalu beranjak ingin ke kamarnya namun rasa pusing di kepalanya membuatnya hampir jatuh dan untungnya ada Reina yang sigap menolongnya.
"Kak Dafa itu demamnya tinggi kita ke rumah sakit aja yah,aku takut kalau kakak kenapa-napa." ucap Reina sambil memapah Dafa ke kamarnya lalu membaringkannya diatas ranjang tak lupa membuka sepatunya terlebih dahulu.
"Saya masih kuat kok,nggak usah khawatir berlebihan kayak gitu" ucap Dafa lalu menutup matanya berniat ingin tidur.
"Kak Dafa ini kalau dikasih tahu nggak mau dengar" ucap Reina kesal lalu keluar dari kamar Dafa.
Reina merasa sangat khawatir dengan keadaan Dafa saat ini pasalnya suhu badannya Dafa sangat panas dan harus ke dokter tapi Dafa menolak.
"Aku telpon dokternya papa aja deh suruh kesini periksa dikutub es itu."
Reina kemudian mencari nomor dokter itu lalu memanggil dokter pribadi bapaknya untuk datang memeriksa Dafa di apartemen saja dan disetujui sang dokter.
Sambil menunggu dokter,Reina pergi ke dapur untuk membuatkan Dafa bubur.
Beberapa menit kemudian sang dokter akhirnya tiba dan langsung memeriksa keadaan Dafa.
"Dok,gimana keadaan kak Dafa ?" tanya Reina pada dokter Agus.
"Suami kamu hanya demam saja kok,ini saya kasih obat diminum dua kali sehari ya supaya demamnya cepat turun sekalian saya juga mau pamit " ucap Dokter agus sambil mengasih dua kaplet obat untuk diminum oleh Dafa.
"Oh iya terima kasih dok" ucap Reina lalu mengantar dokter itu sampai depan pintu.
Setelah mengantar dokter tadi,Reina merasakan ada bau aneh seperti bau gosong dan benar saja bau itu dari dapurnya sebab tadi ia sedang membuat bubur namun ia tinggal sebentar karena ada dokter.
"Astagaaaaaaaaa.....mati gue" ucap Reina berlarian ke dapur karena mengingat jika tadi ia sedang membuat bubur dan apinya lupa ia kecilkan.
"Reinaaa....kenapa sih lo sampai lupa gini,untung aja belum gosong semuanya jadi masih bisa diselamatkan."ucap Reina sambil memasukan bubur yang masih bagus kedalam mangkok kaca kemudian ada satu pesan masuk kedalam ponselnya dan langsung ia buka isi pesan itu.
__ADS_1
ting...
"Rei,bawakan saya bubur sekarang"
"Mati gue pesan dari kak Dafa" batin Reina.
"Hmmm...semoga kak Dafa nggak ngomel deh karena buburnya bau hangus" ucap Reina pasrah lalu membawa bubur itu ke kamar Dafa.
"Ini bau apa yah? " ucap Dafa saat Reina memberikan mangkok itu ke Dafa.
"Maaf kak,buburnya tadi gosong " ucap Reina jujur.
"Kamu yang buat bubur ini?" tanya Dafa dan hanya di anggukan oleh Reina.
"Reinaaa....Reina kapan sih kamu bisa pintar masak cuma buat bubur aja gosong belum lagi yang lainnya" bentak Dafa mulai kesal dengan Reina yang tak becus dengan hal-hal yang kecil saja.
"Maaf kak,Reina orangnya memang teledor dan nggak bisa ngapa-ngapain di dapur.Sini buburnya biar aku beliin yang baru aja" ucap Reina sambil meneteskan air matanya.
"Astaga Dafa lo barusan bentak Reina sampai dia menangis gitu " Batin Dafa.
"Nggak usah,bubur ini masih bagus kok saya akan makan lalu minum obat.Maaf ya kata-kata saya tadi karena sudah bentak kamu " ucap Dafa lalu memakan bubur bikinan Reina.Sebenarnya Dafa ingin sekali memuntahkan bubur itu karena rasanya tak enak namun ia memaksa untuk menelannya saja karena takut Reina nantinya akan tersinggung jika ia muntahkan.
"Kak Dafa nggak usah maksain makan bubur ini,aku tahu kok rasanya pasti nggak enak apalagi kak Dafa lagi sakit gini " ucap Reina lalu mengambil mangkok dari tangan Dafa yang berisi bubur hangus buatannya tadi.
"Enak kok." ucap Dafa bohong lalu mengambil mangkok itu kembali dari tangan Reina dan melahapnya hingga habis.
"Kakak nggak usah bohongin aku,mana ada bubur gosong dimakan enak" ucap Reina kesal karena Dafa berbohong.
"Kalau nggak enak masa bisa sampai habis gitu" ucap Dafa memperlihatkan mangkok yang berisi bubur tadi sudah habis tanpa tersisa.
Reina kemudian keluar dari kamar Dafa dengan hati sedih lalu masuk ke kamarnya tak lupa mengunci pintunya.
.
Kamar sebelah.
"Kenapa sih gue nggak bisa sekali aja buat kak Dafa bahagia dengan buatan gue sendiri.Semua yang gue lakuin pasti nggak ada yang beres satu pun" ucap Reina kesal dengan dirinya sendiri.
"Apa lebih baik aku cerai aja dengan kak Dafa.Kasihan dia karena pernikahan ini buat dia tersiksa hidup dengan aku " batin Reina.
"Tapi apa aku sanggup kehilangan kak Dafa nantinya.Aku nggak bisa menafik kalau sebenarnya aku udah mulai jatuh cinta dengan es balok itu,tapi aku juga nggak bisa maksa kak Dafa bisa cinta sama aku.Tuhan,apa aku salah mencintai seseorang" ucap Reina lalu meneteskan air matanya.
Cukup lama Reina menangis karena merasa ia sangat tak berguna lalu ia terlelap tidur saking capeknya menangis.
Tak terasa pukul sudah menunjukan jam 15:40 Reina lalu bangun dan melihat matanya sembab karena seharian menangis.
"Astaga gue sampai lupa kalau kak Dafakan lagi sakit" ucap Reina lalu bergegas keluar kamarnya.
"Gue lihat kak Dafa dulu deh,siapa tahu demamnya udah turun" batin Reina.
Reina lalu bergegas keluar kamarnya menuju kamar Dafa untuk mengecek apakah demamnya sudah turun apa belum.
"Udah mendingan" ucap Reina memegang dahi Dafa mengecek panas bandanya Dafa sudah turun atau belum.
Mumpung Dafa masih tidur,Reina diam-diam mengambil kesempatan untuk melihat lebih dekat wajah tampan Dafa.
"Apa aku akan sanggup melepaskan kak Dafa dari hidup aku "ucap Reina pelan namun masih bisa di dengar Dafa. Dafa sebenarnya sudah bangun namun ia mendengar suara pintu di buka dan itu pasti Reina jadi dia berpura-pura untuk tidur kembali.
__ADS_1
"Apa maksudnya Reina mau melepaskan aku." batin Dafa.
Saat Reina hendak ingin keluar kamar tiba-tiba Dafa memegang tangan Reina,kemudian Reina berbalik.
"Jangan pergi" ucap Dafa namun masih dengan mata tertutup.
"Oh kak Dafa pasti ngigo deh " ucap Reina karena melihat Dafa masih memejamkan matanya,lalu Reina perlahan ingin melepaskan tangannya dari genggaman Dafa namun tak bisa.
Saat Reina masih berusaha melepaskan tanggamya dari genggaman Dafa,Dafa lalu menarik tangan Reina dengan kasar sehingga Reina kaget kemudian tersandung bibir ranjang lalu badannya jatuh menimpah badan Dafa.
"Oh my god" ucap Reina saat berada diatas tubuhnya Dafa.
"Kamu berat juga ya ternyata " ucap Dafa sambil menatap Reina karena jarak mata mereka sangat dekat.
"Astaga.....mimpi apa gue semalam bisa sedekat ini sama kak Dafa" batin Reina.
"Maa.....a...f kak u...dah bangunin kak Dafa" ucap Reina lalu berusaha bangun dari posisinya namun Dafa masih memegang tangannya cukup erat sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa.
Dafa masih menatap Reina dengan lekat yang membuat muka Reina sudah seperti kepiting rebus sebab mukanya sudah bersemu merah karena grogi berada dekat sekali dengan Dafa tepatnya di atas badannya Dafa.
"Rei,apa kamu berniat ingin lepas dariku?" tanya Dafa dengan mimik muka seriusnya.
"Haaa...." ucap Reina kaget.
"Kenapa kak Dafa tahu aku punya niat seperti itu" batin Reina.
"Jawab" ucap Dafa lagi.
"Itu cuma fikiran kak Dafa aja,tapi kita nggak tahu nantinya jika benar aku melepaskan kak Dafa itu berarti kita akan bercerai" ucap Reina lalu menatap balik Dafa.
Mendengar perkataan Reina tadi membuat hati Dafa merasa sakit.Tanpa aba-aba Dafa kemudian mencium bibir Reina dengan lembut membuat Reina kaget dengan aksi Dafa yang tiba-tiba itu namun Reina coba melepaskan ciuman itu karena nafasnya ngos-ngosan sebab belum terbiasa dengan adegan berciuman.Dafa yang merasa Reina seperti tak bisa mengatur nafasnya dengan baik lalu menghentikan aksinya dan melepaskan ciuman mereka.
"Maaf membuat kamu kaget dengan yang barusan terjadi" ucap Dafa dengan posisi mereka sekarang duduk bersebelahan.
"Emmmm,aku hanya belum terbiasa berciuman" ucap Reina jujur.
"Makanya kamu harus belajar" ucap Dafa.
"Haaa..! memangnya berciuman juga ada sekolahnya?" ucap Reina yang heran dengan perkataan Dafa.
"Hmmm .....Reina...reina" ucap Dafa sambil mencubit kedua pipi Reina karena saking gemasnya.
"Kak Dafa,ada yang ingin aku bicarain" ucap Reina tiba-tiba dan membuat Dafa menghentikan aksinya mencubit pipi Reina.
"Bilang aja" jawab Dafa.
"Kita udah nikah beberapa bulan tapi sampai sekarang aku nggak tahu satupun tentang kak Dafa ataupun masa lalu kak Dafa." ucap Reina.
"Itu nggak penting kamu tahu karena itu cuma masa laluku.Masa depan aku ya kita " jawab Dafa.
"Tapi kenapa kakak nggak pernah sekalipun cerita ke aku tentang mantannya kak Dafa,bagaimana aku bisa percaya kalau kalian diam-diam masih sering bertemu" ucap Reina.
"Aku bukan orang seperti itu,kamu ingin tahu apa lagi bukannya semuanya mama dan Safa sudah cerita sama tentang hubungan kamu dulu " tanya Dafa menatap Reina.
"Iya,tapi aku ingin dengar langsung dari mulut kakak kalau perlu aku ajak dia bertemu supaya aku nggak merasa bersalah sama dia" jawab Reina.
"Aku nggak bisa cerita sama kamu tentang hubungan aku dan alexa,aku takut kamu akan terluka nantinya."batin Dafa.
__ADS_1
"Percaya sama aku.Semenjak aku memutuskan untuk menerima perjodohan kita,semenjak itu aku tak pernah lagi berhubungan dengannya.Kamu nggak bersalah Rei,hubungan kamilah yang awalnya memang sudah salah " jawab Dafa jujur.
Dafa lalu keluar kamarnya dan meninggalkan Reina yang masih duduk di atas ranjang.