Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 12


__ADS_3

Naira seketika tertunduk, seraya memikirkan apa yang akan terjadi kepada dirinya saat ini, dengan apa yang telah dirinya lakukan.


"lain kali hati hati!" ucap pria itu yang kini melanjutkan langkahnya menuju kearah dimana Rendi berada


Naira menundukan kepalanya dan kini beralih menatap punggung pria itu yang kini telah menghilang dari pandangannya, Naira beranjak melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


namun di sisi lain


Rendi yang tengah asik mengkhayal dengan pemikirannya, seketika seseorang kini mengetuk pintunya, Rendi seketika kesal seraya bergumam.


tokk..tok...


dan kini dirinya menatap kearah pintu itu dan ingin rasanya memaki orang yang tengah menganggunya saat ini, Rendi hendak bersuara namum seketika.


Cklek..


Deg.


"Ck.. Sia.!!" gumam Rendi spontan dan kini beranjak dari tempat duduknya dengan mata yang masih menatap kearah sosok tersebut


tampak di wajah Rendi ada sedikit rasa takut dengan kehadiran sosok tersebut


"Kak?" gumam Rendi kepada sosok tersebut yang kini berada di hadapannya


BAMM...


seketika pintu ruangan tersebut di tutup dari dalam begitu saja, Rendi memejam kan matanya seraya membuang nafasnya dengan berat


Peria itu tak menyahuti perkataan Rendi melainkan beranjak duduk di sana


Trak..


"Kak.. kapan kau kemari?" tanya Rendi kepada pria itu yang kini telah duduk di hadapannya.


"baru saja aku tiba kemari!" jawab pria itu dingin


Rendi lagi lagi membuang nafasnya dengan berat, dan kini berusaha untuk menenangkan hatinya


"K.." belum sempat Rendi melanjutkan perkataanya seketika pria itu menyela perkataan Rendi


"kenapa kau menatapku seperti melihat hantu saja" ucap pria itu yang masih menatap wajah Rendi


"eng..." belum sempat Rendi bersuara seketika pria itu menyela kembali perkataan Rendi


"Ren, apa kau sudah mencarikan ku sekretaris pribadi baru? Jihan tidak lagi disini, kau tau kan kalau Tn Jihan Papah ku pindahkan menjadi Manager di Hotel" ucap Pria itu kepada Rendi

__ADS_1


"mhh iya!, tapi.. sekretaris pribadi seperti apa yang kau ingin kak?" tanya Rendi bingung dengan kriteria yang pria itu inginkan


"engk..." belum sempat pria itu melanjutkan perkataanya seketika seseorang dari luar kini mengetuk pintuk ruangan itu


tok.. tok..


Rendi dan pria itu seketika menatap bingung kearah pintu ruangan tersebut, seketika pria itu meminta orang tersebut masuk kedalam ruangannya.


Cklek...


"selamat siang tuan?" ucap orang tersebut kepada pria itu


"eng.. Tn Jihan?" gumam pria itu yang kini melihat sosok Jihan di hadapannya


Jihan seketika tersenyum kearah atasannya itu, yang selama ini dirinya hormati selama bekerja dengan pria itu


"tuan muda? bagaimana kabar anda, saya senang tuan muda telah pulang kemari" ucap Jihan dengan senyuman


pria itu seketika tersenyum kearah Jihan yang sudah dianggapnya seperti paman sendiri oleh pria itu.


"Tn muda, saya sudah mencarikan sekretaris pribadi untuk anda, tapi Ny meminta tuan muda untuk tidak bekerja beberapa minggu kedepan" ucap Jihan kepada pria itu


"hem iya, aku juga tidak tau, kenapa Mamah meminta ku pulang sekarang?" Gumam pria itu yang kini menatap jauh kedepan


"mungkin ada sesuatu yang harus Ny katakan kepada tuan muda saat ini" ucap Jihan lagi


Rendi menganggukan kepalanya seraya tersenyum kepada pria itu dan juga Tn Jihan.


"mari tuan muda saya antar anda pulang sekarang!" ucap Jihan kepada pria itu.


Kini mereka berdua telah berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dan begitu juga Rendi yang masih berada di sana.


Rendi menatap sekilas kepergian sosok pria itu, namun tampak di wajah Rendi ada sedikit rasa gelisa dan cemas yang begitu jelas di wajah pria itu


entah apa yang tengah saat ini Rendi pikirkan dan membuatnya harus seperti itu.


***


pukul 17.00


di ruangan IT Naira yang kini sudah berada di sana, tengah mengemasih barang barangnya.


"Nai..apa yang pak Rendi katakan sama kamu?" tanya Winda penasaran


"hemm.. nggak ada cuma masalah pekerjaan doang" jawab Naira bohong.

__ADS_1


Naira kini beralih mengambil botol minuman dan seraya meminumnya.


"Serius? tapi kayaknya pak Rendi naksir kamu deh Nai!" ucap Winda seraya menatap jauh kedepan mengingat tingkah Rendi yang selalu curi pandang kepada Naira saat meeting


"huks.. huks..." Naira seketika tersedak


"lah loe ngapain Nai?" tanya Winda bingung dan kini menggosok pelan punggung Naira.


"kalau ngomong yang bener saja Win, mana mungkin seorang Direktur mencintai karyawannya sendiri" ujar Naira seraya meletakan botol minumannya di dalam tas.


"eh.. amin dong, kan bisa dapet laki pak bos" ujar Winda yang kini bergaya ala Nyonya besar.


Naira seketika menatap bingung Winda yang aneh dilihatnya, beberapa menit berlalu Naira dan Winda kini mereka berdua beranjak meninggalkan ruangan mereka seraya menuju luar perusahaan itu.


"Nai.. gue duluan ya hati hati di jalan ya Nai bye?" ucap Winda yang kini melangkahkan kakinya menuju sebuah taxi


Naira tersenyum dan melambaikan tangannya, Naira bergegas menuju sebuah taxi yang satunya dan bergegas membawanya menuju kerumahnya.


***


di depan rumah, Naira yang baru saja tiba di sana, kini mendapati sebuah mobil terpakir di halaman rumahnya, Naira menatap bingung mobil itu, dan bergegas masuk kedalam rumahnya.


"Ibu Naira pulang?" panggil Naira kepada ibunya


Deg...


Naira seketika tertegun menatap kearah pasutri yang kini menatao kearahnya, tak lama dari arah dapur terlihat buk Rati yang baru saja tiba dari sana, seraya membawa beberapa sneck dan minuman untuk tamu tersebut.


"eng.." gumam Naira bingung


"eh.. Nai udah pulang, oh silahturahmi gih sama pak Marchel dan buk Wulan" ucap buk Rati kepada Naira yang masih diam mematung disana


"eh.. eng iya buk!" jawab Naira canggung


Naira beranjak bersalaman dengan kedua pasutri itu, dan tampak di wajah Naira terukir senyuman di bibirnya yang mungil itu


"buk.. Naira permisi kekamar dulu buk" ucap Naira yang kinj berpamitan menuju kamarnya


" Naira semakin dewasa, semakin cantik aja ya buk Rati." ucap buk Wulan yang masih menatap kepergian Naira kekamarnya.


Buk Rati hanya tersenyum dan kini dari arah luar terlihat pak Wawan yang baru saja tiba dari kantor desa.


bergegas masuk kerahnya, Pak Wawan seketika tersenyum menatap kehadiran teman lamanya yang kini berkunjug kerumahnya.


"Pak Marchel.. senang bertemu lagi teman lama ku" ucap Pak Wawan kepada Pak Marchel.

__ADS_1


Pak Marchel kini beranjak dari tempat duduknya seraya menyambut salaman itu dari Pak Wawan yang merupakan sahabat lama.



__ADS_2