Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 33


__ADS_3

"Ntahlah.. aku akan melihat nya!" ujar Ayu yang kini berlalu menuju ruang tengah Villa.


cklek..


"Iy...oh..pak S Satya?" tukas Ayu dengan wajah kaget mendapati Satya yang kini berada tepat di depan pintu Villa mereka.


"mmh.. Naira ada?" tanya Satya kepada Ayu.


"eng.. oh Naira ada pak, di kamar! saya akan panggilkan dulu sebentar, pak Satya masuk saja dulu." ucap Ayu kepada Satya dengan suara gugup.


"tidak perlu.. kamu berikan ini saja kepadanya!" ujar Satya, mengeluarkan sebuah kotak salap dan memberikannya kepada Ayu.


"saya akan pergi sekarang." timpal Satya, yang kini berlalu menuju ke Villanya.


Ayu yang masih berada di sana dengan wajah yang masih terlihat bingung, dengan tersadar kini dirinya bergegas kembali masuk kedalam Villa dan berlalu menuju kembali kekamar.


"Siapa yang datang?" tanya Winda kepada Ayu.


"eng.. bukan siapa siapa, oh ya Nai ini ada salep untuk mengobati luka mu!" Ujar Ayu memberikan sekotak salep pereda nyeri kepada Naira.


"Mmh maksih ya Yu!" Ucap Naira.


"hehe i iya Nai!" sahut Ayu.


Namun saat mereka tengah asik mengobrol tiba tiba suara ketukan pintu Villa mereka kini kembali di ketuk oleh seseorang.


"Siapa lagi tu malam malam begini?" gumam Winda.


"eng.. biar aku saja yang lihat !" ujar Ayu lagi.


"okeh.. Yu!" sahut Winda.


tap.. tap...


suara langkah kaki yang menghampiri pintu Villa itu.


Cklek..


Deg..


"ehh..!" gumam Ayu kaget melihat kedatangan seseorang di depan pintu Villa mereka.


"eng.. Nairanya ada?" tanya orang itu yang tak lain Rendi.


"oh.. Pak Rendi, eng itu Naira lagi istirahat dikamarnya pak, kalau Pak Rendi ingin bertemu Naira..saya akan panggilkan Naira dulu!" ujar Ayu kepada Rendi.


"Ahh tidak perlu, bisakah kau bantu aku, tolong berikan ini kepada Naira!" pinta Rendi sembari memberikan sebuah salep dan beberapa buah untuk Naira.


"aah i iya pak!" sahut Ayu, yang kini menatap bingung kedua sosok Direktur yang selalu memberikan perhatian kepada Naira.


"baiklah.. saya pergi dulu!" ucap Rendi yang kini berlalu pergi.


Ayu lagi lagi di buat bingung, bagaimana cara dirinya menjelaskan kepada Naira dan Winda yang merupakan ratu gosip di kantor.


"ahh sudahlah!" gumam Ayu sembari berlalu pergi menuju kembali kedalam kamar mereka bertiga.

__ADS_1


cklek..


sret...


"Kau sudah kembali, siapa yang datang barusan?" tanya Winda kepada Ayu.


"eng.. bagaimana aku menjelaskannya kepada kalian, apa kalian akan percaya jika aku ceritakan!" ujar Ayu.


"apa maksud mu, katakan ayo!" ujar Winda lagi.


"baiklah.., Nai!, kau tau siapa yang pertama kali datang? Pak Satya, dan yang beri salep itu juga pak Satya!" ujar Ayu.


"Apa?" sahut Winda dan Naira bersamaan.


"lalu yang barusan datang siapa lagi?" tanya Winda penasaran.


"Pak Rendi, dan pak Rendi juga meminta ku untuk memberikan ini kepada mu!" timpal Ayu sembari menunjukan kantong buah dan salep.


"APA?" Sahut Naira dan Winda lagi lagi di buat tak percaya.


"Jadi Mas Satya yang memberikan salep ini untuk aku!" batin Naira.


"wih.. gue gak nyangka ya Nai, lo bisa bikin dua pria tampan sekaligus deket sama lo, wih.. bagi satu dong Nai!" tukas Winda seraya menggoda Naira.


"eng.. tidak!" sahut Naira asal bicara.


"eh.. tidak? apa maksudmu yang tidak Nai?" tanya Ayu dan Winda bersamaan.


"aa.. itu maksud ku, tidak...tidak ada apa apa kok!" ujar Naira gugup.


"sudahlah.. lebih baik kita cepat tidur, bukankah besok pagi kita bakalan harus jalan jalan bukan!" ucap Naira kepada Ayu dan Winda.


"oh iya!" sahut Winda, yang kini berlalu menuju tempat tidur mereka.


***


Drett... dret...


suara alarm berdering, pagi pukul 05.30 Naira yang sudah bangun dari tidurnya, kini beranjak turun dari atas tempat tidur dan berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


saat dirinya sudah selesai, Naira bergegas menuju luar Villa untuk menikmati suasana pagi hari di atas bukit.


Di luar Villa, Naira yang sudah berada di luar sana, dengan menggunkan jacket untuk melindungi tubuhnya dari dingin nya udara di atas bukit.


Namun saat dirinya tengah asik melihat sunrise, seketika pandangannya teralihkan yang kini melihat kearah seorang pria yang tengah berdiri tak jauh dari nya, Naira melihat sosok Satya yang hanya diam.


Naira menatap lekat sosok pria itu, dan kini kembali ingat akan perkataan Ayu semalam, tentang Satya memberikannya obat pereda nyeri untuk nya.


Namun saat dirinya tengah asik melamun, Satya yang ternyata membalas tatapan Naira kepadanya dalam tatapan kosong.


"Apa yang dia lamunkan, di atas bukit sendirian, apa dia ingin kesurupan?" gumam Satya, yang kini berjalan menghampiri.


Namun saat dirinya hendak melangkah, seketika dirinya di kejutkan dengan kehadiran Rendi yang tiba tiba menghampiri Naira, dan membuyarkan lamunan gadis itu.


Satya yang melihat Rendi di sana, spontan dirinya menghentikan langkahnya menatap diam kearah keduanya itu.

__ADS_1


"Kenapa Rendi begitu dekat dengan gadis itu? Apa mereka pernah kenal sebelumnya?" batin Satya yang masih menatap diam keduanya itu.


"aah sudahlah.. untuk apa aku memikirkannya!" batin Satya lagi, dan kini dirinya hendak berlalu pergi.


Namun lagi lagi, saat dirinya ingin pergi, seketika Rendi berteriak memanggil Satya.


"KAK SATYA?" panggil Rendi yang kini berjalan menghampiri pria itu bersama dengan Naira.


Satya yang mendengar namanya di panggil, spontan dirinya menatap kearah datanganya orang tersebut.


Deg..


Satya seketika membulatkan kedua matanya, menatap Naira yang ternyata ikut berada di sana.


"eng!" gumam Satya bingung kepada Rendi yang memanggilnya.


"Kak, ayo kita jalan pagi!" ajak Rendi kepada Satya.


"Oh.. (terdiam sejenak, sembari memandang Naira) Kalian pergi saja!" sahut Satya.


"eh.. apa kau serius? kau membiarkan ku pergi berdua?" ujar Rendi.


"lalu?" sahut Satya dingin.


"ah sudahlah aku lelah!" timpal Satya yang kini hendak berlalu.


srek... srek..


suara langkah kaki, Namun pria itu tengah berada di pertengahan taman bunga, seketika dirinya.


"Hacih..!"


"Hacih.."


Deg..


"aah si*l!" gumam Satya yang baru menyadari dirinya berada di tengah taman bunga.


Deg..


sontak Rendi dan Naira menatap kearah Satya yang tiba tiba bersin, Rendi dengan cepat menghampiri keberadaan Satya yang masih berada di sana.


"Kak?" panggil Rendi yang mengetahui Satya alergi terhadap bunga.


"Hacih..hacih..bawa aku ke Villa sekarang!" pinta Satya dengan suara berat.


"ck.. sudah ku katakan, jangan dekat dengan tumbuhan bunga, kau alergi terhadap itu!" gerutu Rendi sembari membawa Satya menjahui taman bunga itu.


"Nai.. eng maaf, kayaknya kita jalan paginya besok besok saja ya! bye!" ujar Rendi kepada Naira.


Naira yang sedari melamun, kini dirinya tersadar saat Rendi membuyarkan lamunannya.


"eng.. i iya!" sahut Naira, Seraya menatap kepergian Satya dan Rendi di sana.


"Mas Satya alergi bunga? tapi.. kaya gak asing!" gumam Naira.

__ADS_1



__ADS_2