
" loh kok kalian gak ngabarin ibuk mau kemari? " Tanya buk Rati yang kini meletakan keranjang dan beberapa ekor ayam yang sudah di potong di atas sebuah bangku kayu di sana, dan kini beranjak menghampiri sosok Naira begitu juga Satya yang baru saja tiba di rumah.
" hehe, gapapa sekali kasih kejutan aja sama ayah dan ibuk " jawab Naira yang kini tersenyum lembut buk Rati.
" gak kerja Sat? " tanya pak Wawan kepada Satya.
" nggak yah, hari ini cuti dulu " jawab Satya.
" mmh begitu " sahut pak Wawan.
" nak Rey? kemari? " panggil Ayah kepada Rey yang merupakan sepupuh jauh Naira.
" iya pakde? " sahut Rey yang kini berdiri tepat di samping pak Wawan.
" kamu udah kenal sama Satya? " tanya pak Wawan kepada Rey.
Rey sontak menatap kearah Satya yang kini menatap kearah dirinya.
" sudah pakde " jawab Rey yang kini tampak canggung.
" buset nih orang pandangannya sadis amat yak " batin Rey yang kini menatap sekilas Satya yang masih berdiam di sana.
" yaudah, ajak ngobrol dong nih sepupuh ipar mu, masa diam diaman saja " cetus pak Wawan kepada Rey.
" eng i iya pakde " sahut Rey.
" gimana mau ajak ngobrolnya, kalo salah bicara dikit bisa berabe nanti, orang muka serem kek gitu " batin Rey yang kini temanku kelimpungan.
" eng.. " gumam Rey yang kini menggaruk garuk kepalanya.
" mau ngomong apaan yak? " gumam Rey bingung.
" mas Satya? mas mau air kelapa gak? " panggil Naira kepada Satya yang kini masih bersama Rey.
" mmh, boleh " sahut Satya yang kini beranjak menghampiri Naira, dan diikuti Rey yang berjalan di belakang Satya.
" kak Rey mau juga? " timpal Naira yang kini menyodorkan segelas air kelapa kepada Rey.
" mmh ngomong ngomong, kalian bicara apa barusan? " tanya Naira yang ternyata gadis itu sedari tadi menatap keberadaan Rey dan Satya di sebuah bangku kayu.
" tidak ada! " jawab Satya singkat.
" Ehh gak ada? gak ngobrol sama sekali? " sahut Naira yang kini menatap kearah Satya dan Rey secara bergantian.
" hehe " gumam Rey seketika tertawa kecil.
" huh.. yasudah, kalau begitu mas Satya sama kak Rey tolong bantuin Naira sama ibuk untuk nyalain api buat bakar ayam nya " pinta Naira kepada kedua pria itu.
Satya seketika menatap kearah tungku api yang berada di sisi kanannya sembari berlalu mengambil sekantong arang dan meletakannya di atas tungku tersebut dan kini menghidupkannya.
__ADS_1
" eh.. mas Satya emangnya bisa hidupin nya? " tanya Naira yang kini menatap kearah Satya yang tengah menghidupkan api.
" sudah selesai " ucap Satya yang kini menatap kearah Naira.
" wow, Naira kira mas Satya gak bisa " celetuk Naira.
" cuman hidupin doang kan? masa gak bisa " sahut Satya.
" hehe makasih mas Satya ku yang tampan " ucap Naira kepada Satya.
Satya seketika tersenyum dan kini menatap kembali Naira yang kini tengah asik membakar ayam tersebut di sana.
Deg..
sebuah gerakan kecil kini terasa di perut Naira, sontak membuatnya kini terdiam bingung sembari memegang perutnya yang sedikit membesar.
" kok kek ada yang gerak ya? " gumam Naira.
namun lagi lagi, sebuah gerakan kecil kini kembali terasa, Naira sontak terdiam takut, sembari merasakan sebuah gerakan kecil yang kini menyentuh kulitnya.
" m mas Satya? " panggil Naira dengan wajah seperti terlihat shock.
" iya, kamu kenapa? " tanya Satya yang kini menatap kearah Naira yang begitu terlihat panik.
" kamu kenapa? kok diem? apa perutnya sakit lagi? " tanya Satya lagi.
" m mas " ucap Naira yang masih terlihat shock.
" kamu kenapa Nai? jangan bikin mas takut, kita kedokter saja ya " ujar Satya yang kini memegang kedua pundak Naira sembari memeluk tubuh gadis itu.
" Sat? Naira kenapa? " tanya buk Rati kepada Satya yang kini sudah berada di hadapan keduanya itu.
" mmh Satya juga gak tau buk, dari tadi pagi Naira selalu mual mual muluk, Satya mau bawa kedokter tapi Naira gak mau " jelas Satya kepada buk Rati.
" Ehh.. mual mual? Nai apa kamu sudah datang bulan nak? " tanya buk Rati kepada Naira.
" belum buk " jawab Naira.
" kamu kenapa? " tanya buk Rati yang kini mengelus pundak Naira.
" buk, kenapa Naira dari tadi selalu ngerasain ada gerakan kecil di perut Naira " ucap Naira sontak membuat semuanya kini terbelalak kaget.
" eng!? ya Allah Nai!? kamu... kamu hamil nak!? " sahut buk Rati dengan wajah yang kini tampak berbinar binar.
" h hamil? " sambung Satya yang kini menatap kearah Naira.
" Naira hamil buk!? " tukas pak Wawan yang kini menatap kearah istrinya itu.
" iya pak, nak.. kamu udah cek belum? " tanya buk Rati lagi.
__ADS_1
Naira sontak menggelengkan kepalanya pertanda jawaban darinya.
" eh Naira hamil? wih.. bakalan ada keluarga baru dong " sambung Tiara yang kini menghampiri keberadaan Naira dan yang lainnya di sana.
" yasudah, ibu punya testpack cadangan, coba kamu cek dulu ya " pinta buk Rati yang kini beranjak masuk kedalam rumah untuk mengambil sebuah testpack untuk Naira, dan tak lama buk Rati yang baru saja kembali dari dalam rumah, kini dirinya segera memberikan sebuah testpack kepada Naira dan membawa gadis itu menuju arah dapur untuk segera melakukan tes hari itu.
" sudah kamu cek dulu gih, ibu tunggu di sini! " pinta buk Rati kepada Naira.
" iya buk " sahut Naira dan kini dirinya segera beranjak masuk kedalam kamar kecil.
selang beberapa lama, Naira yang kini masih berada di dalam kamar kecil, sembari menatap kesebuah wadah yang dimana terdapat sebuah testpack miliknya, Naira segera mengambil testpack tersebut dan kini menatap kearah dimana dua garis terlihat jelas di hadapannya.
Naira sontak terdiam menatap tak percaya dengan apa yang dirinya lihat, Naira seketika tersenyum dan kini beranjak keluar dari kamar kecil itu sembari menghampiri buk Rati yang kini masih berada di luar sana.
" ibuk!? " panggil Naira yang kini menatap kearah buk Rati dengan senyuman.
" kenapa? kok kamu senyum senyum sendiri, jangan nakutin ibuk " tukas buk Rati yang kini menatap kearah Naira.
" hehe.. "
" gimana? " tanya buk Rati penasaran.
srek..
Naira seketika menunjukan hasil testpack miliknya kepada buk Rati.
" Ehh, kamu beneran hamil? " tanya buk Rati dengan wajah menatap bahagia.
" iya buk " sahut Naira dengan wajah tersenyum.
buk Rati spontan beranjak dari dapur dan kini berteriak kepada pak Wawan yang tengah berada bersama Satya begitu juga Rey yang kini tampak ketiganya itu tengah asik ngobrol.
" PAK!? " panggil buk Rati kepada pak Wawan sembari menghampiri sosok pria paruh baya itu
" ada apa sih buk, kok teriak teriak, malu sama Satya dan Rey " ucap pak Wawan kepada istrinya itu.
" ihh pak, ibuk mau kasih tau! " ucap buk Rati kepada pak Wawan.
" kasih tau? apa? ibuk mau kasih tau apa? " tanya pak Wawan penasaran.
" nih " tunjuk buk Rati yang kini memperlihatkan sebuah testpack hasil yang telah di lakukan Naira barusan
Satya begitu juga Rey kini menatap bingung kearah buk Rati yang menunjukan sebuah alat kecil di hadapan pak Wawan.
" eng! Naira hamil buk? " tanya pak Wawan yang kini menatap kearah istrinya itu.
Satya seketika terdiam dan kini menatap kearah Naira yang dimana gadis itu tengah berada tak jauh dari pandangannya sembari menatap senyum dirinya, Satya seketika membalas senyuman itu dan kini beranjak menghampiri sosok Naira dan memeluk tubuh gadis itu.
...🤍🤍🤍...
__ADS_1