
***
"Guys.. bagaimana kalau kita main game saja malam ini?" ucap Firman kepada mereka semua yang kini masih berada di halaman Villa.
"Ide bagus tu, ayo!" sahut Wildan yang kini ikut bersuara.
"pak Satya sama pak Rendi mau gabung?" tanya Alex kepada mereka berdua.
"Baik kami akan gabung dengan kalian!" jawab Rendi tanpa menunggu persetujuan dari Satya.
"Apa?" sahut Satya yang kini menatap kearah Rendi.
"hehee sudahlah kak ayo kita ikut bermain." ajak Rendi yang kini menarik pergelangan tangan Satya dan membawa pria itu menuju tengah tengah api unggun.
di lain sisi, Naira yang kini ikut duduk di sana, dengan mata yang sesekali menatap kearah sosok Satya yang duduk tak jauh darinya.
Srek...
Deg...
"Ehh?" gumam Naira kaget.
"Hai?" Sapa Rendi yang kini duduk di samping Naira.
Sontak semua mata kini menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"ck.. kau lihat gadis itu, berani berani sekali dia mendekati Wk Direktur." ucap Citra kepada teman temannya.
"mmh.. apa cantiknya gadis itu cih." timpal teman satunya lagi.
namun di lain sisi Satya yang kini menatap kearah Rendi dan juga Naira dengan wajah tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
"sejak kapan mereka dekat seperti itu?" batin Satya yang masih menatap kearah mereka.
"hai?" jawab Naira kepada Rendi.
Rendi seketika tersenyum dan kini kembali menatap kearah sebuah botol yang terletak di hadapan mereka semua.
"baiklah.. kita mulai sekarang, aku akan memutar botolnya!" Ucap Firman kepada mereka semua.
Srek...
srek..
suara botol yang berputar.
terlihat putaran dari botol itu kini kian melambat.
trek..
"Oh..!" gumam mereka semua yang kini melihat botol itu berhenti menghadap kearah Winda.
"Ayo Win.. kamu harus menjawab pertanyaan dari kami, tapi... dengan alat ini, jika kau berbohong.. maka alat ini akan dengan sendirinya menyetrum tanganmu!" ujar Firman kepada Winda.
"loh.. kok ekstrim banget pak!" sahut Winda.
"ck.. gak bakalan mati juga, cuma pelan doang, ayo cepetan." sahut Firman.
__ADS_1
"iya pak iya...!" tukas Winda.
"baiklah.. aku yang akan bertanya, ehem... Winda apa kamu masih mencintai Farhan anak HRD?" tanya Yoga kepada Winda.
"Wih.. berat banget pertanyaan loh Ga." ujar Alex kepada Yoga.
"ih.. kok pertanyaan nya tentang itu sih, yang lain aja!" sahut Winda.
"nggak bisa nego dong Win.. ayo jawab!" sahut Alex lagi.
"enggak!" jawab Winda.
"enggak apa nya?" tanya Yoga.
"enggak ada rasa lagi maksudnya!" Timpal Winda, seraya menahan rasa takut akan terkena setrum.
Deg..
"loh.. kok gak nyetrum ya?" tanya Winda pelan.
"Ternyata jujur juga nih anak hahah!" ujar Firman seraya tertawa lepas.
"okeh lanjut... !"
Firman memutar kuat botol itu kembali, dan kini..
trak..
Botol itu seketika berhenti di hadapan Naira, sontak semuanya kini menatap kearah gadis itu.
"okeh.. sini alatnya, Nai letakan kelima jari mu di atas sini, jika kau menjawab pertanyaan kami dengan jujur maka alat itu tidak akan ada reaksi sama sekali, jika kau menjawab dengan berbohong.. alat itu akan menyetrum mu!" ujar Firman kepada Naira.
Naira seketika menelan ludahnya dengan kasar dan kini menatap kearah alat itu dan seraya meletakan kelima jarinya di atas sana.
"baiklah.. baiklah.. aku akan bertanya kepada sahabat ku, ehem.. Naira? apa kau pernah menyukai seseorang sampai saat ini?" tanya Winda kepada Naira.
Naira tak langsung menjawab perkataan dari Winda melainkan gadis itu memikirkan sesuatu tentang apa yang dirinya harus jawab.
namun di lain sisi Satya dan Rendi kini menatap lekat sosok Naira menunggu jawaban dari gadis itu.
"tidak." jawab Naira
Deg..
"Aah..!" teriak Naira menah sakit akibat setruman dari alat itu.
"Fiks.. kau bohong Nai, jawab yang jujur apa kau menyukai seseorang sampai saat ini?" tanya Winda lagi.
"eng.. tidak!" jawab Naira.
"Aaaa.." teriak Naira pelan.
Naira menahan sakit akibat setruman kecil di jarinya, dan dengan cepat dirinya melepas alat itu dan seraya menatap kelima jarinya itu.
Deg..
"apa kau baik baik saja?" tanya Rendi yang kini memegang tangan Naira, dan meniup lembut telapak tangan itu.
__ADS_1
Deg...
"aa.. a ku t tidak apa apa kok!" jawab Naira canggung dengan apa yang Rendi lakukan kepadanya.
sontak semua mata kini menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Ck... kenapa kau tidak menjawab jujur saja, kau lihat tangan mu memerah begini!" ujar Rendi lagi yang masih menatap tangan itu.
Namun di lain sisi Satya yang melihat reaksi Rendi yang tiba tiba peduli seperti itu, tampak dari wajah pria itu terlihat sangat jengkel.
srek..
Satya beranjak bangun dari sana dan kini menatap diam kearah Naira.
Seketika semua orang ikut berdiri, dan kini menatap bingung Satya yang masih menatap kearah Naira.
"Aku ingin kembali ke Villa, kalian lanjutkan saja!" ucap Satya kepada mereka semua.
Satya yang masih menatap dingin Naira dan kini pria itu berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang masih berada di sana.
"baik pak Satya, selamat beristirahat!" ucap mereka semua kepada Satya.
"eng.. baiklah.. aku juga akan pergi sekarang, terimakasih atas waktu nya!" ucap Rendi kepada mereka semua.
mereka semua kini menganggukan kepala mereka.
"Nai.. kamu gak apa apa kan?" tanya Winda kepada Naira.
"mmh tidak apa apa kok Win!" jawab Naira.
"Kenapa kau tidak menjawab dengan jujur saja, pak Rendi benar benar menakutkan tadi." Ujar Winda lagi.
"Aku.. aku udah jujur kok, mungkin alatnya saja yang sedikit bermasalah!" sahut Naira dengan senyum kaku.
"mmh ya sudah kita kembali ke Villa sekarang, Ayu? lo mau ikut gak?" tanya Winda.
"ikut dong ayo!" sahut Ayu yang kini ikut berlalu bersama Winda dan Naira yang menuju kembali ke Villa.
***
"Ck.. Jal*ng.. berani beraninya dia berprilaku seperti itu di hadapan pak Satya dan pak Rendi barusan!" gumam Citra, menatap tak suka kepada Naira.
Di dalam Villa.
Naira dan teman temannya kini mereka bertiga telah tiba di dalam kamar mereka bertiga.
"Nai obatin dulu tangan mu, itu merah loh!" ujar Ayu kepada Naira.
"iya Nai.. nanti takutnya infeksi loh kalau kelamaan." ujar Winda.
"mmh.. kalian tidak perlu berlebihan ini cuma merah aja, lagian nggak sakit lagi kok!" sahut Naira seraya tersenyum kepada kedua sahabatnya itu.
Namun saat mereka tengah asik mengobrol, tiba tiba suara ketukan pintu Villa mereka kini terdengar dari dalam kamar mereka.
"eeh.. siapa yang datang malam malam begini?" tanya Winda yang ternyata juga mendengar suara tersebut.
__ADS_1