Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 43


__ADS_3

Dan mencium aroma dari obat tersebut, seketika Satya memicingkan matanya dan kini menatap kembali botol itu.


"ck... apa yang Mamah lakukan? dia memberikan obat prang*ang kepada Naira!" gumam Satya


"bukankan ini harus di larutkan di dalam air, jika tidak efeck nya akan berlebihan." timpal Satya lagi.


Satya kembali masuk kedalam kamar mandi dan segera menyiapkan air hangat untuk Naira sesaat dirinya sudah selesai, Satya kini beranjak menghampiri Naira yang masih terduduk di toilet duduk.


"saya sudah siapkan, kamu mau mandi sekarang?" tanya Satya kepada Naira.


"iya Mas." jawab Naira dengan anggukan kepala.


Satya menggendong kembali Naira dan meletakan Naira di dalam bathtub yang sudah berisikan air.


Satya menatap wajah Naira dan kini dirinya bersuara.


"kamu bersikan saja dulu nanti kalau sudah selesai, kamu boleh panggil saya!" ujar Satya.


"mmh baik Mas." sahut Naira.


Satya menganggukan kepalanya dan kini berlalu pergi menuju luar untuk membersihkan wajahnya.


trass.. suara dercikan air.


Satya yang masih sibuk mencuci mukanya seketika dirinya teringat akan kejadian semalam, Satya spontan membuka kedua matanya dan menatap bayangannya melalui sebuah cermin yang terpampang jelas di hadapannya.


Satya seketika menatap sebuah bekas di lehernya, tampak di wajah pria itu sedikit memerah.


"ck.. apa yang aku pikirkan." gumam Satya yang kini menepis semua pikirannya.


Namun secara bersamaan tampak dari sebuah cermin, terlihat bayangan Naira yang baru saja keluar dari dalam ruangan kamar mandi, Satya yang masih berdiri di depan cermin itu, kini spontan menatap bayangan Naira di sana.


Satya membalikan tubuhnya dan kini menghadap kearah Naira dan menatap lekat wajah gadis itu yang sudah selesai mandi.


"kamu sudah selesai? kenapa gak panggil saya?" tanya Satya kepada Naira.


"eng.. Naira gak mau ngerepotin Mas Satya aja Mas, lagian udah gak terlalu sakit lagi kok Mas." tukas Naira kepada Satya.


"Mas Satya bersihkan dulu, tubuh Mas Satya... soal pakaian Mas Satya, Naira akan siapakan."


"jangan kekantor hari ini, soal baju saya.. nanti saya akan siapkan sendiri!" ujar Satya kepada Naira.


"tap.." belum sempat Naira melanjutkan perkataanya seketika Satya menyela.


"turuti saja ini perintah saya." sela Satya


Naira menganggukan kepalanya dan kini menatap kepergian Satya yang berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Naira bergegas menuju kembali kekamarnya dan segera memakai bajunya, sesaat dirinya sudah selesai, secara bersamaan tampak Satya yang baru saja selesai mandi kini beranjak mengambil bajunya.


"loh.. Mas Satya gak kekantor hari ini?" tanya Naira kepada Satya.

__ADS_1


Satya seketika menatap kearah Naira dan kini bersuara.


"mmh, saya akan kerja di rumah saja!" jawab Satya.


Naira mendengar jawaban Satya seketika dirinya menatap bingung pria itu yang kini sudah berlalu pergi menuju ruang ganti.


Selang beberapa lama, Naira dan Satya yang sudah selesai bersiap siap, kini mereka berdua beranjak keluar dansembari berjalan menuju ruang dapur untuk sarapan.


Namun dari arah ruang dapur tampak banyak mata kini menatap keara datangnya mereka berdua.


Naira yang menyadari tatapan itu kini dirinya menatap kearah Satya dalam diam dan kembali menatap kedepan.


"kalian sudah selesai? ayo duduk kita sarapan bersama."


"eng.. sepupuh ipar, kau kenapa? kenapa kau berjalan seperti itu?" tabya Beni yang tiba tiba ikut bertanya.


Deg...


Satya menatap kearah Beni dan menatap tajam kearah sepupuhnya itu yang selalu banyak bertanya.


"ah.." gumam Naira yang ingin bersuara.


"habis jatuh, Naira habis jatuh!" sambung Satya cepat.


"jatuh? apa yang sepupuh ipar lakukan sampai dirinya terjatuh?" tanya Beni lagi.


"Ck.. kau ini, simpan saja semua pertanyaan mu itu!" timpal Satya lagi dan kini menarik Naira untuk duduk.


"Akh..!" pekik Naira menahan sakit.


Spontan semua mata kini menatap kearah Naira yang meringis kesakitan.


"kamu kenapa? apa sesakit itu? bagaimana kalau kedokter saja?" ujar Satya yang tampak khawatir.


Naira spontan menatap kearah Satya yang masih menatap dirinya.


"Mas Satya apa apaan sih, kenapa harus di bawa kedokter cobak." batin Naira sembari tersenyum paksa kearah Satya.


Satya yang menyadari arti senyuman itu kini dirinya baru sadar akan kejadian yang membuat gadis itu sakit akibat ulahnya.


Namun di lain sisi, buk Wulan dan Ny Aran kini tersenyum melihat kearah Naira dan Satya.


"Wulan, aku rasa semua rencana kita berjalan dengan sempurnah semalam!" ucap Ny Aran berbisik kepada buk Wulan.


"mmh.. kau benar Aran, tidak sia sia, ide yang kau berikan kemarin!" sahut buk Wulan kepada Ny Aran.


Namun lagi lagi Satya yang menyadari tingkah kedua wanita paruh baya itu kini dirinya bersuara.


"ehem.. Mamah?" panggil Satya kepada Mamahnya.


"iya nak?" sahut buk Wulan.

__ADS_1


"Satya boleh tanya, apa yang Mamah berikan semalam kepada Naira?" tanya Satya keinti permasalahan.


"eng.. oh itu Vitamin...!"


"Mamah gak bohong kan? Satya buka itu bukan Vitamin loh Mah!" ujar Satya kepada Mamahnya.


Buk Wulan seketika terdiam sejenak dan kini memulai kembali berbicara.


"mmh ya, karena kamu selalu menunda Satya, jadi Mamah lakukan saja ide Ny Aran!"


Sontak Satya menatap kearah bukdenya itu.


"apa?" sahut Satya tak percaya.


"jadi... bukde sama Mamah? kalian?" timpal Satya dengan wajah masih menatap tak percaya.


"apa yang kalian lakukan?" tanya Tn Marchel kepada buk Wulan dan Ny Aran.


"rahasia wanita!" sahut buk Wulan kepada Tn Marchel.


Tn Marchel seketika memicingkan matanya menatap heran kedua gadis itu yang tidak mau memberitahukan sesuatu.


kini mereka semua menikmati sarapan mereka bersama pagi itu, tampak terlihat Naira tak berselera untuk memakan sarapannya.


Naira menatap kearah Satya yang masih menyantap makanannya dan kini dirinya bersuara kepada pria itu.


"Mas Satya, Naira kekamar dulu ya Mas." ujar Naira yang kini bersuara.


"kenapa? sarapan kamu juga belum habis." tanya Satya kepada Naira.


"Naira udah kenyang Mas." jawab Naira yang kini beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan mereka semua di sana dan kembali kekamarnya.


Satya menatap diam Naira begitu juga yang lainnya kini ikut menatap kearah Naira yang berlalu pergi meninggalkan mereka semua di sana.


"Sat Naira kenapa?" tanya buk Wulan kepada Satya.


srek.. suara bangku di geser.


"Satya mau kekamar Mah!" ucap Satya yang kini ikut pergi.


sontak semua mata kini menatap bingung Satya.


"kenapa mereka berdua?" tanya Ny Aran kepada buk Wulan.


"entahlah.." jawab buk Wulan yang juga bingung.


Di dalam kamar Naira yang sudah berada di sana, kini dirinya beralalu menuju teras kamar itu dan duduk di salah satu bangku santai di sana.


Satya yang kini juga tiba di kamar itu dengan mata yang kini menatap kearah Naira yang duduk di teras kamar itu.


......☘️☘️☘️......

__ADS_1


...𝚝𝚘 𝚋𝚎 𝚌𝚘𝚗𝚝𝚒𝚗𝚞𝚎...


__ADS_2