Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 50


__ADS_3

Naira yang mendengar penuturan Melisa tampak terdiam bingung akan sifat gadis itu yang begitu terobsesi dengan sosok Satya.


Naira sontak tersenyum kecil, dan kini menatap kearah dimana yang lainnya berada, dan kini beralih menatap kearah Melisa yang masih menatap remeh dirinya.


" coba saja, jika kau bisa.. apa yang akan kau lakukan? Dengan gadis yang sudah.... " ucap Naira sembari memegang perutnya.


Melisa sontak menatap kearah perut Naira dan kini menatap tajam gadis itu.


" bagaimana bisa, kak Satya tidak akan mudah tertarik begitu saja untuk melakukannya " ucap Melisa.


" benarkah? Tapi sayang benih nya udah tertanam di sini " ucap Naira kepada Melisa dan kini berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang begitu tampak marah.


" Arrgh.. Lihat saja kau nanti, aku tidak akan membiarkan itu terjadi " ucap Melisa marah.


namun di lain hal, Naira yang sebenarnya cukup takut menghadapi gadis itu seketika dirinya mencoba untuk bersikap tenang.


" huh.. Sabar Naira sabar, lagian ancaman seperti itu lumayan untuk kau lakukan " gumam nya pada dirinya sendiri.


Satya yang masih berada di dalam mobilnya dengan mata yang kini menatap jauh kearah Naira yang tampak bergumam sendirian.


" apa yang dia bicarakan sendirian " gumam Satya yang masih menunggu keberadaan Naira di dalam mobil tersebut.


Bamm.


" sudah? " tanya Satya yang kini mulai bersuara kepada Naira yang sudah tiba di dalam mobil tersebut.


" eng.. Sudah mas, ayo jalan " ucap Naira yang masih tampak sedikit gemetar.


Satya kini melajukan mobilnya menuju perusahaan pada pukul 07.32, namun tak lama, kini mereka berdua telah tiba di depan perusahaan tersebut, Satya segera melajukan mobilnya menuju basment yang dimana tempat parkiran mobil di perusahaan itu.


Di parkiran.


Naira yang sudah berada di luar mobil dan diikuti Satya yang kini tengah menatap kesebuah jam tangan miliknya.


" hari ini ada meeting, jadi bawa semua berkas yang ada di ruangan, sebelum itu sarapan dulu setelah selesai segera keruangan meeting " ujar Satya kepada Naira.

__ADS_1


Naira seketika menganggukan kepalanya dan kini berlalu mengikuti Satya menuju dalam perusahaan dan berlalu menuju ruangan kerja milik pria itu.


Namun sesampainya di koridor perusahaan Naira seketika besuara kepada Satya untuk kesekian kalinya.


" pak Satya? " panggil Naira kepada Satya.


" kenapa? " tanya Satya yang kini menatap kearah Naira sekilas.


" boleh saya pindah ruangan kerja pak " ujar Naira sedikit takut akan perkataanya.


Satya seketika menghentikan langkahnya dan kini menatap intens gadis itu yang berdiri di sampingnya.


" kenapa? " tanya Satya kepada Naira.


" eng.. Bukan apa apa pak Satya, cuma sepi saja jika saya sedang bekerja " ucap Naira sembari tersenyum canggung.


" saya gak izinkan, kalau kamu mau, bawa saja Winda ikut pindah bersama kamu " ucap Satya yang kini melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


" eng.. kedengarannya tidak buruk, aku akan membawa Winda saja kalau begitu " gumam Naira dengan wajah tersenyum girang dan kini berlalu mengikuti Satya menuju ruangan pria itu.


Sesampainya di ruangan milik Satya, Naira segera mengambil beberapa berkas yang telah di kerjakannya dan kini kembali mengecek isi berkas berkas tersebut, namun alih alih Satya yang tengah duduk di bangkunya dengan wajah yang kini menatap lekat Naira yang masih fokus melihat berkas berkas tersebut.


" tidak perlu, kamu hanya memperhatikan data di layar sama berkas mu saja, setelah semuanya sesuai, berikan kepada saya " ujar Satya kepada Naira.


" oh baiklah pak, saya permisi dulu " ucap Naira yang kini berlalu meninggalkan ruangan itu, dengan diikuti tatapan Satya yang masih memandang senyum sosok Naira yang begitu berbeda.


di luar ruangan, Naira yang kini beranjak duduk di bangku tempat dirinya bekerja yang terletak di depan ruangan milik Satya sembari menatap kesebuah layar ponsel miliknya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Winda.


Setelah dirinya telah selesai mengirimkan sebuah pesan, Naira kini menatap kesebuah jam mini yang terletak di atas meja kerjanya yang dimana hari sudah menunjukan pukul 08.56, Naira seketika tertegun sembari berpikir bahwa dirinya belum sarapan pagi itu namun beberapa menit lagi meeting akan segera di mulai.


Cklek..


" Nai, saya tunggu di ruangan meeting, sekarang " ucap Satya yang dimana terlihat pria itu yang sudah berada di depan ruangan kerjanya sembari membawa jas miliknya menuju ruang meeting.


" Iya " sahut Naira yang kini bergegas mengikuti Satya menuju ruang meeting pagi.

__ADS_1


Mᴇᴇᴛɪɴɢ Rᴏᴏᴍ.


Sesampainya di ruang meeting, Naira begitu juga Satya yang dimana tampak keduanya itu kini tengah berada di ruangan tersebut sembari menatap diam suasan ruangan meeting tersebut yang sudah di penuhi para karyawan begitu juga staff dari perusahaan lain.


" selamat pagi pak Satya? " ucap seorang pria kepada Satya yang baru saja duduk di bangkunya.


" pagi " jawab Satya dengan sedikit tersenyum.


Naira yang kini duduk di bangku yang terletak di bagian tengah sembari menatap sosok Rendi yang juga ikut berada di dalam ruangan itu yang dimana pria itu tengah berada di sisi layar proyektor.


" baiklah kita mulai saja meeting hari ini, lagian pak Satya juga sudah tiba sekarang " ucap salah satu diantara mereka yang kini bersuara.


Tak lama meeting tersebut dimulai, Naira yang kini mulai membuka berkas miliknya dan kini menatap fokus layar tersebut yang dimana sudah menunjukan beberapa data stastistik yang akan di rencanakan bulan depan.


" *huh, kenapa kepalaku pake acara pusing segala, saat di acara penting seperti ini " batin Naira sembari memijad pelan kepalanya.


" mungkin akibat aku tidak sarapan tadi pagi " timpalnya lagi yang kini menatap fokus layar proyektor yang berada jauh di hadapannya.


" sabar... Sabar hanya satu jam, mungkin itu tidak akan lama " gumam Naira yang mencoba untuk tenang*.


waktu terus berlalu, tampak hari sudah menunjukan pukul 09.57, Naira yang sudah tampak terlihat sedikit lemas mencoba untuk menyelesaikan meeting hari itu.


bruk...


Naira seketika merebahkan kepalanya di atas meja tersebut sembari mengangkat sedikit tangannya keatas, Satya yang menyadari tingkah Naira seketika pria itu menatap bingung Naira yang terlihat seperti itu.


" pak, perut saya keram, saya lemas, apa boleh saya keluar sebentar " ujar Naira yang masih dalam posisi yang sama.


" eng " gumam Satya yang masih menatap bingung Naira.


Sontak semua orang kini menatap kearah Naira yang sudah terlihat berkeringat dan tampak lemas.


" saya mau izin keluar sebentar pak, perut saya keram " ucap Naira kesekian kalinya.


" baiklah " sahut Satya yang kini masih terlihat bingung.

__ADS_1


Naira spontan beranjak bangun dan sedikit tergesa gesa berlalu menuju luar ruangan itu dengan wajah penuh keringat.


...***...


__ADS_2