
" mas Satya, eng ayo mas kita pulang saja, mas Satya gak usah ribut, disini banyak orang gak enak " ucap Naira yang kini berbicara sedikit pelan kepada Satya yang masih berada di sana.
srek..
Satya sontak melepaskan tanganya dan kini menarik pelan tangan Naira dan membawanya pergi menuju kembali kerumah.
" ey kukira masih gadis, ternyata istri orang " ucap pria itu yang kini menatap jauh kepergian Satya dan Naira dari sana.
brukk..
" gimana, loe sudah gagal kan? cepat berikan uang loe, gue butuh rokok nih " ucap teman pria itu yang ternyata juga ikut berada di sana.
" ck.. gue kalah bukan gak gak bisa, tapi sudah istri orang, untung nih pipih gue gak kena bogem, kalo sampe, bisa bisa hilang wajah gue yang tampan ini " ujar Pria itu yang kini memberikan selembar uang kepada temannya.
" cupu loe, istri orang aja loe takutin, makanya liat liat dulu kalo mau deketin " sahut teman pria itu lagi.
" gue mana tau, orang ceweknya cantik, masih muda juga, ya jelas gue pikir masih singel tau taunya bini orang " sahut pria itu tak kalah.
" sudah sudah... lebih baik kita pergi sekarang "
Di lain sisi, di rumah Satya dan Naira yang baru saja tiba di ruang tengah, namun tampak terlihat dari wajah Satya yang dimana pria itu seperti tengah menahan amarahnya.
" enak ya sudah di pegang tangannya sama cowok lain? gimana? " cibir Satya yang mengingat kejadian tersebut.
" apaan sih mas, Naira aja gak tau tu, orang tiba tiba pegang Naira " sahut Naira yang kini duduk di sopa.
brukk
Satya seketika beranjak duduk di samping Naira dan kini menatap lekat wajah gadis itu yang terpaut dekat dengannya.
" tapi kamu suka kan? " sahut Satya yang masih merasa cemburu.
" ya tuhan, mas Satya mana mungkin Naira suka, aneh aneh saja loh pikiran mas satya " sahut Naira yang kini menatap bingung sifat Satya yang begitu banyak berubah.
" ohh " sahut Satya yang kini beranjak dari tempat duduknya dan berlalu menuju pintu luar.
" mas Satya mau kemana? " tanya Naira yang kini menatap Satya yang menuju pintu luar.
" mau cari makanan, mas Laper, kamu gak masak kan? " ucap Satya kepada Naira.
" kok Naira mas tinggal sih " sahut Naira.
Satya spontan menatap kearah Naira yang kini menatap memohon seperti anak kecil kearahnya.
__ADS_1
" sini " tukas Satya yang kini mengulurkan tangannya kearah Naira.
Naira sontak tersenyum lebar dan kini membalas uluran tersebut dan ikut berlalu pergi bersama Satya menuju sebuah food street.
" ayo " ucap Naira yang kini tampak bahagia.
" kamu bukannya sudah makan tadi? " ucap Satya kepada Naira yang kini mereka telah berada di dalam mobil.
" tapi Naira masih lapar mas " sahut Naira.
" kecil kecil gini, nafsu makan mu ternyata besar juga " tukas Satya.
" Naira aja gak tau loh, kenapa Naira sering laper padahal Naira baru saja makan beberapa menit yang lalu tapi masih lapar " jelas Naira lagi
" kamu makan gak baca doa? " sahut Satya yang kini menatap kearah Naira sekilas dan kembali fokus mengendarai mobilnya
" enak aja, Naira baca doa kok, tapi emang dasar cacing nya aja yang kaya gak di kasih makan " cetus Naira.
" cacing lagi di salahin " gumam Satya yang kini bisa di dengar oleh Naira.
" kalo bukan cacing, jadi apa? ada bayi gitu? " sahut Naira ceplqs ceplos.
Satya sontak menatap kearah Naira yang kini duduk di bangku sampingnya.
" tapi Naira belum siap mas " sahut Naira seketika.
Satya yang mendengar perkataan Naira barusan sontak kini dirinya menghentikan mobilnya dan kini kembali menatap Naira yang duduk di sampingnya.
" alasan kamu belum siap kenapa? " tanya Satya pelan.
" Naira masih kerja, kalau Naira udah hamil, punya anak terus Naira gak bisa kerja lagi mas " sahut Naira.
Satya spontan menepuk jidadnya dan kini bersandar di bangku pengemudi.
" Naira!? kamu gak boleh egois, kalau pun kamu hamil nanti, mas juga gak akan biarin kamu kerja lagi " jelas Satya kepada Naira.
" tapi mas, Naira bosan diam di rumah mulu, apa lagi sendirian, mas gak mungkin kan bakalan temenin Naira di rumah terus terusan. " sahut Naira.
" lalu mau kamu gimana? mas gak mau nunda " timpal Satya.
" yaudah kalau Naira hamil, tapi mas Satya harus izinin Naira kerja gimana? " tukas Naira.
Satya seketika berpikir sejenak dan kini menatap jauh kedepan.
__ADS_1
" nanti saja mas pikirin " ucap Satya yang kini kembali melajukan mobilnya.
" mas Satya gak boleh egois ya mas " celetuk Naira.
" mas gak egois kok " sahut Satya yang kini menepikan mobilnya memasuki sebuah halaman kosong yang dimana merupakan parkiran untuk mobil.
cklek..
Bamm
suara pintu di tutup begitu saja.
Satya begitu juga Naira yang kini keduanya itu sudah tiba di sana, Naira yang kini berada di samping Satya seketika pandangannya tertuju kesebuah toko kecil yang menjual berbagai macam assesoris, Naira seketika beranjak menuju toko tersebut.
namun di lain hal Satya yang melihat Naira tiba tiba berlalu pergi begitu saja, namun dengan cepat pria itu mengikuti arah gadis itu berada.
" mas Satya bagus gak mas? " Tanya Naira yang kini sudah tiba di sana, sembari menunjukan sebuah gelang berwarna coklat kepada Satya.
" bagus, tapi untuk siapa? " tanya Satya bingung.
" untuk mas Satya, ini pake mas Satya kan gak pernah pake gelang yang kaya gini, jadi biar Naira kasih " ucap Naira yang kini memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan Satya.
Satya seketika tertegun dan kini menatap lekat gelang tersebut yang begitu terlihat manis di tangannya yang berwarna kulit putih cerah.
" Naira juga punya " ucap Naira.
" yang di kasih Rendi, kamu masih memakainya " sahut Satya yang kini meraih tangan Naira.
" eng, ohh yang ini... ini Naira dapetin waktu menang permainan kok mas, Rendi cuma pilih hadiah nya " jelas Naira lagi.
" ohh " sahut Satya dingin.
" mas Satya marah, Naira gak ada rasa kok mas sama Rendi, Rendi sudah seperti sahabat sendiri bagi Naira, meski pun Naira suka, mungkin Naira harus sadar, kalau Naira sudah punya suami " timpal Naira menjelaskan.
" mas gak marah, cuma... kesal aja " sahut Satya tersenyum datar, dan kini hendak berlalu pergi dari sana.
" tunggu mas? " sela naira yang kini menghentikan Satya.
" mmh kenapa? " tanya Satya yang kini menatap kembali Naira.
" engg heheh mas Satya bayar dulu gelangnya, nanti dirumah Naira ganti kok " bisik Naira pelan.
Satya sontak tertawa, dan kini memberikan selembar uang kepada penjual tersebut dan berlalu pergi membawa Naira menuju suatu jalan yang dimana di sana terdapat banyak orang yang menjual makanan.
__ADS_1
...***...