Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 41


__ADS_3

Di lantai bawah, Naira dan Satya yang kini sudah berada di sana, seketika mereka di kejutkan dengan suara seseorang yang kini memanggil dirinya.


"Satya Dir...." belum sempat orang tersebut melanjutkan perkataanya seketika Satya bersuara.


"Ada apa?" tanya Satya menyela perkataan Beni.


"huh... sifat kau ini kenapa selalu membuat orang kesal kepadamu!" ujar Beni kepada Satya.


"ck.." gumam Satya yang kini beranjak menghampiri kedua pasangan suami istri dan diikuti Naira.


"apa kabar pakde, bukde?" ucap Satya kepada Tn Salim dan Ny Aran.


Satya kini berlalu menyapa lembut kedua Om dan Tantenya.


"bagaimana kabarmu Sat?" tanya Tn Levi kepada Satya.


"Satya baik saja Om!" jawab Satya.


"Dia istrimu Sat? siapa namanya?" tanya Ny Aran kepada Satya.


Satya menatap kearah Naira yang kini duduk di sampingnya.


"Naira, bukde!" jawab Satya kepada Ny Aran.


"Cantik loh!" timpal Ny Aran.


Naira tersenyum dan kini menyalim lembut tangan mereka semua.


"halo tante Naira? kenalkan aku Rara keponakan cantik om Satya!" ucap anak kecil yang berusia 5 tahun kepada Naira.


"Hai.. cantik!" sahut Naira.


"wah.. lalu kapan kalian akan punya momongan?" ucap Beni tiba tiba.


"huks.. huks..!" Satya tersedak mendengar penuturan Beni kepada mereka.


"Satya, pelan pelan minumnya!" ucap buk Wulan kepada Satya.


"iya loh Sat, kapan kalian? kan sudah waktunya toh untuk punya momongan!" timpal Ny Aran kepada Satya.


Satya membuang nafasnya dengan kasar, dan seketika dirinya bersuara.


"ehg.." belum sempat Satya berbicara seketika buk Wulan menatap Satya yang dimana wanita itu mengingati kepada Satya soal permintaanya.


"aah..!" gumam Satya yang tidak tahu mau berbicara apa lagi.


Satya seketika menatap kearah Naira, meminta gadis itu untuk menolongnya, Naira yang menyadari tatapan tersebut seketika dirinya bersuara.


"eng.. kami belum kepikiran soa..."


"Satya? kamu ingat bukan?" sambung buk Wulan kepada Satya.


"iya Mah Satya ingat!" jawab Satya.


"gak ada penundaan!" timpal buk Wulan lagi.

__ADS_1


"iya Mamah!" sahut Satya lagi.


"Wulan?" panggil Ny Aran kepada buk Wulan


"mmh!" sahut buk Wulan yang kini menatap kearah Ny Aran.


Ny Aran seketika membisikan sesuatu ketelinga buk Wulan, tampak terlihat di wajah wanita paruh baya itu sedikit berubah.


"bagaimana?" ucap Ny Aran


"apa itu tidak berefeck samping?" tanya buk Wulan


"mmh, sedikit... mereka akan merasakan sesuatu saja nantinya!" tukas Ny Aran lagi.


"baiklah.. kita coba saja nanti malam kepada mereka." sahut buk Wulan.


Satya yang menyadari kedua wanita paruh baya itu yang tengah asik berbincang kini dirinya menatap bingung apa yang kedua wanita itu bicarakan.


"apa yang Mamah sama bukdek bicarakan saat ini?" gumam Satya yang masih menatap bingung kedua wanita paruh baya itu.


Namun saat dirinya tengah melamun tiba tiba Melisa memeluk lengan Satya dengan begitu manja.


Satya begitu juga yang lainnya kini menatap bingung Melisa.


"Mel, kamu gak biasa biasanya toh kaya gitu sama Satya?" tanya Ny Monic kepada Melisa putrinya itu.


"Mamah gak tau saja, selama kak Satya keluar negeri, Kak Satya gak pernah lagi kan kerumah kita." jelas Melisa kepada Ny Monic dan kini menatap kearah Naira.


"Kamu udah besar Mel, gak boleh lagi kamu kaya gitu, lagian Satya sudah punya istri!" timpal Tn Levi.


"ck..!"


"Mel, umur mu udah 23 tahun toh.. ngapain masih kaya anak kecil segala!" ujar Beni yang kini ikut bersuara.


Naira yang masih berada di sana kini hanya menatap diam, kearah Satya dan Melisa yang duduk di samping dirinya.


"ck..!" gumam Melisa yang kini beranjak pergi meninggalkan mereka yang ada di sana.


"Tante Naira? Tante jangan marah sama Tante Melisa, Tante Melisa memang suka begitu orang nya!" ucap Rara kepada Naira.


"mmh Tante gak marah kok sayang!" sahut Naira.


Namun tampak dari arah luar terlihat Tn Marchel kini telah tiba di rumah.


"Papah baru pulang Mah?" tanya Satya kepada buk Wulan.


"mmh iya, tadi katanya ada kliennya datang!" jelas buk Wulan kepada Satya.


"oh.." sahut Satya.


"Om Satya? kapan Om Satya punya dedek kecil?" tanya Rara tiba tiba.


Deg...


"Ffthh..!" seketika semuanya menahan tawa akibat perkataan dari Rara anak kecil itu.

__ADS_1


Satya yang mendengar perkataan dari Rara, seketika dirinya menelan ludahnya dengan kasar.


"Rara, gak boleh gitu!" ucap Ny Aran kepada Rara.


"Mamah, Rara kan cuma tanya doang sama Om Satya!" ucap Rara kepada Ny Aran.


Namun saat mereka tengah asik mengobrol, tampak Tn Marchel kini beranjak menghampiri keberadaan mereka disana.


"Apa kabar saudaraku?" ucap Tn Levi kepada Tn Marchel yang kini memeluk adiknya sendiri.


"baik Lev, lalu kau?" ucap Tn Marchel sembari bertanya balik.


"aku juga!" jawab Tn Levi kepada Tn Marchel.


"oh bagaimana kalau lebih baik kita makan siang dulu, setelah itu nanti kita mengobrol lagi." ucap Tn Marchel, kepada mereka semua.


"ide bagus, ayo kita keruang makan sekarang!" ujar Tn Levi.


Tampak yang lainnya kini beranjak menuju ruang makan, namun tidak dengan Naira yang masih berdiam diri di sana.


"Kamu kenapa?" tanya Satya yang ternyata menyadari keberadaan Naira yang masih berada di sana.


"tidak ada Mas." jawab Naira sembari tersenyum kikuk.


"lebih baik kita kesana cepat!" ajak Satya yang lagi lagi menarik tangan Naira dan membawa gadis itu menuju ruang makan.


Sesampainya di ruang makan Naira dan Satya kini duduk di salah satu bangku kosong di sana, dan segera menikmati makan siang bersama siang itu.


"kak Satya mau makan sesuatu, akan ku ambilkan jika kak Sat...."


"tidak perlu Lisa!" sahut Satya memontong perkataan Melisa kepadanya.


"oh baiklah." tukas Melisa dengan tersenyum kecut.


Kini mereka semua kembali menikmati makan mereka, dan Sesekali bercerita, mengenai pekerjaan dan bahkan kehidupan mereka.


Waktu terus berlalu, tampak hari sudah terlihat gelap, Naira yang kini berada di kamar, sembari memainkan handphonenya. Namun secara bersamaan sebuah notif dari Rendi kini terlihat di layar handphone gadis itu.


Naira membuka pesan tersebut dan membacanya.


"Nai? kau ada dimana? aku berkunjung kerumah mu, tapi kulihat rumah mu tidak ada seseorang" ucap Rendi dalam sebuah pesan.


Naira membulatkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang dirinya baca.


"eng.. aku lagi keluar Ren, mungkin lain kali saja, maaf aku tidak tau kalau kamu berkunjung saat ini!" balas Naira kepada Rendi.


tring..


"oh.. tidak masalah, mungkin lain kali aku akan mengunjugi mu lagi!" balas Rendi kesekian kalinya.


"mmh baiklah... sampai jumpa lain kali Ren!" balas Naira sembari mengakhiri pesan tersebut.


...🍀🍀🍀...


...𝚃𝚘 𝙱𝚎 𝙲𝚘𝚗𝚝𝚒𝚗𝚞𝚎...

__ADS_1


__ADS_2