
" pak Rendi resign? kenapa? bukannya pak Satya sama pak Rendi baik baik aja kan ya? " sambung Firman yang kini menatap kearah Alex dan yang lainnya.
" ngomong ngomong, pak Satya hari ini juga gak masuk!? " timpal Ayu yang kini mulai bersuara.
" bukan cuma pak Satya, Naira juga gak masuk hari ini!? " sambung Winda tiba tiba.
" eh buset keceplosan gue " gumam Winda yang kini memukul pelan jidadnya.
" eng, Naira gak masuk? pak Satya juga? apa bener nih gosip mereka Win? kalo pak Satya sama Naira punya hubungan spesial? " tanya Laras kepada Winda.
" n nggak.. gak tau gue " sahut Winda seketika mengelak.
" biasanya kan jaringan gosip loe lebih luas dari pada Internet gue, pasti loe ada nyembunyiin sesuatu dari kita ya Win? udah kasih tau aja lama lama juga kebongkar kok " cetus Firman lagi.
" dih.. gue mana tau, soal Naira sama pak Satya, orang mereka berdua cuma sekretaris dan CEO doang kan, ya pasti mereka sering pergi sama sama " ucap Winda.
" bener juga sih, tapi soal pak Rendi, bukannya pak Rendi juga deket sama Naira " sambung Ayu tiba tiba.
plak.. sebuah tangan kini memukul pelan pundak Ayu begitu saja.
" omongan loe yu, di jaga bagaimana jika mereka bergosip yang nggak nggak nantinya " bisik Windak kepada Ayu.
" Ehh iya Win, lupa gue, keceplosan nih mulut sumpah " sahut Ayu.
" wih.. jangan jangan nih, ada sangkut pautnya nih sama pak Satya, Naira dan pak Rendi " celetuk Alex yang kini berpikir jauh.
" bisa jadi sih " sambung Firman lagi.
" dih apaan sih, cewek kaya Naira kok di rebutin, emangnya secantik apaan Naira? " cetus Clara yang kini mulai bersuara.
" emang Naira cantik kok Ra, loe aja kan yang iri sama Naira, karena Naira bisa jadi Sekretaris pribadi pak Satya tiba tiba, apa lagi Naira deket sama pak Rendi dan pak Satya. " celetuk Alex kepada Clara.
Namun di lain hal, Naira yang kini tengah bolak balik kekamar mandi sembari memuntahkan semua isi perutnya di sana.
" hoek.. "
" mas sudah bilang, jangan makan mangganya pagi pagi, nanti perut kamu sakit " ucap Satya yang kini membantu Naira untuk bangun dari lantai.
" mas Satya ngomel muluk dari tadi " cetus Naira yang kini duduk di lantai kamar mandi.
__ADS_1
" ya jelas mas ngomel, kamu aja keras kepala di bilangin tapi gak di dengerin " cibir Satya yang kini menarik pelan tubuh Naira yang masih terduduk di lantai kamar mandi.
" kita ke dokter aja gimana? " pinta Satya yang kini membopong tubuh Naira dan membawanya menuju sopa ruang tengah.
" gak usah mas, Naira baik baik aja kok, Naira ingin istirahat sebentar aja " ucap Naira yang kini duduk di atas sopa coklat dan sembari merebahkan tubuhnya di sana.
" tidur di kamar aja gimana? " tanya Satya yang kini terlihat khawatir.
" gak mau, Naira mau disini aja " ucap Naira yang kini menatap layar ponselnya.
tring...
tring...
suara notif yang terus terusan kini muncul di layar ponsel Naira, Naira spontan menatap bingung layar ponselnya yang di penuhi obrolan Chat dari Winda.
Naira sontak membuka isi pesan tersebut dan sembari membaca satu persatu isi pesan itu, namun seketika pandangnya kini terhenti saat membaca sebuah pesan yang dimana baru saja di kirimkan kepadanya beberapa menit yang lalu.
" Nai, ada gosip nih! kamu tau kalo pak Rendi resign hari ini? pak Satya juga gak masuk hari ini? " ucap Winda dalam isi pesan tersebut.
" eng " gumam Naira tertegun dan kini menatap kearah Satya yang kini tengah duduk di hadapan dirinya.
" mmh mas Satya? " panggil Naira yang kini membuyarkan ke sibuk Satya yang dimana pria itu tengah menatap layar ponselnya.
" mmh iya!? " sahut Satya yang kini menatap kearah Naira.
" eng, mas Satya sudah tau, kalau Rendi udah resign dari kantor hari ini? " tanya Naira kepada Satya.
" ohh, sudah! " ucap Satya yang kini mengalihkan pandangan nya kembali menatap kearah layar ponselnya.
" mmh, mas Satya kok biasa biasa aja " ujar Naira yang kini menatap bingung Satya.
" lalu mas harus gimana? nangis? minta Rendi untuk tetap kerja di perusahaan? " jawab Satya.
" tapi Ren.. " ucap Naira seketika terpotong begitu saja.
" kamu suka sama Rendi? " sela Satya seketika
" nggak kok mas " sahut Naira.
__ADS_1
" yaudah, kalo gak suka untuk apa di perpanjang masalahnya, kalo Rendi ingin resign, mas harus gimana? minta Rendi balik? nggak! itu semua tergantung dari dia sendiri " jelas Satya kepada Naira.
" mmh yaudah " sahut Naira yang kini beranjak bangun dari sana.
" mas, Naira mau kerumah ibuk, boleh kan, Naira bosen di rumah, sudah lama Naira gak kerumah ibuk " tukas Naira yang kini duduk di samping Satya.
" sama mas aja, jangan sendirian " ucap Satya yang kini menaruh kembali ponselnya di saku celana.
" okeh, Naira ganti baju dulu mas " tukas Naira yang kini beranjak menuju kamarnya dan segera mengganti pakaiannya menggunakan dress pendek dengan rambut yang kini tersanggul rapi.
setelah selesai, Naira segera beranjak turun dari kamarnya dan menghampiri keberadaan Satya yang masih berada di ruang tengah.
" ayo mas " tukas Naira yang kini sudah bersiap siap.
" mmh " Satya sontak menatap kearah Naira yang kini menggunakan dress pendek.
" apa itu tidak terlalu pendek? " tanya Satya yang masih menatap kearah Naira.
" gapapa kok mas, lagian Naira gerah pakai yang panjang " ucap Naira yang kini beranjak menuju luar rumah dan diikuti Satya yang berjalan di belakang gadis itu.
setibanya mereka di mobil, Satya segera melajukan mobilnya melintasi jalan kota dan membawanya menuju ke suatu tempat yaitu rumah ibu mertuanya.
selang beberapa lama, Satya begitu juga Naira yang kini baru saja tiba di halaman rumah itu, seketika mereka di kejutkan dengan keberadaan sepupuh jauh Naira yaitu Rey dan Tiara di sana.
Naira sontak beranjak keluar dari mobil dan kini menghampiri sosokTiara begitu juga Rey di sana.
" kalian? " panggil Naira yang kini menatap kearah Tiara dan Rey.
" Nai? " panggil Rey yang kini menatap senyum Naira yang kini berada tepat di hadapannya.
" tumben gak ngabarin mau kemari? " cetus Naira yang kini menatap kearah Rey dan Tiara.
" kita juga baru nyampe kok Nai, oh ya Nai siapa tu? " ucap Rey yang kini menatap kearah Satya yang kini beranjak menghampiri keberadaan mereka di sana.
" suaminya Naira lah " sahut Naira kepada Rey.
" Ehh.. suami mu? " sahut Rey yang kini menatap kembali Satya yang sudah berada tepat di hadapannya yang dimana tampak pria itu kini menatap dingin sosok Rey, namun alih alih dari arah pintu rumah terlihat buk Rati dan pak Wawan beranjak keluar dari rumah mereka, sembari membawa sekeranjang buah dan beberapa ekor ayam untuk mereka memanggang.
" Rey? coba hubungi Naira untuk kema.... Ehh!? " ucap buk Rati seketika terhenti saat mendapati sosok Naira dan Satya yang kini sudah berada di sana.
__ADS_1
...🤍🤍🤍...