Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 22


__ADS_3

"mas Satya? kita mau pulang kemana?" tanya Naira yang kini membuka suaranya.


"kerumah saya!" jawab Satya dengan wajah yang masih pokus menyetir.


"ohh baiklah!" jawab Naira yang kini kembali menatap kearah luar jendela.


selang beberapa lama, di sebuah rumah mewah dan megah, terlihat beberapa mobil mewah kini terpakir di sana.


Naira yang masih berada di dalam mobil kini terdiam paku menatap kearah rumah itu.


"mas Satya ini rumah siapa?" tanya Naira kepada Satya untuk kesekian kalinya.


"rumah saya!" jawab Satya singkat, dan kini beranjak keluar dari mobilnya dan diikuti oleh Naira.


***


Di dalam rumah, Satya dan Naira yang kini sudah tiba di dalam sana.


Satya yang kini menghentikan langkahnya seraya menatap kearah Naira yang masih berdiri di belakangnya.


"Kamu pergilah kekamar duluan, bersihkan tubuhmu, nanti saya akan menyusul!" ucap Satya kepada Naira dan kini berlalu menuju ruang lain.


Naira yang mendengar perkataan Satya yang ingin menyusulnya, seketika gadis itu bergedik ngeri membayangkan sesuatu yang akan terjadi kepadanya.


Naira bergegas menuju lantai atas yang dimana kamar Satya berada.


namun saat dirinya berada di koridor seketika Naira menghentikan langkahnya menatap bingung ruangan ruangan itu.


"eng.. dimana kamarnya?" gumam Naira yang kini menatap keseluruh ruangan itu.


"kenapa aku bodoh sekali, aku lupa menannyakan dimana kamarnya!" gerutu Naira yang kini menepuk pelan jidadnya.


namun saat dirinya hendak berbalik untuk kembali menemui Satya seketika dirinya di kejutkan dengan kehadiran Asisten rumah itu.


"selamat malam Nyonya?" ucap Asisten itu kepada Naira.


Naira yang mendengar seseorang menyapanya seketika dirinya menatap keberadaan orang itu.


"oh.. iya!" jawab Naira yang kini menatap Asisten itu.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Asisten rumah itu kepada Naira


"eng.. kamar Mas Satya dimana ya?" tanya Naira kedapa Asisten rumah itu.


"mari Nyonya saya antar kekamar tuan!" sahut Asisten itu


kepada Naira yang kini menuju sebuah kamar.


Naira menatap lekat pintu kamar itu.


cklek...


Deg...


Naira seketika terdiam kagum menatap isi dalam kamar tersebut, dengan warana serbah putih.

__ADS_1


"Nyonya, ini kamar tuan Satya" tukas Asisten tumah itu kepada Naira.


Naira menganggukan kepalanya dan kini beranjak masuk kedalam kamar itu.


"Nyonya, ada yang bisa saya lakukan?" tanya Asisten rumah itu kepada Naira.


"eng.. tidak, oh tunggu siapa nama mu?" tukas Naira seraya bertanya.


"Rani Nyonya!" jawab Rani dengan senyuman.


"hem baiklah.. kau boleh pergi sekarang" tukas Naira kepada Rani.


Rani menganggukan kepalanya dan kini berlalu pergi menuju luar kamar itu.


Naira yang masih berada di dalam kamar itu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


selang beberapa menit Naira yang sudah selesai mandi, kini dirinya hendak melaksanakan Sholat, namun terlihat di wajah gadis itu tampak sedikit bingung.


"apa aku harus Sholat disini!" gumamnya kepada diri sendiri.


"sudahlah.. disini saja" timpalnya lagi seraya.


membedarkan sajadah di sana, dan segera melaksanakan Sholatnya.


namun secara bersamaan dari arah luar terdengar suara langkah kaki yang kini beranjak masuk kedalam kamar itu.


Deg...


Satya yang baru saja tiba di kamarnya, kini menatap paku Naira yang masih melaksanakan Sholatnya.


selang beberapa menit Naira yang sudah selesai Sholat, kini dirinya beranjak menuju luar kamar itu.


namun saat dirinya membuka pintu tersebut seketika dirinya di kejutkan dengan keberadaan Satya yang ternyata masih berdiri di sana.


"Aaa..!" teriak Naira menatap keberadaan Satya di depan pintu kamar itu


"kamu kenapa teriak?" tanya Satya bingung


"eng.. tidak ada mas, mas Satya mau mandi kan, Naira udah selesai kok mas!" ujar Naira yang kini melangkah kan kakinya menuju lantai bawah.


namun saat dirinya hendak menuju lantai, seketika Satya memanggil Naira kembali


"tunggu?" panggil Satya kepada Naira


"eng.. iya mas!" Sahut Naira yang kini membalikan tubuhnya menghadap kembali Satya.


"eng.. Mamah sama Papah, menunggu kamu di bawah sekarang!" tukas Satya kepada Naira


"oh iya mas!" jawab Naira dengan senyuman, dan kini berlalu menuju lantai bawah.


Satya yang melihat Naira tersenyum seketika dirinya menatap paku gadis itu, dan kini berlalu masuk kedalam kamarnya.


di lantai bawah Naira yang sudah tiba di sana, seketika dirinya di panggil oleh buk Wulan.


"Nak? kemari!" panggil Buk Wulan kepada Naira

__ADS_1


"iya tante!" jawab Naira


"loh.. kok tante, panggil Mamah Nai, sama kaya Satya panggil Mamah!" Sahut buk Wulan dengan senyuman


"eng.. iya Mah!" jawab Naira canggung


"nanti juga bakalan terbiasa kok!" sahut buk Wulan yang kini menyelipkan sisian rambut Naira di telinga gadis itu.


"sudah kita makan malam dulu sayang" ujar buk Wulan kepada Naira.


"Eng.. mas Satya Mah?" ujar Naira


"Satya nanti nyusul, ayo!" sahut buk Wulan kepada Naira.


Naira menganggukan kepalanya dan kini beranjak mengikuti ibu mertuanya menuju ruang dapur.


saat mereka berdua telah tiba di sana, Naira seketika menatap jauh dapur itu, tampak di sana di penuhi asisten rumah yang masih sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.


Naira dan buk Wulan bergegas duduk di bangku mereka masing masing..


namun secara bersamaan terlihat dari arah luar Satya yang baru selesai mandi, dan kini beranjak menuju dapur untuk makan malam.


Naira yang menyadari keberadaan Satya, seketika gadis itu menatap kehadiran sosok pria itu yang kini berjalan menuju meja makan.


Srek...


"Ehh...!" gumam buk Wulan kepada Satya yang baru saja hendak duduk.


Satya hanya berdiam tak mengerti maksud dari Mamahnya itu.


"jangan duduk di situ, duduk dekat Naira, kalian itu sudah suami istri, untuk apa jauh jauhan" ujar buk Wulan kepada Satya.


Satya beranjak pindah dari sana dan kini menghampiri Naira dan duduk di sampingnya.


"nah.. gitukan enak dilihat" tukas buk Wulan yang kini menatap kearah mereka berdua.


"mas Satya kok nurut banget sama Mamahnya, gak pernah liat mas Satya nolak dari tadi!" batin Naira menatap sekilas Satya yang kini duduk di samping kanannya.


Naira terdiam sejenak, dan kini beralih mengambilkan makanan untuk Satya dan meletakannya di hadapan pria itu.


trak..


Satya seketika tertegun menatap makanan yang di berikan Naira kepadanya.


namun di lain hal, buk Wulan dan pak Marchel seketika tersenyum melihat kecanggungan pengantin baru itu.


"makasih!" jawab Satya kepada Naira dan kini memakan makanan yang di berikan Naira kepadanya.


Naira menganggukan kepalanya dan seraya menyantap makanannya.


Selang beberapa lama, kini makana malam tersebut telah selesai, tampak disebuah balkon Naira yang ternyata berada di sana, seraya menatap kagum taman belakang rumah itu.


yang penuh dihiasi lampu lampu, namun di sisi lain Naira tampak bingung menatap kearah taman itu, tidak ada sedikitpun bunga yang tertanam disana.


__ADS_1


__ADS_2