
Brukk
Sebuah pelukan kini mendarat tepat di tubuh Naira, Satya yang dimana pria itu kini memeluk erat tubuh Naira sembari mengecup pucuk kening gadis itu.
" mas Satya, Naira malu, ntar di liatin kak Rey sama Tiara loh mas " ucap Naira yang kini menatap wajah Satya.
" gapapa, lagian kamu istrinya mas " ucap Satya yang kini menatap senyum Naira.
" mas Satya kayanya seneng banget? " timpal Naira.
" oh tentu " sahut Satya lagi.
" huuh " gumam Naira sembari mencubit pelan wajah Satya dan kini beranjak menuju kesebuah bangku kayu dan sembari menyiapkan beberapa peralatan untuk mereka makan siang di sana.
Namun di lain hal pak Wawan dan buk Rati tampak terlihat keduanya itu kini tengah sibuk menghubungi keluarga pak Marchel dan buk Wulan dan memberitahukan sebuah kabar bahagia kepada mereka.
namun alih alih Naira yang kini tengah asik menyiapkan beberapa keperluan di atas meja kayu, seketika dirinya di kejutkan dengan keberadaan Satya yang tiba tiba.
" sayang? mas mau ke perusahaan dulu, kamu mas tinggal sama ayah dan ibuk gapapa kan? " kata Satya yang kini berada di samping Naira.
" eng!? kenapa! kok mendadak sih mas? " tanya Naira yang kini menatap kearah Satya.
" ada sesuatu yang harus mas urus dulu, kamu jangan terlalu cape ngerti " ujar Satya yang kini mencium pucuk kening Naira sembari berpamitan kepada gadis itu begitu juga kedua orangtua Naira.
" iya mas, mas Satya hati hati " ucap Naira yang kini menatap kepergian Satya di sana.
" iyah " sahut Satya.
" kok mendadak sih!? Winda? apa Winda ada kasih tau aku ya? " gumam Naira yang kini mengambil ponselnya dan segera membuka pesan chat.
tring...
namun alih alih, Naira tidak mendapatkan sebuah pesan dari Winda melainkan dari nomor milik Rendi yang kini menanyakan keberadaan nya.
" Nai? kamu dimana? " tanya Rendi dalam sebuah pesan chat
Naira menatap lekat isi pesan tersebut dengan lama, dan kini membalasnya.
" aku di rumah orangtua ku Ren " blas Naira kepada Rendi.
__ADS_1
Namun selang beberapa lama sebuah pesan kini kembali masuk kedalam ponsel Naira.
" bisakah kau datang membantu ku Nai? " balas Rendi yang kini terlihat sedikit ambigu.
Naira tertegun dan segera membalas kembali isi pesan tersebut dan tak lama sebuah balasan kembali muncul dan membuat Naira terlihat sedikit panik.
" Nai? " panggil Rey kepada Naira yang kini terlihat fokus menatap layar ponselnya.
" Ehh, kak Rey " ucap Naira yang kini menatap kembali Rey.
" kamu kenapa? " tanya Rey.
" eng.. gapapa kok kak, oh ya, Naira mau pergi sebentar nanti kalau ayah sama ibu tanya, Naira keluar temuin teman kerja " kata Naira kepada Rey.
" Ehh baiklah " ujar Rey yang kini menatap kepergian Naira di sana.
tap.. tap.. suara langkah kaki yang kini beranjak menuju jalan tol sembari menuju kesebuah taxi yang kini melintas di jalan tersebut, Naira segera beranjak masuk kedalam taxi itu dan kini meminta sopir itu untuk mengantarkan kesebuah tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Selang beberapa lama, Naira yang kini sudah tiba di depan sebuah taman yang cukup luas, namun dari arah ujung taman terlihat sebuah cafe kecil yang tampak begitu terlihat sepi tak ramai di kunjungi.
Naira segera beranjak menuju cafe tersebut dan belalu masuk kedalam sana sembari menatap kesana kemari mencari seseorang yang hendak di temuinya.
Naira spontan membalikan tubuhnya dan kini menatap kearah seorang pria yang berdiri tepat di hadapannya.
" Ren? kamu kenapa? " tanya Naira kepada orang tersebut yang ternyata Rendi.
" mmh, aku merindukan mu saja Nai " ucap Rendi yang kini meraih tangan Naira begitu saja.
namun dengan cepat Naira menarik tangannya dan sembari menatap bingung Rendi.
Rendi yang melihat Naira mengabaikannya begitu saja, seketika pria itu tersenyum remeh dan kini menatap kembali wajah Naira.
" aku tau kamu bakalan datang Nai, aku tau kamu suka sama aku " timpal Rendi yang kini menatap intens Naira.
" Ren, kamu tau kalau kamu itu sudah seperti sahabat aku sendiri Ren, aku gak nyimpen rasa sama kamu, kamu jangan salah paham sama aku Rendi!? " jelas Naira sembari menatap wajah Rendi.
" hh, aku tau.. kamu cinta sama Dirga saja sampai saat ini bukan? kalau aku ambil Dirga dari mu apa kau akan menerima ku Naira? " tukas Rendi kepada Naira
" eng, D-Dirga? " gumam Naira dengan wajah menampakan kebingungan.
__ADS_1
" Ren, lagi pula kak Dirga itu masa lalu ku, kenapa kau malah mengatakan hal seperti itu? " tukas Naira.
" ternyata kamu gak pernah sadar ya Nai? ku kira Satya bakalan kasih tau kamu yang sebenarnya! " ucap Rendi yang kini menatap Naira dengan nanar.
" apa maksud kamu Ren? " tanya Naira.
" Satya itu adalah Dirga, pria yang sama kau cintai waktu masih kecil, apa kau tidak melihat ada kemiripan dari wajah Satya dan Dirga Naira!? " jelas Rendi seketika membuat Naira terdiam paku.
" kenapa? kenapa kamu diam Nai? Bukannya aku sudah pernah mengatakan sesuatu sama kamu Naira, kalau aku akan menunggu kamu sampai kapan pun itu, dan kau tau saat ini tujuan ku? " ucap Rendi dengan senyum penuh arti menatap kearah Naira begitu saja, dan kini pandangannya teralihkan menatap kearah sebuah mobil hitam yang terpakir di sebrang jalan cafe itu.
" apa maksud mu Ren? " tanya Naira terlihat sedikit panik.
" biarkan aku menggantikan posisi Dirga di hatimu Nai " ucap Rendi lagi.
" eng " gumam Naira yang tiba tiba meneteskan air matanya begitu saja.
" aku ingin lihat, seberapa besar pengorbanan yang Dirga berikan kepadamu hari ini, dan sekarang kurasa dia masih berada di perusahaan, untuk menyelesaikan masalah " timpal Rendi.
" b-bagaiman kau tau soal itu Ren? " tanya Naira tampak takut.
" karena semua itu adalah rencanaku Naira, untuk membuat Satya jauh dari mu saat ini, agar aku bisa menemuimu sekarang " jelas Rendi.
" Ren, apa yang kamu lakukan, aku mohon jangan lakukan itu, tolong jangan sakitin mas Satya " ucap Naira seketika menangis begitu saja.
" mmh, baiklah! " balas Rendi yang kini segera meraih ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya.
" batalkan, gadis itu sudah bersamaku sekarang " kata Rendi yang kini menutup kembali ponselnya dan menatap kearah Naira yang kini gadis itu terlihat tengah menangis.
Rendi sontak menarik tangan Naira begitu saja, dan kini membawa gadis itu menuju kearah sebuah mobil hitam yang telah terpakir di sebrang jalan tersebut.
" berikan kunci mobilnya, biar aku yang bawa, kau pergilah " ucap rendi yang kini membawa pergi Naira begitu saja dari sana.
" Rendi, mau kau bawa kemana aku Ren? " tanya Naira yang kini tampak ketakutan.
" pergi bersamaku Naira, jika kau tidak mau Satya mati, maka biarkan dirinya yang harus mengikhlas kan istrinya ini untuk pergi bersamaku " ucap Rendi yang kini membawa pergi Naira.
" Ren, aku mohon hentikan, aku mohon Rendi, jangan lakukan itu hiks.. hiks... " ucap Naira dengan suara isak tangis.
Rendi yang kini membawa pergi jauh Naira ke suatu tempat yang tidak pernah di ketahui oleh orang lain sebelumnya, Rendi seketika membawa Naira ke suatu Villa yang terletak di sisi hutan, Villa yang dibangun olehnya selama ini.
__ADS_1
...🤍🤍🤍...