
"oh ya buk, Naira sudah pulang?" tanya pak Wawan kepada buk Rati yang kini duduk di sampingnya
"sudah Yah, Naira lagi di kamarnya sekarang" jawab buk Rati kepada suaminya.
"pak Wawan, bagaimana soal Naira... saya harap kalian masih mau menjodohkan Naira dengan putra kami" ujar pak Marchel mengingat permintaanya beberapa tahun silam
Pak Wawan dan buk Rati seketika saling pandang satu sama lain
"pak Marchel, apa nak Satya akan mau di jodoh kan seperti ini pak.. buk, bagaimana kalau Satya menolak nantinya?" ujar buk Rati seraya bertanya.
"buk Rati, kalian tenang saja, saya sudah berbicara kepada Satya" jawab buk Wulan kepada buk Rati dan pak Wawan
"bagaimana, saya senang jika Naira bisa menjadi bagian keluarga kami, yah kan Pah?" timpal buk Wulan lagi seraya menatap kearah suaminya.
"buk Wulan, kami masih ingat soal itu, tapi kami ingin membicarakan itu kepada Naira terlebih dahulu" ujar pak Wawan kepada buk Wulan dan pak Marchel
"Baik pak Wawan, tapi.. saya harap mereka bisa segera menikah nantinya" ujar buk Wulan lagi.
pak Wawan dan buk Rati menganggukan kepalanya mendengar perkataan buk Wulan.
"Baik buk Wulan, saya tau niat ibuk dan pak Marchel baik, untuk meminta Naira menjadi menantu di keluarga kalian, tapi akan saya usahakan untuk bisa berbicara kepada Naira" jelas pak Wawan
"iya pak, minggu depan kami akan datang lagi kemari, bersama dengan putra kami" timpal pak Marchel kepada pak Wawan
Kini terlihat dua keluarga itu saling mengobrol satu sama lain, menghabiskan waktu mereka selama itu untuk meluapkan kerinduan antara kedua sahabat karib itu.
***
di sisi lain di dalam kamar Naira yang baru saja selesai mandi, kini
Naira beranjak menuju dapur, untuk mengambil minuman namun saat dirinya hendak membuka kulkas tiba tiba handphone Naira berbunyi.
Naira seketika manatap kearah handphonenya yang di letakannya barusan di atas meja makan, Naira bergegas mangambil handphonenya terlihat di handphone Naira.
mendapatkan notif dari seseorang, Naira bergegas membuka layar handphonenya terlihat nama Rendi tertera disana di sebuah pesan Wechat.
Tring
"Nai? besok malam ingat, aku jemput dirumah mu, ku harap kau tidak lupa dengan janji itu!" ucap Rendi dalam sebuah pesan Wechat kepada Naira
"hemm baiklah, mana mungkin aku mengingkari janji ku Ren, aku akan ikut besok malam dengan mu!" balas Naira kepada Rendi dari pesan Wechat tersebut.
Naira kini meletakan handphonenya kembali di atas meja, dan bergegas menuju kulkas dan mengambil air dingin di dalam kulkas tersebut.
__ADS_1
Namun Naira yang masih berada di dapur, seketika dirinya mendengarkan suara begitu ramai di ruang tamunya, Naira mendongak kan kepalanya.
dan tampak dari sana pak Marchel dan buk Wulan, yang ternyata belum pulang. Naira kini melangkah kan kakinya kembali menuju kamarnya.
di dalam kamar Naira bergegas menuju kamar mandi mengambil uduh untuk melaksanakan Sholat.
pukul 06.00
terdengar suara adzan mahgrib berkumandang, namun saat Naira hendak menggunakan mukenahnya seketika buk Rati memanggilnya.
"iya buk?" Sahut Naira yang kini beranjak dari dalam kamarnya seraya menemui ibunya
"ibuk kenapa?" tanya Naira bingung dengan keberadaan ibunya yang sudah berada di depan pintu kamarnya
"Nai... ayah ngajak Sholat jamaah, sama pak Maechel dan buk Wulan juga" ucap buk Rati kepada Naira
"eh..dimana buk?" tanya Naira bingung
"di ruangan musolah Nai, cepat gih kamu kesana ya, ibu mau ambil mukenah dulu" ucap buk Rati yang kini berlalu menuju kamarnya mengambil mukenah disana
Naira seketika menganggukan kepalanya, dan kini beralalu masuk kedalam kamarnya dan seraya memakai mukenahnya dan bergegas ke ruang musholah yang terletak di rumahnya.
di dalam ruang mushola, Naira kini beranjak duduk di stap bagian kedua, yang dimana disana sudah ada buk Wulan yang sudah bersiap disana.
beberapa menit kini mereka telah selesai sholat bersama, Naira yang masih duduk disana seketika buk Wulan menyentuh pundaknya seraya menatap senyum wajah Naira.
Naira membalas senyuman itu.
"Nak Naira.. umur kamu berapa sekarang?" tanya buk Wulan kepada Naira
"20 tahun tante" jawab Naira kepada buk Wulan
"hem.. Naira udah punya pacar?" tanya buk Wulan lagi
Naira menggeleng kan kepalanya dan seraya tersenyum kearah buk Wulan, buk Rati yang masih berada di samping Naira kini seketika tersenyum, melihat kedekatan Naira dan buk Wulan.
"Pak Marchel, buk Wulan sebelum kalian pulang lebih baik kita makan malam bersama terlebih dahulu" ucap pak Wawan kepada pak Marchel dan buk Wulan.
mereka semua kini beranjak menuju dapur seraya menikmati makan malam bersama.
Di meja makan
"Naira? sekarang kamu kerja dimana?" tanya buk Wulan kepada Naira di sela sela makan malam
__ADS_1
"eng.. di 𝐈.𝐅 𝐈𝐧𝐠𝐥𝐞𝐫𝐲, tante!" jawab Naira kepada buk Wulan
buk Wulan seketika tersenyum kepada Naira.
selang beberapa lama kini pak Marchel dan buk Wulan berpamitan pulang kerumahnya. Naira menyalam lembut tekuk tangan itu secara bergantian
"Kami pulang dulu ya buk Rati.. pak Wawan?" ucap buk Wulan kepada buk Rati dan pak Wawan
"iya hati hati ya buk, pak di jalannya!!" jawab buk Rati seraya tersenyum
***
di dalam rumah setelah berpamitan Naira bergegas kembali kekamarnya seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Bruk..
Tring suara notif dari handphone Naira
Naira segera meraih handphonenya, dan menatap layar handphonenya terlihat di sana nama sebuah nama, tertera di layar itu. Sebuah pesan dari Winda.
"Nai?" panggil Winda dalam sebuah pesan singkat
"iya Win kenapa?" tanya Naira membalas pesan tersebut
"Nai, apa kau tau? Direktur perusahaan sudah pulang hari ini!" ujar Winda kepada Naira dalam sebuah pesan
"Direktur? sudah pulang?" Tanya Naira bingung
"Iya.." gumam Winda
"lalu?" tanya Naira yang masih bingung
"ck.. Naira, ternyata loe lebih susah buat diajak basa basi ya, ah sudahlah.. begini bagaimana kalau besok kita makan siang di sebuah cafe deket taman, gak ada tolakan okeh bye bestie" balas Winda dengan mengakhiri pesan tersebut.
Naira membuang nafasnya dengan berat dan seraya meletakan handphonenya di sampinganya, Naira seketika memejankan kedua matanya.
namun seketika, sebuah sosok Dirga kini kembali terlintas di benaknya, Naira spontan membuka matanya seraya bergumam.
"kenapa kak Dirga selalu muncul sih, huh.. apa karena aku terlalu memikirkannya?" gumam Naira yang kini menatap langit langit kamarnya.
Lagi lagi, sosok Dirga terlintas di benak Naira, wajah pria itu selalu lekat di pikiran Naira, meski sudah lama sosok itu tidak pernah di jumpainya lagi.
__ADS_1