Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 21


__ADS_3

"ibuk sudah siapkan baju untuk kamu, kamu pakai ya!" timpal buk Rati lagi.


Naira hanya menatap bingung, dan kini berlalu kekamarnya.


namun secara bersaman tampak seorang pria yang kini baru saja tiba di sana, dengan menggunakan baju jas putih, dengan rambut cepak tersisir rapi kebelakang.


pria itu kini berjalan masuk kedalam sana, saat pria itu telah berada di ambang pintu seketika semua orang kini menatap senyum kehadiran sosok tersebut.


Naira yang baru keluar dari kamarnya hendak menemui ibunya.


"Ibuk..?" panggil Naira yang kini berada di sana.


Deg...


Naira seketika membulatkan kedua matanya, menatap kaget kehadiran orang tersebut.


begitu juga dengan pria itu seketika dirinya menatap bingung dengan sosok Naira yang kini berada di sana.


"Nai? kamu kok belum ganti baju sih?" tanya buk Rati kepada Naira yang masih menatap paku orang tersebut.


Naira tak langsung menjawab perkataan ibunya melainkan menatap keberadaan sosok pria tersebut yang kini berada jauh di hadapannya.


"Kamu?" gumam Naira.


"eng..!" gumam pria yang kini menatap kearah Naira.


"buk? kok ada baju pengantin di kamar Naira?" tanya Naira balik kepada ibunya.


"Iya, kamu pakai itu ya Nai!" jawab buk Rati kepada Naira


Naira seketika tehenyak dan kini menyadari keberadaan orang orang di rumahnya.


"M Maksud ibuk? Naira....!" Tukas Naira menggantungkan kalimatnya.


"kamu akan menikah malam ini Nak!" jawab buk Rati.


Naira terkejut, seketika meneteskan airmatanya, dan kini beralih menatap kearah seorang pria yang duduk di antara kedua orangtuanya.


Namun secara bersamaan tampak dari luar, pak Wawan yang baru saja tiba bersama seorang penghulu yang kini juga ikut hadir di sana.


Naira makin meneteskan airmatanya.


"Nak? kamu belum ganti baju mu?" tanya pak Wawan yang kini melihat kearah putrinya itu.


"Ayah?..." panggil Naira, dengan suara lirih.


pak Wawan seketika menatap buk Rati, dan memintanya untuk segera membawa Naira bersiap siap di kamarnya.


***


selang beberapa menit Naira kini telah keluar dari kamarnya, dengan menggukan baju Kebaya putih.

__ADS_1


Tampak di wajah gadis itu terlihat sembab akibat menangis dari tadi.


Naira menatap paku keberadaan pria itu yang kini berdiri di hadapannya.


begitu juga dengan pria itu yang kini menatap Naira dengan diam.


"nak, kemarilah duduk disini!" pinta pak Wawan kepada mereka berdua.


Naira dan pria itu spontan menatap keberadaan pak Wawan dan kini beranjak duduk di sana.


"Kenapa kamu tidak menolak pernikahan ini?" tanya pria itu kepada Naira dengan memelankan nada suaranya.


Naira yang mendengar perkataan pria itu seketika menatap bingung dengan apa yang dirinya dengar.


"lalu, kenapa kau tidak menolak pernikahan ini tuan?" sahut Naira dengan memelankan nada bicaranya.


"aku tidak bisa!" Jawab pria itu seketika.


Naira menatap bingung pria itu dengan apa yang dirinya dengar.


"aku tidak bisa membantah apa yang orangtuaku katakan!" timpal pria itu.


Naira seketika memicingkan matanya menatap pria itu, tak habis pikir dengan apa yang dirinya dengar.


"baiklah... kita mulai saja pernikahannya." Ucap pak penghulu itu kepada mereka berdua.


tak lama pak Wawan mengulurkan tangannya dan di sambut oleh pria itu, dan seraya mengucapkan akad nikah kepada pria itu yang ternyata Satya.


seketika pak penghulu itu berkata Sah, kepada mereka berdua.


Naira yang mendengar kelimat tersebut seketika dirinya hanya terdiam paku disana.


"Nai ?" panggil buk Rati membuyarkan lamunan Naira.


"eng.." Naira spontan menatap kearah ibunya yang kini berada tak jauh di sampingnya.


"Satya menunggumu tu untuk menyalim tangannya!" ujar buk Rati yang kini menatap kearah Satya.


Naira spontan mengalihkan pandangannya menatap kearah Satya dengan tangan yang masih terulurkan.


Naira segera menyambut uluran itu dan mencium lembut tekuk tangan Satya.


"Mmh.. selamat ya Nak, akhirnya kalian sudah resmi menjadi pasangan suami dan istri !" ucap buk Wulan kepada mereka berdua.


Satya yang masih duduk di samping Naira kini hanya diam tak menyahuti perkataan dari Mamahnya itu.


tampak dari mata pria itu sedikit berbeda dari cara pandangannya menatap kearah Naira.


namun dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya dan kini menatap jauh kearah lain.


Naira yang menyadari sikap Satya seperti itu, tampak sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada pria itu.

__ADS_1


pukul 19.00


terlihat di luar rumah itu, Naira dan keluarga pak Marchel kini berpamitan untuk pulang kerumah mereka.


Naira yang masih berdiri di samping ibunya kini harus berpamitan dengan rasa suka cita.


"Buk.. Naira pamit dulu ya buk!" Ucap Naira kepada Ibu nya.


"mmh iya nak, ingat, jaga dirimu baik baik disana, dan jadilah istri yang baik untuk suamimu!" ucapa buk Rati dengan wajah menahan tangis.


Naira menganggukan kepalanya dan kini beralih memeluk sang ibu di dekapannya.


namun dari arah jauh, tampak Satya kini memperhatikan keluarga itu dengan diam.


"Nak?" panggil buk Rati kepada Satya yang terdiam mematung di sana.


"Eng.." gumam Satya yang tersadar dari lamunannya.


"Kemarilah nak!" Pinta buk Rati kepada Satya.


Satya segera menghampiri keberadaan ibu mertuanya itu yang tengah menunggunya.


"iya buk?" Ucap Satya yang kini berada di sana.


"Nak, ibu harap kalian bisa saling menjaga satu sama lain, jika Naira melakukan kesalahan sedikitpun, ibu harap kalian memaafkannya!" Ujar buk Rati kepada Satya yang kini berdiri di hadapannya.


"Buk Rati tidak perlu khawatir, Naira akan baik baik saja bersama kami!" sahut Buk Wulan yang kini berada di sana.


Buk Rati seketika menatap keberadaan buk Wulan yang kini menghampiri mereka.


"buk Rati, kami permisi dulu ya?" ucap buk Wulan kepada buk Rati.


"iya buk!!" jawab buk Rati seraya tersenyum kearah buk Wulan.


"buk, Ayah mana?" tanya Naira yang kini mencari sosok pak Wawan di sana.


"di dalam sama pak Marchel!" jawab buk Rati kepada Naira.


tak lama dari arah dalam rumah tampak dua orang pria paruh baya yang kini berjalan keluar menghampiri keberadaan Naira dan yang lainnya disana.


tampak di wajah pak Wawan, ada senyuman yang terukir di bibir pria itu yang kini menatap putri semata wayangnya itu yang sudah menikah.


"Ayah, Naira pamit pulang bersama mas Satya yah!" ucap Naira kepada Ayahnya.


"kami pulang dulu yah, Buk!" tukas Satya yang kini menyalim tekuk tangan kedua orang tua Naira.


"iya, hati hati ya kalian!" sahut pak Wawan dan buk Rati bersamaan.


selang beberapa menit kini merka berdua telah pulang kekediaman mereka.


Naira yang kini berada di dalam mobil Satya tampak gadis itu tengah asik memandang kearah luar jendela mobil seraya menatap kagum gedung gedung tinggi.

__ADS_1



__ADS_2