
namun di sela sela makan malam mereka, seketika pak Merchel bersuara bertanya kepada Satya yang masih berada di sana.
" kamu udah ketemu sama mereka Sat? " tanya pak Marchel kepada Satya yang dimana tampak pria itu masih mengunyah makanannya.
" siapa? " tanya Satya tanpa mengalihkan pandangnnya.
" mamah nya Sisil? " tanya pak Marchel kepada Satya.
Satya yang mendengar perkataan papah nya seketika mengalihkan pandangnnya menatap kearah pak Marchel yang tengah menatap dirinya.
" mmmh " jawab Satya singkat, sembari mengingat kedua sosok wanita yang tadi di temuinya.
" oh ya, tadi aku lihat Sisil sama tante Fika baru saja pulang dari sini kan? " ujar Beni yang kini mulai bersuara.
" untuk apa mereka datang kemari? Mengingat adiknya Fika wakt... " ujar tante Aran yang kini menggantungkan perkataanya.
" ehem " sela pak Salim kepada istrinya itu.
" aku hampir lupa " bisik tante Aran kepada suaminya itu.
Namun dari arah ruang lain, tampak seorang gadis yang kini baru saja keluar dari dalam kamarnya dan beranjak menghampiri keberadaan yang lainnya yang tengah berada di ruang makan malam itu.
Melisa yang kini menggunakan pakaian pendek dan beranjak duduk di bangku yang terletak sisi kiri Satya.
" Malam kak Satya? " ucap Melisa dengan wajah tersenyum kearah pria itu.
tante Monic dan om Levi seketika menatap keberadaan putrinya itu yang kini berada tepat di hadapan kduanya.
" Lis? Sudah papah katakan, jaga sikap kamu? " ujar om Levi kepada Melisa.
" lagian kenapa aku harus jaga sikap ku sama kak Satya pah? Lagian Naira juga gak keberatan kok " sela Melisa.
" Melisa? " sahut tante Monic yang kini menatap tajam putrinya itu.
" Mel? Berapa umurmu? " tanya Beni yang kini ikut bersuara.
sontak Melisa menatap keberadaan Beni yang kini tengah menatap dirinya.
" 23 " jawab Melisa.
" kenapa kau bertingkah seperti anak kecil yang berumur lima tahun? " timpal Beni.
Melisa yang mendengar perkataan Beni kepadanya seketika menatap kesal pria itu.
" Kau.. " belum sempat Melisa melanjutkan perkataanya seketika Satya bersuara.
" berhenti, apa kalian tidak malu hh? Kalian sudah dewasa, kenapa kalian ribut seperti anak kecil " ucap Satya kepada keduanya.
Naira yang baru pertama kali melihat Satya marah seketika dirinya menatap diam pria itu yang kini duduk di sisi kanannya.
__ADS_1
" kak Satya m maafkan Mel.. " sahut Melisa kepada Satya dengan wajah memohon seperti anak kecil.
" Mel, bukan saya melarang kamu untuk dekat dengan saya, tapi kamu harus tau, saya sudah menikah " timpal Satya yang kini beranjak dari tempat duduknya dan diikuti tatapan semua orang disana.
" Satya kekantor dulu pah, mah... " ujar Satya kepada kedua orangtuanya.
" malam malam begini Sat? " sahut pak Marchel yang kini menatap bingung putranya itu.
" iya pah, ada sesuatu yang harus Satya selesaikan dulu " ujar Satya.
" ehh bukannya tadi bilang tidak enak badan? " timpal buk Wulan kepada Satya.
Satya sontak menatap kearah buk Wulan yang tengah menatapnya dengan penuh selidik.
" Satya sudah baikkan kok mah " sahut Satya lagi.
Namun sesaat sebelum dirinya benar benar pergi, Satya seketika menatap Naira yang dimana gadis itu masih duduk di bangkunya dengan mata yang kini menatap kearah Satya yang masih berada di sana.
" saya kekantor dulu " ucap Satya kepada Naira.
Naira spontan menganggukan kepalanya dan kini menatap kembali Satya yang sudah berlalu pergi menuju kamarnya.
Namun di lain hal Melisa yang masih terlihat kesal kini matanya menatap kearah sosok Naira yang duduk tak jauh di sampingnya.
" ck.. Semua ini gara gara gadis ini " batin Melisa yang kini beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi menuju luar rumah itu.
" kadang kadang saja, jika suasana hatinya tengah buruk dia akan pergi kekantornya " jelas buk Wulan kepada Beni.
Beni sontak menatap kearah Naira yang masih duduk di sana, dan kini beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi menuju kamarnya.
Di prusahaan tampak di sebuah ruangan Satya yang kini sudah tiba sana, hanya dengan menggunakan pakaian santai miliknya.
Namun di lain hal Rendi yang masih setia berada di ruangan itu sembari bersuara kepada Satya yang tengah sibuk mengotak atik keyboard komputer miliknya.
" hh, aneh sekali kau ini, kau datang kekantor tengah malam begini? Bahkan dengan menggunakan baju seperti itu " ujar Rendi yang masih menatap bingung Satya.
" lalu, apa aku harus menggunakan pakaian yang begitu mewah? " sahut Satya tanpa membalas tatapan Rendi kepadanya.
" ya bukan begitu maksudku, tapi.. Setidaknya, celanamu kau ganti dulu dengan celana panjang " balas Rendi.
" ck.. apa pakaian mempermasalahkan pekerjaan ku? Tidak bukan! " sahut Satya.
" memang tidak, tapi.. Kau tidak lihat kalau para karyawan wanita memperhatikan mu sepanjang koridor hh? " sahut Rendi memperjelas maksud omongannya.
" oh, tidak " sahut Satya masa bodoh.
" terserah kau saja kak " balas Rendi yang kini dengan tangan yang menyanggah dagunya.
Namun setelah beberapa menit, Satya yang baru saja menyelesaikan pekerjaanya kini menatap kearah Rendi yang tampak termenung di hadapannya.
__ADS_1
" apa yang kau lamunkan? " tanya Satya membuyarkan lamunan Rendi.
" tidak ada? " sahut Rendi.
" bagimana soal tadi pagi? apa ada kendala? " tanya Satya kepada Rendi.
Deg...
Rendi sontak menatap kearah Satya dan sedikit tersenyum kikuk kepada pria itu, Rendi seketika mengubah posisinya dan kini menatap takut Satya.
" kenapa kau tersenyum seperti itu? aku bertanya apa ada kendala soal pertemuan tadi? " tanya Satya mengulang kemnali pertanyaanya.
" eng.. Anu aa itu, apa ya aku lupa " gumam Rendi celingukan.
" Ren? Apa kau membuat kesalahan? " tanya Satya kesekian kalinya.
" eng... " gumak Rendi.
" RENDI !! " ucap Satya mempertegas.
" kak aku takut kau akan memarahi ku hehe " ucap Rndi tersenyum paksa.
" aku patut memarahi mu, katakan apa yang terjadi? " tanya Satya kepada Rendi.
" eng, m mereka membatalkan kontrak kerjanya kak " jawab Rendi sembari menundukan kepalanya.
Satya yang mendengar perkataan Rendi kini hanya menatap diam adik sepupuhnya itu yang tertunduk kebawah.
" aku tidak terima soal pernyataan bodoh yang mereka buat untuk perusahaan kita, aku tidak mau mereka memandang remeh semua usaha kita, maka dari itu membuat ku marah dan melempar berkas mereka " timpal Rendi lagi.
" jika kau mau marah kepada ku, marah saja aku siap menerimanya " sambung Rendi lagi.
" baiklah " sahut Satya yang kini beranjak bangun dari bangkunya.
" eng, kau tidak marah padaku " tanya Rendi dengan polosnya.
" apa kau berharap aku memarahi mu? " tanya Satya.
" aaa t tidak terimakasih, itu tidak perlu kak " sahut Rendi tertawa canggung.
" ehh kau mau kemana kak? " tanya Rendi yang kini ikut beranjak dari tempat duduknya.
" pulang " sahut Satya.
" ck.. Kenapa buru buru, bagaimana kalau kita pergi ke cafe dulu, sudah lama kita tidak pergi menikmati malam semenjak kau pindah ke luar negeri waktu itu.
Satya yang masih berdiam di sana, tanpa basa basi seketika Rendi merangkul bahu Satya dan membawanya menuju luar perusahaan sembari berlalu menuju cafe yang terletak tak jauh dari perusahaannya.
...***...
__ADS_1