
"ya Tuhan Nai.. kamu ngindarin pak Rendi?" ucap Winda seketika
"Shht....!" gumam Naira yang kini meminta Winda mengecilkan suaranya.
"ngapain sih?" tanya Winda yang kini ikut memelankan suaranya.
"huh... nggak kenapa kenapa!" Jawab Naira yang kini meletakan buku menu di atas meja.
tak lama Winda memesan dua porsi makan siang untuk dirinya dan Naira dan tak lupa memesan minuman untuk mereka.
selang beberapa menit kini makan siang mereka telah tiba, Naira dengan agak buru buru memakan makanannya, untuk menghindari kontak antar Rendi dan dirinya nantinya.
"ih.. bisa agak pelan dikit gak sih Nai! jangan buru buru nanti keselek giman woi" ujar Winda melihat Naira makan seperti itu
Trek...suara sendok yang di letakan di atas meja
Deg..
Winda seketika menelan ludahnya menatap paku arah piring kosong yang berada di hadapannya.
"Nai? gak kebantu setan kan?" Tanya Winda yang kini menatap kearah Naira
"enggak.. heheh" jawab Naira seraya terkekeh
"gue gak habis pikir loh... kamu ngehabisin nya!" ujar Winda lagi
selang beberapa lama kini Naira dan Winda telah kembali keperusahaan, dan beranjak menuju ruangan mereka.
di ruang IT
Naira dan Winda yang kini sudah tiba di sana dan bergegas duduk di meja mereka masing masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
"Nai? bagaimana? Jadi kalian berdua bakalan kencan dong!" sahut Winda yang kini memulai pembicaraan
"kencan? kencan apaan orang mau kepameran doang!" jawab Naira kepada Winda
"ihs.. ya tuhan Nai.. Nai.. sama aja tau gak, pak Rendi ngajak loe kencan artinya" ujar Winda lagi
"Win, sama sekali aku tu gak tertarik loh sama Pak Rendi, kami tu cuma temen doang waktu SD" jawab Naira menjelaskan
"bagaimana jika pak Rendi memang bener bener naksir kamu Nai, lalu apa kamu juga akan nolak pak Rendi?" ucap Winda seraya bertanaya
"hem entahlah.. sudah kita lanjut kerja sekarang" sahut Naira yang kini melanjutkan pekerjaanya.
pukul 17.12
Naira yang sudah pulang dari perusahaan, dan seraya menuju rumahnya, setibanya Naira yang kini berada tepat di depan rumahnya.
__ADS_1
seketika Naira menatap beberapa mobil mewah yang kini lewat di hadapannya.
"siapa? apa orang baru pindah ya?" Gumam Naira menatap bingung mobil mobil itu
namun saat dirinya tengah asik melamun, seketika Naira di kejutkan dengan suara ibunya yang kini memanggil dirinya.
Deg..
"ahh ibuk, ngagetin Naira saja!" gumam Naira seraya memegang dadanya.
"Kamu ngapain sih melamun saja di situ, nanti kalau kesembet set.." belum sempat buk Rati melanjutkan perkataannya seektika Naira bertanya sesuatu kepada ibunya.
"buk.. apa di kampung sebelah, ada orang baru pindahan?" tanya Naira kepada buk Rati.
"mmh ibuk tidak tau Nai, aah sudahlah kita masuk sekarang, bentar lagi mahgrib loh" ujar buk Rati yang kini beranjak masuk kedalam rumahnya, dan diikuti Naira.
***
Di dalam rumah, Naira bergegas menuju kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Namun disisi lain di sebuah kamar buk Rati dan pak Wawan masih di buat bingung bagaimana cara mereka memberitahu Naira soal perjodohan itu.
"pak, bagaimana jika Naira menolak pak?" tanya buk Rati kepada suaminya.
"Mmh, Naira tidak akan menolak buk, ibuk tau sendiri kan kalau Naira tidak bisa membantah apa yang kita katakan kepadanya selama ini, mungkin Naira bisa menerima perjodohan itu nanti" ujar pak Wawan.
namun dari arah kamar Naira yang baru saja selesai mandi kini dirinya beranjak, menemui ibunya di dapur, seraya memberitahukan kepada ibunya kalau malam ini dirinya akan pergi keluar bersama Rendi.
"buk.. Naira izin keluar ya buk nanti, sama Rendi?" ucap Naira kepada ibunya.
"Rendi? siapa Rendi Nai? pacara mu?" tanya buk Rati yang kini menatap Naira dengan intens.
"Bukan.. buk, Rendi itu Bos Naira di perusahaan tempat Naira bekerja" jawab Naira kepada ibunya.
"ohh yasudah, hati hati, dan ingat jangan pulang malam Nai, kamu itu anak gadis ngerti?" ucap buk Rati seraya mengingatkan Naira.
"iya buk.. Naira inget kok" jawab Naira seraya tersenyum.
"yasudah, kita makam malam dulu, ibuk mau panggilin ayah kamu di kamar sebentar" ucap buk Rati seraya berlalu menuju kamar.
***
Naira beranjak duduk di selah satu bangku kosong seraya menunggu kedua orangtuanya.
Tak lama buk Rati dan pak Wawan kini telah tiba di sana, mereka bertiga, kini menyantap makan malam bersama seraya mengobrol tentang hari ini.
pukul 19.00.
__ADS_1
Naira yang sudah bersiap siap, namun secara bersamaan dari arah luar terdengar suara klakson mobil yang kini terpakir di area halaman rumah Naira.
Naira yang masih berada di dalam kamarnya, seketika beranjak menuju jendela seraya menatap kearah luar dimana disana terlihat Rendi yang baru saja tiba di rumahnya.
tok...tok...
"Nai? ada bos mu tu udah dateng" ucap buk Rati memberitahu Naira atas kehadiran Rendi disana.
"iya buk.. bentar lagi Naira keluar" jawab Naira yang kini mengambil tasnya dan beranjak menuju luar kamarnya.
Di luar kamar Naira yang kini sudah berada di ruang tengah hendak menuju ruang tamu, seketika dari sana, Rendi menatap kagum sosok gadis itu.
"sudah selesai Nai?" tanya pak Wawan kepada Naira yang kini berdiri di hadapan mereka berdua.
"sudah yah!" jawab Naira kepada Ayahnya.
"baiklah pak, Saya sama Naira izin keluar dulu ya pak, buk!" Tukas Rendi meminta izin kepada kedua orangtua Naira.
Naira dan Rendi kini mereka berdua beranjak keluar menuju mobil dan segera berlalu pergi menuju pameran tersebut.
di perjalanan Naira dan Rendi tidak berbicara sedikitpun, ada suara radio yang kini hanya menemani keheningan diantara mereka berdua.
"Nai?" panggil Rendi yang kini memulai pembicaraan.
"iya Ren!" jawab Naira yang kini menatap kearah Rendi.
"Mikirin apa kamu?" tanya Rendi kepada Naira.
"hem, tidak ada Ren" jawab Naira seraya tersenyum
di pameran kini mereka berdua telah tiba di sana, Rendi dan Naira beranjak turun dari mobil dan berjalan menuju pameran berada.
Naira dan Rendi mereka berdua berjalan menelusuri keramian malam, seraya menikmati suasan hembusan angin dari arah pantai.
Saat Naira tengah menikmati suasan seketika Rendi menarik tangan Naira.
menuju salah satu tempat permainan yang dimana di sana terdapat sebuah hadiah menarik.
"Ren, kenapa kita kemari?" tanya Naira bingung
Rendi tak menyahuti perkataan Naira melainkan kini dirinya mengambil beberapa bola dan melemparkannya ke sebuah kaleng yang berada agak jauh dari hadapannya.
Srek.....
Deg...
prank..trak..krakk...sreng..
__ADS_1