Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 24


__ADS_3

pukul 06.00


dret.... dret...


Suara alarm berdering, Naira terbangun dari tidurnya dan kini dirinya merasakan sesuatu yang berat menimpah tubuhnya.


Naira spontan membalikan tubuhnya dan seketika.


deg...


Naira terkejut mendapati Satya yang tertidur di sampingnya dengan tangan yang menimpah perut gadis itu.


Naira menatap lekat wajah pria itu yang masih terpejam, Naira tanpa sadar menyentuh wajah Satya yang masih tertidur.


namun seketika pikirannya kini kembali mengingat kejadian semalam kepada pria itu.


"mas Satya kenapa sih?" Gumam Naira pelan.


Naira menatap sejenak wajah itu dan kini beranjak bangun dari tempat tidurnya dan bergegas bersiap siap untuk berangkat kerja.


Satya yang kini sudah bangun, tampak pria itu tengah mencari sosok Naira di sana.


Satya yang tidak menadapati sosok Naira kini dirinya beranjak keluar dari kamar itu.


selang beberapa menit Naira yang baru saja selesai mandi kini dirinya beranjak keluar dari sana, bergegas kekamar untuk memakai bajunya.


Saat dirinya sudah selesai Naira kini bergegas keluar dari kamar tamu dan beranjak menuju dapur.


namun saat dirinya hendak menuntup pintu kamar tamu, seketika dirinya di kejutkan dengan suara ibu mertuanya


"Naira?" panggil buk Wulan kepada Naira yang kini melihat gadis itu keluar dari kamar tamu.


Naira yang mendengar namanya di panggil seketika dirinya menatap kearah suara itu.


Deg...


Naira terkejut mendapati kehadiran ibu mertuanya yang pagi pagi buta sudah berada disana.


Naira terdiam paku, mendapati dirinya tertangkap basah berada di kamar tamu.


"Nak? kalian tidak... " gumam buk Wulan menggantungkan kalimatnya.


namun secara bersamaan terdengar suara langkah kaki yang kini berjalan keluar dari sebuah kamar, terlihat Satya yang baru saja selesai bersiap siap.


Buk Wulan yang mendengar suara langkah kaki tersebut seketika dirinya menatap kearah suara itu.


Satya yang kini menatap keberadaan Mamahnya di sana seketika dirinya menghampiri kedua orang itu


"Mamah?" panggil Satya kepada buk Wulan


Buk Wulan seketika menatap tajam kearah Satya, Satya yang menyadari tatapan Mamahnya tampak di wajah pria itu terlihat kebingungan.

__ADS_1


"katakan sama Mamah, jadi kalian tidak tidur satu kamar semalaman?" Tukas buk Wulan dengan sedikit meninggikan nada bicaranya


Satya seketika menatap sekilas Naira dan kini beralih menatap Mamahnya


"Mah... Sat.." belum sempat Satya melanjutkan perkataanya seketika buk Wulan menyelah perkataan itu.


"Mamah tau Sat, kalian hanya di jodohkan, tapi bukan berarti kalian harus seperti ini, Mamah gak menyangka kamu membiarkan Naira tidur dikamar tamu!" tukas buk Wulan panjang lebar.


"eng.. Mah, dengerin Naira, eng.. mas Satya tidak salah kok Mah, yang salah Naira, Naira gak bisa tidur dengan lampu menyala, karena mas Satya masih bekerja di kamarnya Mah!" jelas Naira menghentikan kesalah pahaman antara ibu dan anak itu.


"benar begitu?" tanya buk Wulan yang kini menatap kearah putranya itu


Satya hanya berdiam saja tak menjawab perkataan dari Mamahnya.


"baikalah, jika Mamah lihat kalian tidur di kamar terpisah lagi, Mamah benar benar akan marah!" sahut buk Wulan kepada mereka berdua.


buk Wulan segera berlalu ke lantai bawah, seraya menuju dapur.


di lain hal, Naira dan Satya yang masih berdiri di sana, kini mereka berdua hanya berdiam tanpa suara sedikitpun.


"Naira turun dulu mas!" Tukas Naira yang kini mulai bersuara.


Satya menatap sekilas wajah Naira dan kini berlalu menuju kamarnya.


Naira terdiam menatap kepergian Satya dari sana, dan kini dirinya beranjak turun ke lantai bawah untuk sarapan.


Saat dirinya sudah tiba di sana, Naira bergegas menuju meja makan tampak dari sana buk Wulan yang kini tengah duduk menunggu kedatangan kedua anaknya itu.


Naira beranjak duduk di hadapan ibu mertuanya dan seraya mengambil sarapan untuknya.


namun dari arah lain, Satya yang juga baru tiba di ruang dapur dan kini dirinya beranjak duduk di samping sang Mamah lagi lagi


Satya kena teguran, buk Wulan meminta Satya untuk duduk di samping Naira, meminta putranya itu harus terbiasa mulai sekarang.


Satya yang selalu penurut, kini dirinya beranjak dari sana dan beralih duduk di samping Naira.


Naira hanya terdiam menatap bingung antara anak dan ibu itu.


Naira kini beralih mengambil makanan untuk Satya dan meletakannya di hadapan pria itu.


Satya memakan makanan yang di berikan Naira kepadanya dalam diam.


Sempat terjadi keheningan beberapa lama disana, namun seketika buk Wulan membuka suaranya.


"kapan kalian akan memberikan Mamah seorang cucu?" ucap buk Wulan spontan kepada mereka berdua


Satya yang lagi sibuk makan seketika dirinya tersedak mendengar perkataan dari sang Mamah.


"Huks.. huks..!"


"eng!" gumam Naira yang kini memberikan air putih kepada Satya.

__ADS_1


Satya spontan mengambil air itu dan meminumnya.


"Kalian tidak berencana nunda kan?" timpal buk Wulan lagi kepada mereka


Satya dan Naira yang mendengar permintaan buk Wulan kini mereka hanya terdiam bingung dengan apa yang harus mereka jawab.


"Nai, Mamah harap kalian tidak menunda untuk mempunyai keturunan!" Ujar Buk Wulan kepada Naira


"eng.. iya Mah!" jawab Naira yang kini tidak tau mau berbicara apa.


Satya yang mendengar perkataan gadis itu, kini dirinya hanya diam menatap kearah sang Mamah.


"Sat?" panggil Sang Mamah Kepada Satya


"iya Mah!" jawab Satya


"jika Mamah datang kesini lagi, jika Mamah lihat hal seperti tadi, Mamah tidak akan segan segan untuk tinggal satu rumah dengan kalian!" ujar buk Wulan kepada Satya.


"iya Mah!" jawab Satya


Selang beberapa menit, Naira yang sudah selesai sarapan kini dirinya bergegas menuju perusahaan tempatnya bekerja, Naira beranjak dengan menggunakan taxi.


***


beberapa jam kemudian Naira baru tiba di perusahaan itu, karena memiliki waktu jarak tempuh yang cukup jauh, Naira hari ini sedikit terlambat.


Naira bergegas masuk kedalam sana, dan seraya menuju ruangannya dengan tergesa gesa melangkah kan kakinya masuk keperusahaan itu.


trak...


srek...


bruk..


Deg....


"kaget gue!" gumam Winda yang kini menatap keberadaan Naira yang baru saja tiba di sana.


"tumben siang hari ini, ngapain kena macet ya?" Tanya Winda yang mulai penasaran.


"ihh kepo loe gak kenal waktu ya Win, gue telat masih bisa bisanya di tanyain!" sahut Naira


"hehe, kaya gak tau aja ya Nai sama gue.. !" sahut Winda yang kini kembali menatap kearah laptopnya dan mengerjakan tugasnya kembali.


Namun secara bersamaan dari arah luar, terdengar seseorang yang kini memanggil Naira.


Naira spontan menatap keberadaan orang itu yang ternyata Farel, meminta Naira untuk ikut bersamanya.


Naira menelan ludahnya memikirkan apa yang terjadi kepada dirinya, dan kini beranjak dari bangkunya mengikuti Farel menuju suatu ruangan.


__ADS_1


__ADS_2