
Namun saat dirinya masih melihat kearah Naira, seketika Satya di kejutkan dengan suara deringan handphone milik Naira, Satya spontan menatap kearah suara handphone tersebut yang dimana tampak nama Rendi di layar handphone itu.
Satya mengerutkan alisnya dan menatap lekat nama Rendi yang masih terpampang jelas di sana.
"kenapa Rendi menelpon Naira?" batin Satya.
Namun saat dirinya hendak mengambil handphone tersebut, seketika panggilan tersebut berakhir.
Namun secara bersamaan Naira yang kembali masuk kekamarnya seketika dirinya di kejutkan dengan keberadaan Satya di sana.
"Mas Satya?" panggil Naira kepada Satya.
"eng..!" sahut Satya spontan menatap kearah Naira yang berdiri agak jauh darinya.
"Mas Satya kenapa?" tanya Naira.
"tidak, saya... saya cuma mau ambil handphone saya saja." jawab Satya dan kini mengambil handphonenya dan bergegas keluar dari dalam kamar itu.
Naira yang masih menatap kearah Satya yang berlalu pergi, tampak di wajah gadis itu terlihat bingung akan sifat pria itu.
...***...
Pukul 10.00, terlihat di kediaman Ganta, yang telah di penuhi saudara dari Tn Marchel dan Ny Wulan, dan bersamaan terlihat buk Rati dan pak Wawan yang juga ikut hadir di sana.
Naira yang masih berada di kamarnya kini beranjak keluar dan menghampiri keberadaan mereka semua di sana.
namun saat dirinya sudah berada di ruang tengah, Naira yang menyadari keberadaan kedua orangtua nya kini beranjak menghampiri.
"Ayah? Ibuk?" panggil Naira sembari menyalim lembut kedua tekuk tangan orangtuanya.
"kapan Ayah sama Ibuk datang?" tanya Naira.
"tidak lama kok Nai, Ibuk dan Ayah juga baru tiba kemari!" jawab buk Rati kepada Naira.
Naira menganggukan kepalanya pertanda jawaban darinya.
"loh.. Satya mana Nai? ibuk gak lihat dari tadi." ucap buk Rati sembari bertanya.
"mmh.. Mas Satya belum kelihatan buk?" tanya Naira balik.
Namun saat mereka tengah membicarakan Satya, secara bersamaan terlihat seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dan beranjak turun dari sana.
sontak semua mata kini tertuju kepada sosok tersebut yang tak lain Satya yang baru saja selesai bekerja di ruangan pribadinya.
"Nak?" panggil buk Wulan kepada Satya yang baru saja tiba di sana.
"iya Mah?" sahut Satya.
"sudah selesai? temui Ibu mertua sama Ayah mertua mu dulu sana!" pinta buk Wulan kepada Satya.
"oh... iya Mah!" sahut Satya yang kini menatap kearah dimana terlihat Naira dan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Satya beranjak menghampiri keberadaan Naira dan begitu juga mertuanya.
"Ayah, Ibuk?" panggil Satya sembari menyalim lembut tangan kedua mertuanya dengan sopan.
Buk Rati tersenyum, menatap menantunya itu.
"loh, gak kerja Sat?" tanya pak Wawan kepada Satya.
"eng... Satya kerja di rumah aja Yah." jawab Satya.
"oh.. kirain ayah kamu gak kerja hari ini." timpal pak Wawan lagi.
Satya tersenyum lembut mendemgar penuturan dari Ayah mertuanya itu.
"lebih baik kita kesana saja Yah, Buk... lagian yang lainnya sudah nunggu" timpal Naira yang kini kembali bersuara.
"baiklah kita kesana!" sahut pak Wawan.
...***...
Naira kini berjalan terlebih dahulu, namun secara bersamaan tampak buk Rati menyadari ada perbedaan dari jalan Naira putrinya itu, seketika wanita paruh baya itu bersuara.
"Nai? kamu kenapa?" tanya buk Rati kepada Naira.
"eng..!" spontan Naira menghentikanlangkahnya, dan menatap kembali ibunya itu.
"jalan kamu kenapa seperti itu?" tanya buk Rati yang menyadari hal tersebut.
Sontak Satya dan Naira terdiam paku mendengar perkataan dari buk Rati.
"eng... Naira habis jatuh buk" jawab Naira bohong.
"jatuh?" tanya buk Rati masih tak percaya.
"kamu jatuh dimana Nai?" tanya buk Rati lagi, dengan wajah khawatir dengan keadaan Naira.
"sudahlah.. buk, Naira udah besar toh lagian ada Satya yang jagain Naira.. sudah kita kesana saja sekarang." sambung pak Wawan kepada buk Rati.
"iya buk, Naira baik baik saja kok, Mas Satya jagain Naira dengan baik disini." ucap Naira kepada ibunya.
Satya yang mendengar Naira berbicara seperti itu, tampak di wajahnya terlihat canggung sembari tersenyum kearah kedua orang tua Naira.
"baiklah.. kalau begitu." sahut buk Rati yang sudah sedikit lega mendengar perkataan Naira barusan.
buk Rati dan pak Wawan kini berlalu pergi terlebih dahulu meninggalkan Naira dan Satya yang masih berada di sana.
"eng... ayo Mas, lebih baik kita kesana sekarang."ucap Naira kepada Satya.
"mmh.. iya." sahut Satya, yang dimana dirinya masih berdiam diri dan menatap kearah Naira yang berlalu pergi.
Satya lagi lagi teringingat akan apa yang terjadi pada malam itu, dan membuat dirinya merasa canggung untuk berdekatan dengan gadis itu.
__ADS_1
Namun saat dirinya tengah asik melamun, seketika sebuah deringan handphone milik Satya berbunyi, Satya spontan mengambil handphone nya dan menatap layar itu yang dimana terlihat nama Rendi tertera di sana.
Satya segera mengangkat panggilan tersebut.
"halo?" ucap Satya kepada Rendi dalam panggilan.
"halo kak, kau dimana? kenapa kau tidak keperusahaan hari ini?" tanya Rendi dengan suara sedikit penuh rasa gelisa.
"eng.. kau kenapa? kenapa nada bicara mu seperti itu?" tanya Satya balik.
"Kak, klien mu hari ini tiba, mereka akan sampai ke perusahaan kurang lebih 3-4 menit lagi!" ujar Rendi kepada Satya.
"Apa? bukannya mereka datang sesuai dengan jadwal janji, kenapa mereka tiba dua hari lebih awal." sahut Satya.
"aku juga tidak tau, kak apa yang harus kita lakukan?." ujar Rendi sembari bertanya kepada Satya.
Satya berpikir sejenak memikirkan apakah dirinya harus meninggalkan acara itu, dan bertemu dengan kliennya, Satya tampak bingung dan kini dirinya memutuskan.
"baiklah.. begini saja, kau handle dulu pekerjaan ku, jika mereka bertanya tentangku, katakan aku sedang sibuk, lainnya terserah kau saja." ujar Satya setelah berpikir cukup lama.
"eng.. apa kau serius kak?" tanya Rendi lagi.
"lakukan saja, apa yang aku katakan!" tukas Satya lagi.
"baiklah!" jawab Rendi turut.
"aku akan matikan dulu telpon nya." timpal Satya yang kini mengakhiri panggilan tersebut.
...***...
"kenapa semuanya menjadi seperti ini? mereka tiba lebih awal dari janji yang telah di sepakati." gumam Satya yang kini berlalu pergi menghampiri yang lainnya yang sudah berada di ruang tengah.
Sesaat dirinya sudah berada di ruang tengah, Satya yang menatap kesana kemari mencari sang Mamah, seketika pandangannya teralihkan dengan sosok seseorang yang begitu tak asing di pikirnya.
Satya menatap lekat sosok tersebut dan tampak di wajah Satya seketika berubah begitu saja.
"dia?" gumam Satya pelan.
Namun secara bersamaan sosok tersebut yang ikut hadir di sana, kini menatap keberadaan Satya dengan senyuman penuh arti kepada Satya.
Satya yang masih terdiam paku, kini dirinya di kejutkan dengan suara buk Wulan yang membuyarkan lamunannya.
"Nak? kamu kenapa berdiri di sana?" ucap buk Wulan kepada Satya dari kejauhan.
Satya spontan menatap kearah Mamahnya dan kini kembali menatap sosok tersebut namun sosok itu telah hilang begitu saja dari sana.
Tampak terlihat jelas di wajah Satya begitu gelisa.
...☘️☘️☘️...
...𝚝𝚘 𝚋𝚎 𝚌𝚘𝚗𝚝𝚒𝚗𝚞𝚎...
__ADS_1