Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 48


__ADS_3

Brukkk


" akh !! " pekik keduanya yang kini berada tepat di lantai.


" mas Satya? " panggil Naira dengan mata yang masih menahan ngantuk.


" mmh " sahut Satya yang kini mematap kearah Naira yang masih terlihat ngantuk.


" mas Satya baru pulang? lebih baik mas Satya tidur, Naira mau kedapur ambil minum dulu " ujar Naira kepada Satya yang kini beranjak bangun dari sana dan hendak menuju dapur.


Namun dengan cepat Satya menghentikan Naira yang baru saja ingin keluar dari kamarnya.


" tidak, biar saya saja yang ambil, kamu lanjut tidur saja " ujar Satya yang masih menatap Naira yang tampak terpejam.


" tapi mas Satya baru pulang " sahut Naira.


" kamu masih ngantuk, bagaimana kalau jatuh dari tangga " tukas Satya.


" mmh yaudah Naira lanjut tidur saja, mas Satya ambilin gih " ujar Naira yang kini berlalu munu tempat tidurnya dan kembali tidur.


Satya yang masih berada di sana dengan mata menatap kearah Naira yang kini sudah kembali tertidur, dan segera dirinya beranjak keluar dan menuju dapur untuk mengambil air.


Setiba nya Satya di dapur, namun tanpa dirinya sadari, tampak dari luar ruang dapur sepasang mata kini tengah mengamati gerak gerik dirinya.


brukk.


Deg..


Satya spontan membalikan tubuhnya dan kini menatap seseorang yang tengah memeluk tubuhnya dari belakang.


" Satya? Kak aku mencintai mu " ucap seorang gadis dengan keadaan mabuk berat.


Satya yang masih terdiam paku dengan mata menatap lekat gadis itu yang kini masih memeluknya.


" Melisa? " ucap Satya melihat Melisa yang sudah begitu mabuk dengan bau alkohol yang begitu nyengat dari nafas gadis itu.


" kak Satya, kenapa kak Satya harus menikah dengan gadis itu, bukan aku hikss hiks.. " ucap Melisa kepada Satya.


" Mel, kita ini saudara, gak baik jika menikah, dan merusak kedekatan keluarga saya begitu juga om dan tante " sahut Satya yang kini mencoba melepaskan pelukan Melisa dari tubuhnya.


Namun percuma gadis itu memeluk kuat tubuh Satya.


" tapi Melisa cinta sama kak Satya, dan kak Satya yang jagain Melisa saat berada di luar negeri waktu itu " ujar Melisa yang kini tampak menangis di pelukan Satya.

__ADS_1


" Mel, lepasin dulu, bagaimana jika ada yang lihat, mereka akan salah paham nantinya " ujar Satya yang mencoba meyakinkan gadia itu.


" Melisa gak mau, sebelum kak Satya menjawab perkataan Melisa " ujar Melisa lagi.


" berhentilah, saya sudah menikah Melisa " ujar Satya lagi.


" Melisa gak peduli, lagian kak Satya juga di jodohkan, mungkin kak Satya juga gak cinta kan sama gadis itu, lalu untuk apa kak Satya pertahanin, ceraikan saja Naira kak " ujar Melisa yang sudah kelewat batas.


" cukup... Apa yang kamu katakan? Saya tidak akan menceraikan istri saya Melisa " ucap Satya melepas paksa tangan Melisa yang masih memeluknya.


" hiks.. Hiks.. " seketika tangis gadis itu pecah, dan kini memeluk kembali tubuh Satya dengan kuat.


" Melisa, bagaimana jika ada yang lihat nanti " ucap Satya kesekaian kalinya.


namun di lain sisi Naira yang kembali bangun dari tidurnya dengan mata menatap samar ruangan itu yang dimana dirinya mencari sosok Satya yang belum kunjung kembali dari dapur, Naira beranjak keluar dan mencari sosok Satya di dapur.


" mas Satya kemana lama banget ambil air nya " gumam Naira berjalan menelusuri anak tangga dan berlalu menuju ruang dapur.


" mas Satya? " panggil Naira yang masih mencari sosok Satya.


Satya yang masih berada di sana, begitu juga dengan Melisa yang dimana gadis itu masih dalam posisi yang sama menangis di pelukan pria itu.


namun tepat di ambang pintu ruangan dapur, Naira yang baru saja tiba di sana, seketika pandangannya tertuju kepada Satya dan Melisa yang tampak terlihat gadis itu tengah memeluk tubuh Satya sembari menangis.


Namun secara bersamaan Satya yang baru menyadari keberadaan Naira yang kini tengah berada di ambang pintu dapur sembari menatap kearah dirinya dengan tatapan tak percaya dengan apa yang gadis itu lihat.


" Naira? " panggil Satya pelan dengan wajah shock mendapati Naira melihat kejadian tersebut begitu saja di hadapannya.


spontan Satya melepas kuat tangan Melisa dari tubuhnya dan berusaha untuk menjelaskan kesalah pahaman kepada gadis itu.


" eng.. Maaf mas, Naira gak tau... Naira kekamar dulu " ucap Naira yamg kini beranjak pergi meninggalkan Satya begitu juga Melisa.


Namun tampak di kedua kelopak mata gadis itu seperti tengah menahan perih di matanya.


Satya menatap Melisa dengan penuh amarah terhadap gadis itu, dan kini berlalu pergi menyusul keberadaan Naira yang kembali kekamarnya.


Di dalam kamar, Naira segera merebahkan tubuhnya kembali tidur, namun percuma matanya menolak itu semua dan tanpa sadar dirinya kini menangis di balik selimut yang kini membaluti tubuhnya , namun tampak dari luar, Satya yang baru saja tiba di kamar itu dan beranjak menuju tempat tidurnya dengan mata menatap kearah Naira yang kini terteidur membelakangi nya.


" Nai? " panggil Satya kepada Naira.


" saya minta maaf " ucap Satya mencoba untuk meyakinkan gadis itu.


" tidak perlu mas " sahut Naira menahan tangisnya.

__ADS_1


" saya tau kamu nangis kan " ujar Satya kepada Naira.


" tidak " sahut Naira yang berusaha untuk tidak menangis.


" bohong, kamu menangis Naira? " tukas Satya yang kini mencoba meraih gadis itu untuk berusaha menatap dirinya.


" sudahlah mas, Naira capek, Naira angtuk, Naira ingin tidur " ucap Naira dengan suara dalam isak tangis.


Satya yang mendengar Naira menangis, spontan pria itu menarik lembut tubuh Naira dan mencoba menenangkannya di dalam pelukannya.


" maaf kan saya, semua itu salah paham saja " ucap Satya yang kini memeluk tubuh Naira yang masih membelakanginya.


namun seketika tangis Naira pecah, mengingat kejadian barusan di hadapannya, yang begitu tampak jelas di pikirannya.


" saya tidak bermaksud untuk melakukan itu " ucap Satya lagi.


" mas Satya? " panggil Naira kepada Satya.


" mmh " sahut Satya yang kini menatap Naira yang masih membelakanginya.


" Naira tau ini hanya perjodohan, dan Melisa juga mencintai mas Satya! " ucap Naira kepada Satya.


" kenapa kamu bicara seperti itu? " tanya Satya bingung.


" jangan berpikir kalau kamu minta saya untuk bercerai dengan kamu " timpal Satya kepada Naira.


" sebelum Naira hamil anak mas Satya, lebih baik begitu " ucap Naira dengan polosnya.


Satya sontak menatap tajam kearah Naira yang masih membelakangi dirinya.


" apa maksud kamu? " tanya Satya yang kini membalik paksa tubuh Naira menghadap dirinya.


" Naira gak mau jadi perusak mas " ucap Naira lagi dengan polosnya.


" apanya yang perusak? Kamu istri saya " ucap Satya lagi.


" ta... " belum sempat Naira melanjutkan perkataanya seketika Satya menyela perkataan gadis itu.


" jangan banyak tanya, tidurlah, saya gak mau bahas yang tidak tidak " ucap Satya.


" tapi mas Satya "


" tidurlah Naira atau saya akan melakukan sesuatu nantinya " ujar Satya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2