Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 40


__ADS_3

Di dalam rumah, tepat kini mereka berdua telah berada di loby rumah itu, Naira seketika menatap jauh isi rumah tersebut dan kini pandangannya teralihkan melihat beberapa foto besar yang masih terselimuti kain putih.


Naira bergumam apa yang ada di balik kain putih itu.


Namun secara bersamaan terlihat dari lantai atas seseorang kini berlari menghampiri keberadaan mereka berdua.


brukk...


Satya seketika terkejut merasakan seseorang memeluknya tiba tiba, begitu juga Naira yang kini melihat seorang gadis yang berada di pelukan Satya.


"Satya.. Naira kalian sudah tiba?" ucap buk Wulan kepada mereka berdua.


Naira spontan menatap keberadaan ibu mertuanya dan diikuti kedua pasangan suami istri yang tak lain Om dan Tante Satya.


"Kak Satya aku merindukan mu?" ucap seorang gadis kini bersuara.


Satya dan Naira seketika mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"eng.. Lisa?" panggil Satya yang kini melepas kan pelukan gadis itu kepadanya.


"kenapa? apa kau tidak merindukan ku? eng.. siapa gadis ini?" ucap Melisa sembari bertanya.


"halo.. Saya Naira, sekr...!" Ucap Naira yang kini terpotong dengan perkataan Satya.


"istri saya!" sambung Satya tiba tiba.


"oh.. istri kak Satya!" sahut Melisa dengan mata menatap Naira dari ujung kepala hingga kaki.


"biasa saja!" timpal Melisa lagi.


Melisa beranjak pergi meninggalkan mereka berdua dan kinienuju kembali kelantai atas.


"Nak.. lebih baik kalian masuk dulu istirahat di kamar kalian!" ujar buk Wulan kepada mereka berdua.


"iya Mah!" jawab Satya.


Srek..


Naira terkejut dan kini menatap kearah tangan Satya yang tiba tiba menggandeng tangannya.


Satya berjalan cepat menuju lantai atas dengan tangan yang masih menggandeng tangan gadis itu.


namun di lain sisi terlihat buk Wulan begitu juga Tn Levi dan Ny Monic kini mereka menatap kepergian keduanya itu.


"kayanya Satya sudah banyak berubah ya Wulan? saya pikir dia akan terus terpengaruh akan kejadian saat itu... saya hampir putus asa melihat Satya yang sering kali merasa takut akan gelap dan wanita!" ujar Tn Levi mengingat kejadian dimana Satya merupakan korban dari mantan kekasih adiknya sendiri.


"kau benar kakak ipar, awalnya Satya juga pernah nolak perjodohan ini sebelumnya!" sambung buk Wulan.


"sudah lah jangan di pikirkan lagi, kejadian masa lalu itu biarkanlah menjadi masa lalu, sekarang Satya sudah kembali normal menghadapi situasi seperti sekarang!" ujar Ny Monic kepada buk Wulan.

__ADS_1


Buk Wulan tersenyum dan kini mereka bertiga berlalu menuju halaman belakang, namun terlihat dari sudut lain seorang gadis yang kini menatap jauh kearah bawah tampak dari wajah gadis itu ada rasa kecewa.


"ck... jadi ini alasan kak Satya pulang waktu itu, dia di paksa menikah dengan gadis itu!" gumam seorang gadis yang tak lain Melisa.


...☘️☘️☘️...


Di depan sebuah kamar Naira dan Satya yang masih berdiri di sana, tampak di wajah Satya ada sedikit rasa tak enak, Naira yang menyadari hal tersebut kini dirinya bersuara.


"Mas Satya kenapa?" tanya Naira.


"bagaimana kalau kita istirahatnya di kamar lain saja!" ujar Satya kepada Naira.


"eng.. kenapa Mas?" tanya Naira.


"ehh.. sebenarnya..!" belum sempat Satya melanjutkan perkataanya seketika buk Wulan datang menghampiri keberadaan mereka di sana.


"loh.. kok kalian belum istirahat?" tanya buk Wulan kepada Naira dan Satya.


"eng.. Satya mau cari kamar lain saja ya Mah!" pinta Satya kepada buk Wulan.


"loh kenapa? ini kan kamar kamu Sat, kalian tidur disini saja!" ucap buk Wulan sembari berjalan menuju pintu kamar yang hendak membukan pintu kamar itu.


"Jangan Mah!" sahut Satya yang kini berdiri tepat membelakangi pintu kamar itu sembari menghalangi buk Wulan.


Sontak buk Wulan dan Naira menatap bingung sikap Satya yang seperti itu.


"kenapa, kamu mau tidur dimana, nanti bakalan ada sepupuh kamu juga loh Sat, tidur di kamar lain!" ujar buk Wulan kepada Satya.


tanpa sadar, Satya yang tanpa sengaja sikunya membuka pintu kamar itu dan kini tampak isi dalam kamar itu, begitu banyak foto masa kecil miliknya yang terpajang rapi di dinding kamar itu.


"eh..!" gumam Naira yang menatap samar foto itu.


Dengan cepat Satya menutup kembali pintu kamar itu sebelum Naira melihat jelas foto masa kecil miliknya.


"cari kamar lain saja jangan disini, banyak serangga!" ucap Satya yang kini menarik tangan Naira menuju salah satu kamar lain.


"eng.. i iya Mas!" sahut Naira yang kini masih di tarik Satya.


buk Wulan yang masih berada di sana kini di kejutkan dengan suara Satya kepadanya.


"Mah.. jika ada Beni, suruh tidur di kamar Satya saja, biar Satya sama Naira tidur dikamar tamu!" ucap Satya kepada buk Wulan dari kejauhan.


"mmh baiklah!" sahut buk Wulan.


"kenapa dia begitu malu, apa dia tidak mau Naira melihat foto masa kecilnya!" gumam buk Wulan.


Namun secara bersamaan terlihat seorang pria muda kini berjalan menghampiri keberadaan buk Wulan yang masih berdiam di sana.


"Halo tante?" ucap pria itu kepada buk Wulan.

__ADS_1


"Beni?" panggil buk Wulan yang kini menatap kearah Beni yang merupakan sepupuhnya Satya.


"iya tante, eng... Satya nya ada tan? kok dari tadi aku gak lihat Satya kemari!" ucap Beni sembari bertanya.


"Satya lagi istirahat di kamar!" sahut buk Wulan


"di kamar ini kan?" tanya Beni.


"bukan.. di kamar tamu, tu sebelah sana, tapi... kamu jangan kesana dulu nanti saja, ayo kita kebawah." ucap buk Wulan yang kini mengajak Beni menuju lantai bawah.


...☘️☘️☘️...


Sesampainya di dalam kamar tamu, Satya dan Naira kini mereka berdua beranjak menaruh semua barang mereka di samping lemari pakaian.


bruk...


Satya seketika merebahkan tubuh di atas tempat tidur, dankini pandangannya menatap kearah Naira yang masih sibuk mengemasih baju baju mereka yang akan di taruhnya di dalam lemari.


Satya seketika beranjak menghampiri gadis itu dan seketika bersuara.


"letakan!" ucap Satya tiba tiba yang kini berdiri tepat di samping gadis itu.


Naira spontan menatap kearah Satya dengan wajah terlihat bingung.


"letakan, biar bibik saja yang mengemasinya nanti, lebih baik kamu istirahat dulu!" ucap Satya kepada Naira.


"bentar lagi...!"


"saya bilang letakan saja ini printah!" ucap Satya kepada Naira.


"huh... gini nih kalau sifat atasannya sudah keluar!" batin Naira kepada Satya.


Naira beranjak bangun dari sana sembari meletakan tas yang berisikan pakaian mereka, Naira menatap diam Satya yang dimana pria itu juga menatap kearah dirinya.


"lebih baik kita turun kebawah, sepupuh saya sudah datang, mari saya kenalkan dengan mereka!" ucap Satya kepada Naira.


"iya Mas!" sahut Naira.


"ada kata kata lain, kamu dari tadi ngomong iya Mas doang!" ucap Satya yang kini menatap kembali Naira.


Naira terdiam sejenak sembari memikirkan sesuatu.


"gak ada Mas Satya!" sahut Naira.


"Huh..!" gumam Satya yang kini membuang nafasnya dengan berat dan kembali berlalu menuju luar kamar itu.


Deg...


lagi lagi, Naira di buat terdiam akan Satya yang menggandeng tangannya.

__ADS_1


"gak nyebrang jalan loh, kenapa harus di pimpin segala!" batin Naira.


...🍀🍀🍀...


__ADS_2