
Tepat pukul lima soreh, Naira begitu juga Winda yang kini beranjak pulang dari mall menuju kekediaman mereka masing masing, di luar mall Winda kini memesan kembali taxi untuk mengantarkan mereka pulang.
Selang beberapa lama, mobil taxi yang barusan Winda pesan kini telah tiba dan berhenti di hadapan mereka, Naira begitu juga Winda bergegas masuk kedalam taxi tersebut dan tak lama taxi itu melaju meninggalkan mall tersebut.
selang beberapa lama, taxi tersebut kini berhenti di sebuah rumah megah yang terletak di jalan Mawar 07, Naira beranjak keluar dari dalam taxi tersebut dengan diiringi tatapan Winda yang menatap kagum rumah itu.
" Win, aku duluan ya, makasih jalan jalan nya, bye ! " ucap Naira sembari melambaikan tangan kearah Winda.
" i iya Nai,bye " ucap Winda masih menatap kagum rumah itu.
Naira yang masih berada di luar rumah, dan kini beranjak masuk kedalam rumah tersebut dan saat dirinya hendak melangkah menuju pintu rumah itu seketika pandangannya tertuju kesebuah mobil hitam milik Satya yang terpakir rapi di bagasi rumah tersebut.
" loh, mas Satya pulang kerumah " gumam Naira yang kini masih menatap bingung mobil milik pria itu, Naira bergegas masuk dan kini menatap intens seluruh isi rumah itu dan bergegas menuju lantai atas menuju kamar miliknya dan Satya berada.
cklek...
Naira yang baru saja tiba di dalam kamar, kini di kejutkan dengan keberadaan Satya yang tengah duduk di sebuah sopa panjang dengan hanya menggunakan baju handuk kimono putih, dengan rambut yang begitu berantakan.
" m mas Satya? " panggil Naira dengan wajah masih menatap takut Satya.
" mmh " sahut Satya yang masih fokus menatap sebuah layar laptop miliknya.
" mas Satya udah pulang? " tanya Naira kepada Satya.
" habis dari mana kamu? " tanya Satya yang kini menatap kearah Naira yang masih berada di ambang pintu kamar itu.
" eng.. Habis dari luar mas, sama Winda " sahut Naira gugup.
Satya kini mengalihkan pandangannya menatap jauh sebuah jam dinding di kamar itu yang kini menunjukan hampir mahgrib.
" kenapa kamu gak bilang sama saya, dan kamu baru pulang sekarang? " tukas Satya kepada Naira.
" eng.. Naira lupa mas, handphone Naira juga tertinggal di kantor " ujar Naira sembari menundukan kepalanya.
Satya spontan beranjak dari tempat duduknya dan kini beralu menghampiri keberadaan Naira yang masih terdiam di sana.
Satya sontak menarik dagu Naira dengan pelan dan kini menatap lekat gadis itu dan kini beralih menatap kesebuah gelang yang masih terpasang di tangan kiri Naira, gelang hitam yang bertulisan your mine.
Satya sontak memgalihkan pandanganya sembari bersuara kepada gadis itu.
" mari kita ujudkan keinginan mamah sama ibuk " ucap Satya kepada Naira.
Deg...
__ADS_1
Naira sontak membulatkan kedua bola matanya menatap bingung perkataan Satya barusan.
" eng.. Mas Satya, maksud mas Satya apa? " tanya Naira bingung.
Satya seketika mengalihkan pandangannya dan kini menatap kembali Naira yang masih menatap bingung dirinya.
" berikan saya seorang anak " ucap Satya memperjelas perkataanya.
Naira spontan memundurkan langkahnya sembari menatap bingung Satya yang tiba tiba seperti itu di pikirannya.
" mas Satya " gumam Naira.
Satya sontak menarik tangan Naira dan membawa gadis itu menuju tempat tidur.
" kenapa? Kamu menolak? Apa karena kamu mencintai seseorang saat ini? " tanya Satya yang begitu terlihat kesal.
" mas Satya maksud mas Satya apa, Naira gak ngerti loh mas, Naira juga gak tau siapa yang mas Satya maksud " ucap Naira sedikit takut.
" ck.. Bohong, kamu masih mencintai seseorang bukan, apa dia masa lalu kamu Naira? " ujar Satya yang begitu terlihat kesal.
Satya seketika berdalih menatap Naira yang kini berada tepat di bawahnya sembari menarik paksa baju gadis itu dengan kasar.
" Naira gak ngerti apa yang mas Satya maksud? " tukas Naira lagi yang kini tampak pasrah atas perlakuan Satya yamg begitu kepadanya.
" akh... " pekik Naira yang merasa sakit di bagian selangkangannya.
" mas Satya sakit mas hiks.. Hiks.. " cetus Naira yang kini mulai menangis.
" katakan kenapa, apa kamu masih mencintainya? Dia yang ada di masa lalu kamu Naira? " tanya Satya lagi dan lagi.
" iya, Naira masih mencintai nya " ucap Naira yang kini tampak kesal.
sontak Satya menghentikan tindakannya dan kini menatap kembali Naira dengan tatapan yang sulit di mengerti.
" Naira memang mencintai Dirga hiks.. Hiks, tapi itu dulu sekarang Naira sudah menikah, dan apa Naira masih pantas mencintai pria yang bahkan tidak pernah Naira lihat lagi " ujar Naira panjang lebar.
Satya seketika tertegun mendengar perkataan Naira barusan, sembari menatap bingung Naira yang masih terbaring di hadapannya.
" Dirga? jadi bukan Rendi yang selama ini kamu cintai Naira? " batin Satya yang kini terdiam paku.
Namun saat Satya tengah melamun seketika Naira merintih menahan sakit di perutnya.
" akh.. mas Satya perut Naira sakit mas " ucap Naira dalam isak tangis nya.
__ADS_1
" Naira? " sahut Satya yang kini tersadar dari lamunannya dan segera meraih tabuh Naira dan menenangkanya dalam pelukannya.
" mas perut Naira sakit " ujar Naira lagi.
" maaf kan mas Naira " sahut Satya yang beranjak menggendong tubuh Naira dan membawa gadis itu menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Satya kini meletakan Naira di atas kloset dan sembari berlalu mengambil handuk untuk menyelimuti tubuh Naira yang tanpa sehelai benang sedikitpun.
" mas Satya Naira mau muntah mas " ucap Naira lagi yang kini beralih membelakangi Satya dan menumpahkan semua makanan yang barusan di makannya.
" hoek "
" Naira kamu baik baik saja? " tanya Satya yang kini terlihat panik.
" gapapa kok mas, Naira cuman lemas saja " ucap Naira yang kini kembali dudu di atas kloset.
" bersihkan tubuh kamu dulu, setelah itu istirahat saja " ujar Satya kepada Naira.
" mas Satya, juga bersihin tubuh mas Satya dulu " tukas Naira yang kini memegang tangan Satya yang dimana pria itu masih berdiri tepat di hadapannya.
" baiklah " sahut Satya yang kini menggendong kembali tubuh Naira dan membawa gadis itu masuk kedalam sebuah kamar kecil yang terbuat dari kaca.
Satya begitu juga Naira kini keduanya membersihkan tubuh mereka bersamaan.
Tepat pukul enam malam, Naira yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan menggunakan pakaian kaos putih polos dengan celana hitam pendek tampak memperlihatkan separuh tubuh milik gadis itu yang begitu putih bersih.
namun tampak dari arah ruang ganti, Satya yang baru saja selesai mengganti bajunya dan kini menatap kearah Naira yang masih berada di sebuah cermin.
" apa perutmu masih sakit? " tanya Satya kepada Naira yang kini menghampiri keberadaan gadis itu di sana.
" tidak mas, sudah baikan kok " sahut Naira yang kini menatap kearah Satya, namun tampak wajah Naira begitu terlihat sedikit pucat dari biasanya.
Satya seketika menyentuh wajah gadis itu dengan tatapan terlihat sedikit panik.
" kamu sakit? " tanya Satya yang menyadari wajah Naira yang sedikit pucat.
" tidak kok mas, Naira baik baik saja kok, mungkin Naira cuman kecapek an aja, habis temanin Winda ke mall tadi " sahut Naira tersenyum lembut.
" kalo kamu sakit bilang, kita bisa kerumah sakit nanti " tukas Satya lagi.
" gapapa kok mas, Naira baik baik saja " sahut Naira lagi.
" eng.. Baiklah, ini ponsel kamu, mas bawa dari kantor, lain kali jangan di tinggal lagi " timpal Satya sembari memberikan handphone tersebut kepada Naira.
__ADS_1
" iya mas Satya, bawel banget sih dari tadi " cetus Naira yang kini menatap jengkel Satya.
...***...