
Di lain sisi, di sebuah kamar, Naira yang baru saja tiba di kamar itu dan kini berlalu menuju tempat tidurnya dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut dengan mata yang kini menatap jauh langit langit kamar itu.
" hh, apa yang aku pikirkan.. Huhuhu " gumam Naira yang dimana gadis itu masih terus di hantui oleh kejadian semalam bersama Satya.
Namun saat dirinya tengah memikirkan kejadian tersebut, seketika tanpa sadar suara notif dari handphonenya berdering, Naira sontak menatap kearah dimana handphone nya di letakan dan kini beranjak mengambil handphone tersebut dan menatap layar handphone miliknya yang dimana sebuah panggilan dari Winda tertera di sana.
" Winda? Tumben ngapain nih anak telpon? " gumam Naira yang masih menatap kearah layar handphone nya dan kini mengangkat panggilan tersebut.
" halo Win? Kenapa? " ucap Naira kepada Winda dari sebrang panggilan.
" Nai? Aku kira kamu udah tidur hehe, oh ya mau kasih tau nih, soal besok, kamu sibuk gak? " tanya Winda kepada Naira.
" eng.. Besok? Kayaknya tidak, kenapa Win? " ujar Naira kepada Winda.
" wih bagus dong, bagaimana kalau besok temanin aku ke mall, buat beli sesuatu " ujar Winda lepada Naira.
" mmh tidak masalah " jawab Naira.
" okeh sepulang kerja kita pergi " timpal Winda kepada Naira.
" baiklah.. Mmh aku matiin dulu ya Win telponya, takutnya mas... " belum sempat Naira melanjutkan perkataanya seketika dirinya teringat akan perkataanya barusan.
" mas? Siapa mas? apa kau sudah punya pacar Nai? " tanya Winda yang ternyata menyadari perkataanya Naira.
" aa bukan kok, maksudnya ada sepupuh ku baru saja tiba kemarin, namanya Faisal " ujar Naira bohong.
" ooh kirain tadi kamu udah punya pacar atau jangan jangan udah jadian nanti sama pak Rendi hehe " ujar Winda tertawa kecil
" sudah jangan mikir yang enggak enggak loh Win, dah aku mau tidur bye " ucap Naira kepada Winda.
" hehe baiklah.. See u next time di tempat kerja ya Nai " sahut Winda yang kini mengakhiri panggilan tersebut.
Naira segera meletakan kembali handphone nya dan kini bergegas memejamkan matanya untuk lekas tidur.
Cᴀғᴇ
yang dimana Satya dan Rendi keduanya itu sudah tiba di Cafe yang mereka tuju, dan tampak terlihat keduanya itu kini tengah berdiri tak jauh dari pintu cafe tersebut sembari menatap kesana kemari mencari meja kosong untuk mereka berdua.
Satya yang sedari tadi berdiam diri, dengan mata menatap kearah para gadis yang tengah asik bercanda tawa, namun alih alih pandangannya kini beralih menatap kearah Rendi yang masih sibuk mencari tempat duduk.
" berhentilah mencari dan duduk saja di situ " ujar Satya yang kini beranjak duduk di meja yang terletak di bagian tengah.
" eh.. Baiklah, lagian disini penuh " sahut Rendi yang kini beranjak duduk di meja yang sama dengan Satya.
" Kak, apa kau masih merasakan... " ujar Rendi dengan menggunakan bahasa tubuh kepada Satya.
" apaanya? " tukas Satya yang kini menatap Rendi dengan bingung.
" eng.. Itu, apa kau masih merasa gelisa saat berada di keramaian? " tanya Rendi penuh hati hati.
__ADS_1
Satya seketika mengalihkan pandangannya menatap intens Rendi dan kini beralih menatap jauh keramaian yang ada di dalam cafe tersebut.
" sedikit " jawab Satya.
" baiklah.. ku anggap kau sudah mulai membaik sekarang " balas Rendi sedikit tersenyum
" mau pesan sesuatu? " tanya Rendi yangasih tersenyum kikuk.
" es teh " jawab Satya tanpaelihat buku menu.
" eeh.. Mana ada es teh, ini cafe bukan warung makan, aneh aneh sekali " ujar Rendi yang kini menatap buku menu yang ada di tangannya.
" air putih " balas Satya.
Rendi seketika menatap bingung kakak sepupuhnya itu yang benar benar tidak menyukai hal hal luar.
" kenapa menatap ku seperti itu? " tanya Satya yang kini menyadari tatapan Rendi kepadanya.
" terserah kau saja kak, apa kau ingin makan sesuatu? " tanya Rendi lagi.
Satya tak langsung menjawab melainkan masih menatap kearah Rendi yang kini tengah menunggu jawaban darinya.
" apa aku terlihat seperti seorang gadis, yang selalu ingin di pertanyakan?, berikan buku menunya biar aku yang cari! " sahut Satya kepada Rendi.
" ohh heheh iya ini " tukas Rendi yang kini memberikan buku menu kepada Satya.
Satya membolak balik buku menu tersebut namun tampak dari wajah pria itu seperti tak berselera.
" eng... Hanya Macha dan stik " jawab Rendi.
" samakan saja kalau begitu " ujar Satya yang kini menutup buku menu tersebut dan menepikannha.
" baiklah.. Aku pesankan dulu " tukas Rendi yang kini beranjak memesan makanan untuk mereka berdua.
selang beberapa lama, Rendi yang sudah kembali dan kini beranjak duduk di bangkunya.
Namun saat keheningan yang cukup lama, seketika Rendi bersuara, sembari bertanya kepada Satya yang kini tengah meminum segelas air putih.
" kak, apa kau ingat, gadis kecil yang ku ceritakan waktu itu bersamamu? " tanya Rendi kepada Satya.
" siapa? " tanya Satya yang tanpa memalingkan wajahnya menatap kearah Rendi.
" Naira, gadis itu Naira, aku menyukainya sejak kecil " ucap Rendi kepada Satya.
Satya yang mendengar penuturan Rendi sontak tersedak minuman yang barusan di minumnya.
" hukss.. Hukss.. "
" hei pelan pelan, apa kau tersedak gara gara aku bilang suka gadis itu " ucap Rendi sembari memukul pelan pundak Satya.
__ADS_1
" sudah aku sudah baikan " ucap Satya yang kini menatap kearah Rendi dengan tatapan yang sulit di mengerti.
" hh, apa kau tau kak, kalau dia pernah menolak ku " sambung Rendi kepada Satya.
" lalu? " ujar Satya yang kini menatap lekat Rendi yang masih melanjutkan ceritanya.
" karena perjodohan yang orangtuanya lakukan " sambung Rendi tersenyum kecut.
Satya yang mendengar perkataan Rendi seketika menyandarkan tubuhnya di bangku tempatnya duduk sembari bersuara kepada pria itu.
" mungkin itu bukan jodoh mu saja " sahut Satya yang kini menatap jauh kearah lain.
Rendi spontan menatap kearah Satya dan kini menganggukan kepalanya pelan.
" tapi aku akan tetap menunggunya, sampai kapanpun itu, karena aku mencintainya, meski dirinya sudah menjadi janda sekalipun " ucap Rendi.
Sontak Satya menatap tajam Rendi yang kini masih menatap kearah jauh luar Cafe tersebut.
selang beberapa lama, makanan mereka berdua pun telah tiba, Rendi dan Satya kini segera menyantap makanan mereka tanpa bersuara sedikit pun yang kini menyelimuti keduanya itu.
Jam terus berlalu hari sudah menunjukan pukul 21.00 malam, tepat di sebuah ruangan, yang dimana terlihat Satya baru saja pulang dan kini beranjak menuju kamarnya.
Namun saat dirinya hendak menuju anak tangga seketika Satya di kejutkan dengan suara seseorang yang kini memanggil dirinya.
Spontan Satya menatap kearah suara tersebut dan tampak buk Wulan yang kini tengah berada di ambang pintu dapur dengan mata mematap tajam Satya.
Satya yang menyadari tatapan sang mamah begitu tajam, seketika menelan kasar salivanya.
" habis dari mana kamu pulang malam malam begini? " tanya buk Wulan kepada Satya.
" Satya dari kantor mah " sahut Satya.
" jangan bohong, kamu habis keluar sama siapa? " tanya buk Wulan yang kini menatap penuh selidik.
" eng.. Satya habis keluar bareng Rendi mah, dari cafe " jawab Satya.
" istri dirumah, suaminya malah keluar malam malam begini, apa kamu sering begitu Satya, saat kalian tinggal berdua saja? " ujar buk Wulan kepada Satya.
" nggak kok mah " jawab Satya lagi.
" apa Naira sudah tidur mah? " tanya Satya yang kini menatap kearah dimana sebuah kamar tamu.
" sudah, Naira sudah tidur, lebih baik kamu segera kekamar sana " ujar buk Wulan kepada Satya.
" mmh, iya mah, Satya kekamar duluan " sahut Satya yang kini berlalu menuju lantai dua yang dimana kamar dirinya dan Naira berada.
setiba nya Satya di depan sebuah pintu kamar tamu, namun saat dirinya hendak masuk kedalam kamar tersebut, namun alih alih pintu kamar itu sudah terkunci dari dalam.
" pake acara di kunci segala " gumam Satya yang kini merebahkan kepalanya di pintu kamar itu.
__ADS_1
Namun tiba tiba, seketika pintu kamar itu terbuka dari dalam, Satya yang sedari tadi bersandar di pintu tersebut seketika dirinya hilang kendali dan kini menabrak tubuh kecil milik Naira yang hendak keluar dari kamar itu menuju dapur.
...****...