Menikahi Pria Masa Kecilku

Menikahi Pria Masa Kecilku
Bab 18


__ADS_3

Naira seketika membulatkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang dirinya lihat


Syut....


Naira spontan mengalihkan pandangannya menatap kearah lain


Deg...


seketika semua mata menatap kagum keberadaan kedua orang itu disana


"Nai?, mimpi apa gue semalam, dapat makan bareng sama Direktur dan Pak Rendi malam ini" gumamnya yang masih menatap kagum kearah dua pria itu


"pak Rendi? sama orang yang waktu itu aku tabrak barusan, aduh bagaimana bisa sih harus seperti ini" batin Naira seraya menutup sedikit Wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Rendi yang menyadari keberadaan Naira di sana seketika tersenyum dan kini beranjak duduk di hadapan Naira.


namun dengan cepat seorang pria yang satunya kini menghentikan Rendi.


"mau kemana kamu Ren?" tanya pria itu kepada Rendi


"oh.. duduk!" jawab Rendi kepada pria itu


"oh.." gumam pria itu yang kini menatap keaseluruh anak IT yang berada di hadapannya


tampak sedikit ada rasa janggal di hatinya, tampaknya pria itu sedikit tak tenang, menatap kearah para gadis di hadapannya.


Rendi yang kini menyadari kalau kakak sepupuhnya itu pernah mengalami tarauma berat, seketika dirinya beranjak mendekati pria itu.


dan kini mengajaknya untuk ikut duduk ke meja yang lainnya.


"kak.. maafkan aku? aku lupa kalau kakak belum bisa sepenuhnya seperti dulu!" tukas Rendi kepada pria itu yang kini duduk di salah satu meja kosong yang agak jauh dari rombongan lainnya.


"tidak.. ini bukan salah mu Ren, hanya saja kenapa wanita itu selalu menghantui pikiran ku dan menakutiku" ucapnya seraya menatap jauh kedepan


"hem, sudahlah kak, kita duduk di sini saja!" ujar Rendi yang kini beranjak menemui yang lainnya memberitahukan kepada mereka sesuatu hal.


***


namun di sisi lain Naira dan yang lainnya kini hanya menatap bingung keberadaan Direktur, yang tidak ikut duduk bersama mereka.


"Nai? kau lihat tadi, wajah Direktur tampak seperti sedang mengalami sesuatu!" ujar Winda kepada Naira


"aku tidak lihat.. wajah Direktur Win" jawab Naira kepada Winda


"loh.. kenapa?" tanya Winda bingung


"bagaimana mau lihat coba, gue takut pria itu ingat gue yang pernah menabraknya" batin Naira


"nggak kenapa kok Win, sudah kita makan saja" tukas Naira seraya memakan makanannya.


namun di lain hal Naira kini tengah larut dalam pemikirannya tentang sosok pria itu.


"Direktur? berarti aku bakalan jadi sekretaris pribadi Direktur yang itu?" batin Naira yang masih larut memikirkan kejadian

__ADS_1


"bagaimana bisa! kayaknya lebih galak deh, bahkan saat dia berbicara tempo lalu, gak mandang sedikit pun langsung nyosor aja lewat" batin Naira lagi.


"apa aku tolak aja ya permintaan pak Jihan!" batin Naira lagi memikirkan tawaran itu.


plak..


Deg..


"Nai?" Panggil Winda membuyarkan lamunan Naira


"eng.. iya?" sahut Naira yang kini tersadar dari lamunannya.


"kamu mikirin apaan sih Nai?" tanya Winda yang masih menatap bingung Naira.


"tidak ada Win!" jawab Naira kepada Winda


***


pukul 19.12


terlihat Naira dan rombongan nya kini telah pulang kerumah mereka masing masing.


Naira yang baru saja tiba di rumahnya, yang kini bergegas menuju kamarnya seraya membersihkan tubuhnya.


saat dirinya sudah selesai Naira beranjak keluar dari dalam kamar mandi menuju kembali kekamarnya.


Brukk...


Naira kini kembali larut dalam pikirannya, mengingat sosok tersebut, namun saat dirinya tengah larut seketika tanpa sadar Naira seketika tertidur pulas dikamarnya.


***


Srek...


"eng...!" gumam Naira yang kini melihat kearah seorang pria yang hadir di hadapannya


Naira menatap bingung akan siapa sebernya sosok itu yang selalu menemuinya, namun saat Naira tengah asik memandangnya tanpa sadar peria itu mendekati wajahnya ke wajah Naira.


dan seketika.


cuph... sebuah kecupan mendarat di pucuk kening Naira.


Sontak Naira tertegun menatap tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.


Naira seketika mengangkat tangannya ingin meraih wajah pria itu namun seketika...


Sring...


Dret.... drert....


Deg...


Naira terbangun dari mimpinya, kini menatap kearah jam yang yang ternyata sudah menunjukan pukul 07.00 Naira sontak bangun dan kini beranjak duduk di atas kasurnya.

__ADS_1


"sudah siang!" gumam Naira


"untung hari minggu, kalau tidak aku bakalan kena skors untuk kerja" ujarnya yang kini beranjak turun dari tempat tidurnya seraya menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.


saat dirinya sudah selesai Naira bergegas keluar yang kini hanya menggunakan baju sehari hari saja.


di ruang tengah Naira yang hendak menuju halaman belakang seketika dirinya di panggil oleh ayah dan ibunya, yang ternyata berada di ruangan itu.


Naira bergegas menghampiri kedua orang tuanya, dan seraya duduk di sofa itu


"iya Yah.. Buk? kenapa?" tanya Naira yang kini sudah duduk di sana


pak Wawan dan buk Rati kini saling pandang satu sama lain, memikirkan sejenak perkataan mereka yang akan mereka sampaikan kepada Naira


"begini Nai! sebenarnya ayah dan ibuk ingin kamu menikah!" ucap pak Wawan seketika membuat Naira kini menatap tak percaya kedua orangtuanya itu


"loh Yah, Buk.., Naira saja baru kerja loh Yah Buk, kenapa Naira harus disuruh nikah?" ujar Naira seraya bertanya


"ayah tau nak, ayah ingin kamu menikah dengan putra shabat ayah yang kemarin datang kemari!" timpal pak Wawan lagi


"sama.. anak sahabat ayah?" tanya Naira mengulangi perkataan ayahnya.


Pak Wawan menganggukan kepalanya, mendengar perkataan Naira


"tapi Yah, Naira nggak hamil duluan loh, kenapa Naira harus di jodohkan sih Yah, Naira ingin punya suami yang cinta sama Naira juga Yah" ucap Naira kepada ayahnya


"Nai? nanti kalian juga saling mencintai kok" ujar buk Rati kepada Naira


"buk.. mana mungkin!" sahut Naira yang hampir menangis


"Nai.. besok mereka mau datang kemari! bersama dengan putra sahabat ayah juga" timpal pak Wawan kepada Naira


Naira seketika tertunduk seraya meneteskan airmatanya dan kini berlalu pergi menuju luar rumahnya entah kemana gadis itu pergi meninggalkan rumahnya.


***


Srek... srek...


Di sebuah taman Naira yang ternayata sudah tiba di sana, kini dirinya menangis tersedu sedu.


memandang sebuah pondok yang dulu mengingatkan dirinya akan sosok anak laki laki yang selalu di kaguminya.


"hiks.. hiks..!" Naira tak henti hentinya menangis meratapi nasibnya yang di jodohkan oleh kedua orantuanya.


Trash...


suara hujan yang kini turun begitu deras disana, Naira yang masih berdiri di taman itu tak memperdulikan dirinya yang sudah basah kuyup.


Naira seketika terduduk lemas memikirkan apa yang harus dirinya lakukan sekarang.


Namun dari arah jembatan tampak seseorang yang kini tengah menunggu hujan redah yang sedari tadi.


__ADS_1


__ADS_2