
mendengar suara tangisan seketika seseorang itu mengalihkan pandangannya menatap jauh kearah seorang gadis yang duduk di bawah derasnya hujan.
"apa masih ada orang yang ingin mandi hujan di deras derasnya hujan kilat petir kaya gini" gumam orang tersebut.
yang masih menatap jauh keberadan gadis itu yang merupakan Naira yang masih duduk di sana.
Seketika orang itu beranjak menghampiri Naira yang masih terduduk di sana.
srek..
Naira yang merasa air hujan tidak menimpanya seketika matanya menatap kearah sebuah payung yang kini menutupi kepalanya.
"eng!" gumam Naira bingung menatap sebuah payung yang kini berada tepat di atas kepalanya.
Dan kini beralih menatap seorang pria yang berada di sampingnya seraya memegangi sebuah payung.
Deg...
Naira seketika menatap paku keberadaan pria itu, yang kini menatap dirinya.
Tak ada sepatah katapun yang terlontarkan dari mulut Naira baik pria itu.
Srek..Naira beranjak dari duduknya dan seraya menghapus air matanya.
"maaf merepotkan anda tuan!" ucap Naira yang hendak ingin berhujan lagi.
namun dengan cepat pria itu, bersuara menghentikan langkah Naira yang ingin beranjak pergi dari sana.
"Apa kamu ingin mati? kamu tau ini hujan? kau lihat petir barusan!" Ujar pria itu kepada Naira
"Lebih baik kau berteduh" timpal pria itu lagi kepada Naira.
Naira beranjak mengikuti pria itu yang kini berada di sebuah pondok.
"terimakasih tuan!" ujar Naira kepada pria itu.
"hemm" jawab pria itu dingin.
Naira seketika mendongak kan kepalanya menatap sekilas wajah peria itu yang kini berdiri di sampingnya.
Deg..
Naira seketika terkejut menatap wajah tersebut.
"kau?" ucap Naira spontan dengan wajah masih kaget
sontak pria itu kini ikut menatap kearah Naira dengan wajah bingung.
"Eng..apa kau mengenaliku?" tanya pria itu seketika
"ah.. eng tidak.." jawab Naira yang kini menatap jauh kedepan
Naira seketika terdiam paku menyadari dirinya bersama pria yang pernah di tabraknya waktu itu.
__ADS_1
"Sudah lama sekali aku tidak kesini!" gumam Naira mengingat sosok Dirga yang pernah di temuinya waktu saat hujan deras.
pria yang kini berdiri di samping Naira seketika menatap kearah gadis itu dengan diam.
"terakhir kali aku kemari, saat aku menangis seharian disini" gumamnya lagi
***
lagi lagi Pria itu kini hanya diam mendengar cerita Naira.
"tuan, boleh aku bertanya? kenapa kau datang kemari saat hujan hujan begini?" tanya Naira yang kini memberanikan dirinya untuk bertanya kepada pria itu.
Pria itu spontan menatap Naira dan kini mengalihkan pandangannya kembali menatap jauh kedepan.
"ada seseorang yang ingin ku tunggu disini!" jawab pria itu.
Naira menatap bingung dengan perkataan pria itu.
tak lama hujan pun berhenti, tampak di langit matahari sudah mulai menampakan dirinya kembali.
"hacih...!" Naira seketika bersin merasakan sedikit pusing di kepalanya.
sontak pria itu kini kembali menatap Naira dengan tatapan bingung.
"Hacih... hacih..."
"kau terkena flu, lebih baik kau pulang sekarang, dari pada flu mu bertambah parah nantinya!" ujar pria itu kepada Naira.
Dan seketika
Bruk...
Naira ambruk terjatuh ketanah
sontak peria itu menatap kaget kearah Naira yang kini tergeletak di tanah.
dan bergegas menghampiri gadis itu yang jatuh pingsan di sana.
Deg...
seketika pria itu terdiam tak berani berbuat sesuatu, meningat dirinya yang pernah hampir di lukai oleh seorang wanita.
namun disisi lain pria itu tidak bisa membiarkan gadis itu terbaring disana, pria itu terdiam sejenak.
dan menarik nafasnya, dan kini mengangkat tubuh gadis itu dan meletakannya di pondok tempat mereka singgahi.
pria itu seketika membuka jasnya dan menyelimuti tubuh Naira yang sedikit terlihat akibat hujan membuat baju gadis itu basah.
plak.. plak...
pria itu kini memukul pelan wajah Naira untuk mencoba membangunkan gadis itu.
"hei? bangunlah!" pinta pria itu yang berusaha membangunkan Naira
__ADS_1
namun tanpa basa basi pria itu seketika meraih tangan Naira seraya menggosokannya agar tubuh gadis itu sedikit terasa panas.
tak lama Naira yang kini sedikit membuka matanya tampak gadis itu menatap samar wajah pria itu yang masih duduk di hadapannya, seraya menatap wajah pria itu.
Naira memandang lekat kedua mata pria itu, namun tampak tak asing di pikirannya.
"kau sudah sadar?" tanya pria itu kepada Naira yang kini masih berbaring di sana
Naira spontan bangun dari sana seraya menatap bingung apa yang barusan terjadi kepadanya
"apa yang terjadi?" tanya Naira bingung
"kau pingsan, lebih baik kau pulang.. dari pada nanti kau terkena demam!" ujar pria itu yang kini beranjak dari duduknya seraya berlalu pergi meninggalkan Naira yang masih menatap pria itu.
yang kini telah menjauh dari pandangannya, Naira hanya membuang nafasnya dengan berat, dan kini beranjak dari sana menuju pulang kerumahnya.
namun Naira seketika terkejut akan sebuah jas milik pria itu yang masih tertinggal bersamanya.
Naira yang ingin mengembalikan jas tersebut, namun dirinya tidak tahu harus mencari keberadaan pria itu.
"ah.. bagaimana caranya aku mengembalikan jas miliknya!" gumam Naira yang kini menatap jas tersebut yang masih berada di tangannya.
"ahh sudahlah!" gumam Naira lagi
yang kini melangkah kan kakinya menuju kembali kerumahnya. saat dirinya telah sampai di depan rumah, Naira yang hendak masuk kesana.
seketika di kejutkan dengan suara ibunya.
"ya tuhan Nai? kamu habis dari mana? basah kuyup begini?" tanya buk Rati yang kini beranjak menghampiri Naira
"dari taman buk, Naira tidak tau kalau akan turun hujan!" jawab Naira kepada ibunya.
"ahh sudahlah.. lebih baik kamu mandi dan ganti bajumu sekarang, jangan sampai kamu sakit nanti" ujar buk Rati keoada Naira.
"iya buk!" jawab Naira seraya melangkah kan kakinya menuju kamarnya.
***
di dalam kamar Naira segera melangkah kan kakinya menuju kamar mandinya untuk bergegas mandi, namun saat dirinya hendak menuju kembali kekamarnya.
Naira seketika teringat jas tersebut yang kini bersamanya, Naira menatap sekilas jas tersebut dan kini meraihnya dan meletakannya di dalam mesin cuci.
dan kini beranjak kembali kekamarnya. namun secara bersamaan handphone Naira seketika mendapat pesan Wechat dari seseorang.
Naira segera meraih handphonenya dan terlihat nama Rendi tertera di sana, Naira kini membuka pesan Wechat tersebut dan membacanya.
"Nai? besok temui aku di taman dekat kantor aku tunggu disana okeh?" ucap Rendi dalam sebuah pesan Wechat.
"hem baiklah, aku akan kesana besok, setelah jam kantor selesai!" balas Naira kepada Rendi dalam sebuah pesan Wechat.
Dan seraya mengakhiri pesan tersebut, Naira kini meletakan kembali handphone nya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1