
" Satya? " panggil Mamah kepada Satya yang masih berdiam diri di sana.
" eng.. iya Mah! " sahut Satya yang kini menatap kearah Mamahnya.
" kamu lihat siapa? " tanya Mamah bingung.
" eng... Mamah nya Sisil datang juga ya Mah? " tanya Satya.
" eng..Mamah gak tau Sat, Mamah gak lihat, tapi tadi kayanya Sisil emang ada di halaman belakang, soal Mamah nya, Mamah gak tau. " jelas Mamah kepada Satya.
" oh yaudah Mah, Satya permisi dulu. " ucap Satya yang kini hendak berlalu pergi.
" Ehh tunggu, Naira kemana? " tanya Mamah kepada Satya.
" loh.. bukannya Naira sama Mamah barusan! " sahut Satya seketika menghentikan langkahnya.
" mmh.. iya sih, tapi tadi katanya mau cari kamu, karna kamu gak kunjung tiba di sana. " jelas Mamah kepada Satya.
" loh gimana ceritanya, barusan tadi Naira sama Mamah, Satya juga mau nyusul Mamah barusan. " ujar Satya kembali berlalu menuju arah yang berbeda.
Namun saat dirinya hendak menaiki anak tangga, seketika Satya mengalihkan pandangannya menuju halaman belakang rumah, dan tepat di sana terlihat sosok Naira begitu juga dengan dua orang wanita yang tengah berbicara kepadanya.
" Naira ? " gumam Satya yang masih menatap kearah ketiga gadis itu di sana.
" ngapain dia di sana? " timpal Satya lagi.
Satya segera beranjak menghampiri keberadaan Naira, sesampainya di halaman belakang, Satya seketika menyentuh pundak Naira.
" eh Mas Satya? " ucap Naira yang kini menatap kearah Satya.
" mmh iya, Mamah cari kamu, ternyata kamu di sini, jadi saya cari kamu kemari. " jawab Satya.
" Satya? sudah lama ya tidak bertemu, dulu waktu kamu masih kecil dan kamu suka sekal..." belum sempat seorang wanita paruh baya itu melanjutkan perkataanya seketika Satya menyela.
" iya.. Maaf saya sama Naira harus kembali kedalam sekarang. " ujar Satya.
" Satya, kamu lupa sama aku? " sambung seorang gadis kepada Satya.
Satya menatap wajah gadis itu dalam diam.
" engg... Naira kenalin aku Sisil, aku dan Satya kita...."
" kami sepupuh jauh! " sambung Satya menyela.
__ADS_1
" ohh iya, salam tante, eng kami permisi dulu. " sahut Naira kepada Sisil begitu juga Mamahnya.
...***...
" Kok Satya gitu banget sih, apa jangan jangan gara gara kejadian waktu dulu. " batin Sisil.
" Sil kamu kenapa? " tanya Tante Fika kepada Sisil.
" ck.. ini semua gara gara Mamah tau gak. " ketus Sisil kepada sang Mamah.
" loh kenapa Mamah? " tanya Tante Fika bingung.
" hhh.. seandainya kejadian waktu itu Mamah..." belum sempat Sisil melanjutkan perkataanya seketika Tante Fika menyela perkataan putrinya itu.
" itu bukan kesalahan Mamah, itu kesalahan dari tante kamu itu, jika dia tidak egois untuk merebut cinta pertamanya itu, mungkin Satya bakalan tidak sebenci ini sama kita. " jelas Tante Fika kepada putrinya.
" Jika Mamah tidak memberikan saran yang konyol itu, mungkin kejadian itu gak akan seperti itu Mah, Mamah tau kan. " ujar Sisil sembari berlalu pergi meninggalkan halaman rumah itu dan menuju luar rumah.
" kenapa semuanya jadi begini, arghh.." gerutu Fika yang kini juga ikut pergi meninggalkan halaman rumah itu dan kembali kekediamnya.
Namun di lain hal, Satya yang ternyata sudah berada di dalam rumah bersamaan begitu juga dengan Naira yang kini tengah duduk di salah satu sof, Satya kini menatap kearah Naira dengan tatapan yang begitu sulit untuk di mengerti.
" Lain kali kalau ingin kemana kemana ngomong dulu Naira, saya gak suka kalau kamu begitu! " ujar Satya kepada Naira.
" ya sudah, saya mau kekamar dulu, nanti kalau Mamah tanya saya, bilang saya ada di kamar. " ucap Satya kepada Naira.
" iya Mas, Mas Satya istirahat saja dulu di kama, Naira mau kedapur mau bantu ibuk sam Mamah di sana. " ujar Naira.
" mmmh baiklah " sahut Satya.
Naira beranjak dari sofa dan kini berlalu pergi meninggalkan Satya yang masih berdiam sembari menatap kepergiannya di sana.
" huh... " gumam Satya menghela nafasnya dengan kasar dan kini beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut dan segera menuju ke kamarnya.
...***...
Hari kini berganti malam, Naira yang sudah selesai bersih bersih, dan segera dirinya berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam yang telah mereka buat sedari tadi.
Di dapur, Naira yang sudah tiba, begitu juga ibu dan Mamahnya yang kini tengah menaruh beberapa menu makanan di atas meja makan.
dan terlihat dari arah anak tangga, Satya dan dan kedua pria parub baya lainya kini berjalan menghampiri keberadaan gadis gadis di sana.
Naira menatap kedatangan ketiga pria itu dengan senyuman lembut yang terpancar di bibir gadis itu.
__ADS_1
Namun saat dirinya tengah asik melamun, tiba tiba Naira di kejutkan dengan suara buk Ratih yang kini memanggil dirinya.
" Nai, kamu ngelamunin apaan sih? " tanya buk Ratih kepada Naira
" engg bukan apa apa kok buk.. !" jawab Naira.
" mmh ya sudah, lebih baik kita makan malam aja sekarang, lagian Satya juga udah tiba tuh. " ujar buk Ratih kepada Naira.
Naira menganghukan kepalanya dan berlalu menghampiri keberadaan Satya dan beranjak duduk di bangku yang terletak di samping pria itu.
" Mas Satya, mau makan apa? " tanya Naira kepada Satya.
" mmh apa saja Naira! " jawab Satya.
Naira segera mengambilkan makanan untuk Satya dan meletakannya di hadapan pria itu.
" kamu gak makan? " tanya Satya tiba tiba.
" eng... !" gumam Naira bingung akan sifat Satya yang kadang kadang berubah ubah.
" i iya Mas Naira makan kok. " ucap Naira sembari mengambil makanan dan segera menyantapnya.
Buk Wulan dan Ratih tersenyum melihat tingkah keduanya itu yang masih terlihat canggung satu sama lain.
Namun di lain hal, Satya yang masih teringat akan kejadian semalam, membuat dirinya harus menahan malu.
" ada apa dengan diriku, kenapa aku merasakan seperti ini huh... ck memalukan. " batin Satya.
dan terlihat di wajah pria itu sedikit memerah.
" Sat, kamu kenapa akhir akhir ini suka ngelamun hh? " tanya Mamah kepada Satya.
" mm tidak kok Mah, Satya cuma... lagi gak enak badan. " ucap Satya.
" apa kamu gak enak badan Sat, kenapa kamu baru bilang sekarang? " ujar Mamah kepada Satya sedikit meninggikan nada suaranya.
" Mampus lo Sat, ngomong gak mikir dulu dari tadi! " batin Satya.
" eng.. maksud Satya tadi Satya kurang enak badan Mah, tapi sekarang Satya baik baik saja Mah, Mamah gak perlu khawatir, Naira jagain Satya dengan baik kok, ya kan Nai. " jelas Satya sembari menatap kearah Naira dengan maksud meminta tolong kepada gadis itu.
" a.. i iya Mah, Naira... " ucap Naira sedikit bingung akan apa yang harus dirinya katakan.
" ohh baiklah.. Mamah percaya sama kalian berdua. " sambung Mamah kepada Naira dan Satya.
__ADS_1
...***...