
Sepanjang perjalanan pulang ke vila sepasang suami istri itu hanya berdiam saling membuang pandangan, mendadak Kris menginjak rem mobil membuat kedua penumpang dibelakangnya terhuyung kedepan.
"Aah!" Bela yang kepalanya hampir mengenai jok atas kursi depan segera saja Ray menariknya kedalam pelukannya.
"Kau tidak apa-apa?" imbuh Ray sembari menahan tubuh istrinya.
"Aku tidak apa-apa.." ucapnya dengan lirih.
"Kris apa yang kau lakukan!"
"Maaf tuan barusaja ada kucing yang melintas."
Mobilpun kembali melaju dengan kecepatan sedang hingga akhirnya mereka sampai di vila.
Buru-buru Bela naik menapaki anak tangga menuju kamar, berbaring menghilangkah rasa lelah.
Ray yang tak lama kemudian menyusulnyapun mendengus kesal dibuatnya, "Cepat mandi bersihkan tubuhmu. Buang pakaianmu itu jangan sampai aku melihatnya lagi!" pekiknya dengan kesal.
Mendengar permintaan anehnya membuat Bela segera duduk, "Kenapa aku harus membuangnya memangnya apa salahnya dia hanya menyentuh kulitku, emh -" Bela mengernyit keskaitan saat tangan kekar Ray mencengkram kuat rahangnya.
"Jangan membantahku nona Arabela! Kau jangan lupa siapa pemilikmu sekarang, jangankan menyentuh kulitmu bahkan memandagmu saja aku tidak akan segan-segan melenyapkannya!" sorot matanya menyiratkan amarah.
"Emh!" Ray menghempaskan tubuh Bela kembali ketempatnya, lalu berteriak memanggil kepala pelayan.
"Ling! Ling!" teriaknya dari lantai 2 suaranya terdengar menggema hingga kelantai 1.
Ling segera mendekat kesumber suara dengan berlari kecil, "Saya tuan muda?"
"Buang seprai itu, dan juga baju yang dipakai nona mudamu sekarang!" tandasnya dengan kesal lalu pergi menuruni anak tangga menuju ruang kerjanya.
Terdengar suara pintu yang dibanting dengan begitu kuatnya hingga kedalam kamar.
Sementara itu dikamar atas Bela menangis, apakah tuan muda Ray sudah lupa dengan syarat pernikahannya?
"Nona.."
"Tidak perlu Ling, aku bisa membuang pakaianku sendiri."
__ADS_1
"Baiklah nona, tolong jangan sampai tuan muda melihat ataupun menemukannya lagi."
"Aku mengerti. Kau bersihkan saja seprai ini." Bela beranjak turun dari ranjang meraih piyama mandinya dan segera membersihkan diri sesuai dengan keinginan Ray.
Apa salahku, kami hanya sekedar mengobrol..
***
Saat makan malam Ray sama sekali tidak ikut memakannya, dia lebih memilih diam di dalam kamar sembari bermain laptop.
Sudah jam 20.45 malam namun dirinya tak turun-turun juga, masakan yang dimasak oleh Belapun menjadi dingin.
"Pelayan simpan saja makanan ini, sepertinya tuan muda tidak turun makan."
"Baik nona muda."
Bela segera menyusul suaminya kekamar atas, sudah berdiri diambang pintu namun ada sedikit keraguan didalam hatinya. Apakah tidak apa-apa jika memulai pembicaraan saat suasana hati tuan muda sedang buruk?
Lirikan mata Ray sekilas menatapnya namun seolah tak peduli, biarkan saja itu adalah hukuman untukmu!
"Kau tidak turun untuk makan?" mencoba mendekat dan duduk didekat suaminya. "Kau masih marah kepadaku? Aku sudah membuang pakaian yang kupakai tadi sesuai dengan permintaanmu.."
"Tolong maafkan aku.. aku -"
"Pergilah, jika kau lapar makan saja sendiri tidak usah menungguku."
"Kau masih marah, maafkan aku.."
"Pergilah jangan menganggguku aku sedang sibuk."
Ada rasa bersalah didalam hati Bela, dia tidak lupa statusnya saat ini tapi sedikit mengobrol dengan pria yang pernah menjadi masalalunya apakah hal itu salah?
Bela menggigit kecil bibir bawahnya, matanya sudah berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan Ray sendirian didalam kamar.
Jam dinding menunjukan pukul 23.15 malam, Bela tertidur disofa ruang keluarga dengan tv yang menyala.
Ray yang kebetulan haus saat ingin minum ternyata air diteko kamarnya habis membuatnya mau tak mau harus turun kedapur untuk mengisi ulang airnya.
__ADS_1
Sampai dilantai 1 langkah kakinya berhenti saat mendapati Bela yang tertidur dengan pulas. Dia mendekat dan berjongkok didepan sofa itu.
Tangannya mengusap lembut rambut yang menutupi pipi Bela, membelainya lalu mengecup bibir Bela.
***
Pagi menyapa namun sensasi dibibirnya itu masih sangat terasa, "Apakah aku bermimpi? Tapi ini seperti nyata."
"Selamat pagi nona, kenapa nona tertidur diluar?"
"Tidak apa-apa Ling, apakah tuan muda sudah bangun?"
"Tuan muda sudah berangkat kekantor sejak tadi nona."
"Benarkah?" diam sejenak, "Baiklah lanjutkan lagi pekerjaanmu."
Saat mandi Bela sempat berfikir akan memasakan sesuatu untuk suaminya, membawakannya bento kekantor.
Selesai mandi dan bersiap rapih Bela segera menuju kedapur untuk memasak.
Setengah jam kemudian masakannyapun selesai, bahkan sudah tertata rapih didalam box berwarna coklat.
Baru saja dirinya menjejakan kaki di teras, seorang pelayan pria menegurnya. "Selamat pagi nona.. maaf nona mau kemana?"
"Aku akan pergi kekantor tuan muda untuk memberinya bento." memamerkan box ditangannya dengan senyum mengembang.
Pelayan pria yang diketahui bera Faron itu mengangguk hormat, "Maaf nona tuan sudah berpesan agar tidak mengizinkan nona keluar dari vila ini. Bahkan tidak untuk menginjakan kaki diteras."
"Apa? 😳 Tapi akukan hanya pergi kekantornya, aku sudah sengaja membuatkannya bento."
"Sekali lagi saya mint maaf nona."
"Ya sudah jika begitu kau saja yang mengantarkan ini ke kantornya." Bela menyodorkannya box coklat tersebut dan diterima dengan senang hati.
"Baik nona jangan khawatir saya akan memastikan bento tuan muda sampai ditangannya."
Beribu rasa kesal didalam hatinya membuatnya ingin menjejakan kaki dan berteriak sekuat mungkin.
__ADS_1
Bela sekarang kau mengerti bukan siapa Ivander Raymond? Karena ulahmu saat itu apakah kau yakin masih diizinkan bekerja diluar rumah meskipun hal itu ada didalam salah 1 syarat pernikahan kalian?