Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Rencana Liburan


__ADS_3

Didalam kamar Bela masih terus mencoba menenangkan suaminya yang masih tersulut emosi.


"Sayang, tenanglah.." memeluk suaminya dengan erat hingga terdengar suara ketukan pintu dari luar, "Biar aku yang membuka pintu."


Baru saja Bela mau turun dari ranjang, Ray menahannya. "Diam dan tetap disini. Jangan keluar dari kamar!"


Bela mengangguk tidak ingin membantah perintahnya, pintupun terbuka mereka sedikit berbincang pelan sehingga Bela tidak bisa mendengarnya. Pintu kembali tertutup rapat, pandangan Bela turun kegenggaman tangan suaminya. Apakah mereka sudah menemukan pelakunya? Siapa pencurinya.


Ray duduk berhadapan dengan sang istri, "Benda ini sangat berharga bahkan melebihi nyawaku." Bela terdiam, "Liontin ini milik mendiang ibuku, jagalah dengan baik jangan sampai kau menghilangkannya." memakaikan liontin itu dileher Bela.


Bela tersenyum manis, "Terimakasih sayang. Aku adalah istrimu, dan ibumu adalah ibuku juga." wajah mereka semakin mendekat hingga tidak ada jarak yang tersisa, kecupan lembut dibibir lalu Ray merebahkan istrinya tepat dibawah tubuhnya, memulai aksinya dengan bersemangat hingga mereka berdua kelelahan dan tertidur dengan saling berpelukan.


***


Dibeskem..


"Bula?" Risa mendekati Ling yang terlihat begitu shock dan sedih.


Yang dipanggilpun segera menoleh, "Risa?" tanda merah ditangannya masih membekas, "Kau sudah mengompres pipimu?"


Bela mengangguk, "Sudah, tidak perlu khawatir."


"Aku sungguh tak menyangka akan jadi seperti ini. Aku gagal mendidiknya.." air matanya kembali menetes.


"Bula itu tidak benar.."


Ling memberikannya obat salep , "Pakai ini untuk mempercepat hilangnya bekas merah diwajahmu sebelum tuan Kris menegurku lagi."

__ADS_1


"Baiklah terimakasih.." tersenyum.


Risa menaiki anak tangga menuju kamarnya, duduk didepan cermin sambil meraba pipi.


Mengolesinya dengan salep itu, "Salepnya dingin.."


Dirinya tidak tahu jika secara diam-diam Krislah yang memberikan salep itu kepada Ling dan memintanya untuk memberikan salep itu kepada Risa.


Risa kembali teringat saat bagaiaman pria itu menoyor tubuhnya dihari pertama kerja dan beberapa jam yang lalu saat pria itu menariknya hingga menyentuh wajahnya.


Pria itu sangat dingin namun Risa masih bisa merasakan kehangtan dari dalam dirinya.


Sebuah senyum terukir diwajah Risa hingga ia tersadar kembali dari lamunannya, "Oh Tuhan apa yang sedang kulakukan?" menggeleng, "Dia orang jahat dan super kejam. Ingatlah kedua hal itu Risa, ingat!"


Sudah jam 23.25 malam namun Risa masih tak dapat tidur, dibenaknya masih memikirkan perilaku Kris.


"Bodoh mati saja kau Risa! Ingatlah bagaimana caranya memperlakukan ayah. Kau harus membencinya Risa, harus!" umpat Risa terang-terangan. Lelah mengumpat sendirian diapun tertidur setelah menyetel alarm dijam walker bentuk kodoknya.


***


"Risa?" panggilnya dengan bahagia.


"Selamat pagi nona muda.." mengangguk sambil tersenyum.


"Risa?"


"Iya nona.."

__ADS_1


"Buatkan aku makanan seperti yang kemarin siang."


Terkejut, darimana nona mudanya tahu jika makan siang kemarin adalah buatan tangannya.


"Risa, hei?" Bela menepuk bahunya sedikit kuat untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Aaa iya nona baiklah akan segera saya siapkan."


Usai sarapan sepasang suami istri itu duduk bersama di ayunan gantung yang terletak disudut ruangan keluarga.


Bela duduk dengan memangku bantal kecil, lalu menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.


"Sayang kau masih marah?"


"Tidak, kenapa?"


"Emm.. apakah kita jadi liburan?"


Ray meliriknya lalu mencubit pelan hidung wanita itu. "Sepertinya kau ini benar-benar bosan berada di vila ini ya?"


"Aaa..." menepis tangan Ray lalu memeluknya, "Bukan seperti itu hanya -"


"Kemasi pakaianmu, siang ini kita akan pergi ke bali."


Waah rasanya bahagia sekali bisa berlibur kepulau dewata bali.


##

__ADS_1


Hai readers bali..


yuk ikutan meet and greet bersama oppa Ivander Raymond dan juga noona Arabela Danita dipulau dewata, bali 🤭🤭🤭


__ADS_2