
Malam semakin gelap dengan awan mendung yang menggulung langit.
Rintik hujan mulai membasahi bumi, Ray yang baru saja memarkirkan mobilnyapun langsung bergegas masuk kedalam vila.
Diruang tamu sang istri sudah menungguinya sejak tadi, "Sayang?" Bela mendekat mencoba untuk meraih tas kerja suaminya namun dengan cepat Ray menepis tangan Bela dengan kuat.
"Jauhkan tanganmu dariku!" ucapnya singkat lalu masuk kekamar atas dilantai 2.
Belapun menyusulnya dari belakang, belum sempat dirinya menginjakan kaki kedalam kamar secara mendadak Ray melemparnya dengan sehelai pakaian yang pernah ia pakai saat keluar dari hotel elit bintang 5 kamar VVIP 8888.
"Kau datang kemari tanpa membawa apapun selain pakaian itu, jadi lebih baik kau juga pergi dari tempat ini tanpa membawa sepeserpun!"
Air mata Bela luluh lantah jatuh saat itu juga, "Aku menikahimu secara diam-diam, dan aku juga akan mengembalikanmu secara diam-diam!" lanjut Ray tanpa belas kasihan.
Sakit sekali rasanya saat mendengar itu semua, apakah itu yang dinamakan talak?
Bela masih ingin melangkahkan kakinya, namu lagi-lagi Ray mengangkat tangannya setengah dada. "Jangan lewati batasnmu nona Arabela Danita! Jika kau ingin bicara maka bicaralah dengan pengacaraku!"
Brak!
Pintu kamar tertutup dengan rapat, malam hujan seperti ini kau mengusirnya? Wah Ray kau sangat tega sekali.
Kau menjatuhkan talak pertamamu kepadanya.
Dengan lemas dan gemetar Bela melangkahkan kakinya menyusuri malam hening, tubuhnya basah kuyup karena terkena hujan yang deras.
__ADS_1
Berjalan menyusuri dinginnya malam hingga akhirnya dia sampai disebuah rumah tua.
Dengan kondisi perut yang lapar dan kedinginan malam ini dia terpaksa berteduh dan tidur ditempat yang seperti itu.
***
Pagi menjelang, Bela tersadar dari tidurnya kepalanya terasa pusing dan tiba-tiba saja dia merasa mual ingin muntah.
Perutnya juga keroncongan, tapi tidak ada apapun yang bisa dimakannya. Bela kembali melanjutkan perjalanannya hingga ia bertemu dengan ayah Risa.
Pria itu terlihat ketakutan dan mencoba menghindar. "Tuan kenapa kau sangat ketakutan saat melihatku."
"Ti- tidak apa-apa.. hanya saja mendadak aku teringat sesuatu." buru-buru ayah Risa pergi meninggalkan tempat itu. Berharap semoga mereka tidak pernah bertemu lagi.
Alasan yang ia pakai dulu adalah bahwa dirinya pergi untuk bekerja disuatu tempat, dan sekarang dirinya akan kembali tinggal lagi bersama orangtuanya untuk sementara waktu.
Angkutan umum yang membawanya pergipun sudah sampai ditepi jalan. Bela turun dan meminta sopir untuk menunggu sebentar sementara dirinya pergi untuk meminta ongkos kepada orangtuanya.
"Ayah.. ibu.. aku pulang.."
"Bela?" sambut keduanya dengan gembira. Sebelum melanjutkan reunian mereka terlebih dahulu Bela meminta ongkos dan segera pergi untuk membayarnya.
***
Ditempat kerja Ray masih disibukan dengan berbagai tumpukan dokumen yang tak lama kemudian perhatiannya teralihkan pada suara pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Maaf tuan saya sudah mengetuk pintunya tapi tidak ada jawaban."
"Masuklah!" ternyata yang datang adalah Daren dengan membawa berkas laporan perceraian kliennya.
"Kau sudah mengurusnya?"
"Sudah tuan sesuai dengan permintaan anda. Mungkin lusa nona Bela akan mendapatkan surat dari pengadilan." seru Daren dengan serius.
Kembali kerumah orangtua Bela..
Mereka terlihat sedang berbincang hangat, Banyak berbincang membuat yakin jika suara rekaman itu bukanlah ayahnya.
"Nak kenapa kau melamun?" tanya sang ayah sembari mengusap lembut wajah putrinya. Ibu sedang membuatkan teh hangat dan sarapan untuk Bela.
"Tidak apa-apa ayah, aku hanya rindu kalian."
"Kenapa kau baru pulang sekarang? Memangnya pekerjaanmu itu lebih penting dari kami ya?" tandas sang ibu dengan kesal.
"Haha.. tidak bukan begitu hanya saja aku memang sedang sibuk."
"Kau sudah bekerja tapi kenapa meminta ongkos?"
"Aku lupa membawa dompet jadi ya seperti inilah jadinya haha.."
Obrolan hangat dikeluarga kecilnya, perhatian dan kasih sayang kedua orangtuanya yang begitu ia rindukan.
__ADS_1