
Pepatah populer mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.
.........
Pagi ini Kris datang kevila membawa sebuah laporan yang pastinya akan membuat tuan mudanya terkejut bukan kepalang.
Masuk melewati beberapa pelayan hingga tak sengaja melihat Meri yang sedang berbincang dengan Faron.
Mereka terlihat sangat akrab tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Ling yang saat itu tak sengaja melihat Kris sedang memergoki 2 pelayannyanpun langsung menegur.
"Selamat pagi tuan ada yang bisa saya bantu?"
"Panggil dia kehadapanku!"
Meri kapan kau akan berhenti membuat masalah? "Baik tuan.."
Kris sudah menunggunya diruangan kerja Ling, dia duduk dengan santai melipat kakinya. Tak menoleh meskipun mendengar suara ketukan pintu.
"Permisi maaf tuan apakah tuan memanggil saya?" seru Meri dengan polosnya.
"Duduk.." Duduk berhadapan, "Kenapa kau duduk disana?" menepuk tempat kosong didekatnya, "Kemari!"
"Hm?" bingung. Kening Kris berkedut kesal, "Ba- baik tuan.."
Duduk hanya menyisakan 1 meter disebelah pria itu.
"Sepertinya kau punya waktu luang yang sangat banyak ya.."
__ADS_1
"Maaf tuan saya tidak mengerti."
"Hm, benarkah?" tanpa diduga tangannya menarik ikat rambu Meri dan membuat rambut indahnya tergerai dengan indah.
"Tuan?"
"Apa?"
Meri langsung diam menundukan wajahnya.
"Kali ini aku memaafkanmu tapi berikutnya jika aku mendapatkanmu seperti itu lagi awas saja kau!" beranjak dari duduknya, pergi meninggalkannya sendirian.
Ayolah Kris jangan kebiasaan membuat anak orang jantungan mendadak, Meri terdiam masih memikirkan apa maksud dari ucapannya.
***
Kalian ingat permainan injit-injit semut?
Ya itulah yang sedang mereka mainkan dengan taruhan yang kalah harus mau mencium dan yang menang akan dicium.
Hey tuan muda peraturan macam apa itu?
"Kau kalah!" Hah pria itu memang punya senyum yang jenaka terlebih lagi sangat pintar membuat peraturan permainannya.
"Kenapa bisa aku yang kalah, kan seharusnya kau yang kalah.." Lebih parahnya lagi taruhan macam apa itu? Aaa menyebalkan.
"Haha kalau sudah kalah ya kalah, ayo cium aku.. cium aku, cepat disini.. disini.. dan disini juga ya jangan dilewatkan.." menarik-narik tangan Bela agar bergerak lebih cepat.
__ADS_1
"Aaa tidak mau, tidak mau kau curang. Tidak ada pertauran yang seperti itu.." mau kabur.
"Hei jangan kabur kau!" dengan cepat Ray menarik Bela kedalam pelukannya, mendekapnya dengan dalam dan penuh kehangatan. "Jangan pergi!" suaranya begitu lirih.
"Sayang ada apa? Kenapa kau suaramu terdengar sedih?" Bela yang saat ini wajahnya terbenam didada bidang Ray berusaha untuk menatapnya tapi tangan Ray dengan cepat menahannya. Menekan kepala Bela agar masuk lebih dalam lagi. "Emh.. sayang sesak.."
Tangan kekar itu membelai rambut bela,.mengecupi pucuk kepalanya. "Jangan pergi dariku, aku bisa gila jika hal itu terjadi."
"Sayang bukankah aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan pergi lagi darimu apapun yang terjadi."
"Kau mencintaiku?"
"Ya tentu saja memangnya siapa lagi pria di dunia ini yang kucintai selain ayah dan dirimu?"
"Arabela Danita."
Bela sedikit tergelak mendengar Ray menyebutkan nama lengkapnya. Jika hal itu terjadi maka artinya akan ada sesuatu yang terjadi juga.
"I- iya?"
Hening sesaat namun tangan Ray masih mengusap kepalanya.
"Katakan padaku apa yang sudah dikatakan oleh ayahku saat dia menemuimu? Dan apa alasanmu menutupi semua itu dariku!"
###
Maaf geng baru sempet update yaa..
__ADS_1
🙏🙏🙏