Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Chapter 9


__ADS_3

"Mau kemana?" Ray bertanya saat mendapati Bela meraih handle pintu kamarnya.


"Kembali kekamarku, aku mau mandi."


"Ini juga kamarmu, aku sudah menyuruh pelayan untuk memindahkan pakaianmu ke kamar ini?" telunjuknya mengarah kelemari warna biru.


Sejak kapan lemari itu ada disini? Sepertinya semalam tidak ada.


"Apa lagi yang kau tunggu? Segera mandi dan bersiap sudah waktunya untuk sarapan." seru Ray seraya meraih hp diatas meja rias lalu duduk diatas sofa menunggu Bela selesai bersiap.


Jantung Bela samakin berdetak kuat, bahkan dirinya sudah sengaja memperlambat setiap gerakannya didalam kamar mandi, memutar keran air hingga setengah putaran membiarkan airnya mengalir dengan pelan.


"Bagaimana ini haruskah aku menikahi pria yang bahkan tidak kucintai?"


Tak seberapa lama terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan cepat sedikit aku bisa terlambat kekantor." seru Ray sembari menguatkan ketukan pintunya.


25 menit kemudian Belapun keluar, piyama mandi putih sebatas lutut dengan rambutnya yang basah.


"Maaf aku tadi sedang asyik mandi, bisakah kau menunggu beberapa menit lagi. Aku masih harus memilih pakaian."


"Cepatlah.."


25 menit kemudian Bela sudah bersiap dan pagi ini dia tampil dengan sangat anggun. Melangkah bersama menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan.


"Selamat pagi tuan, nona.." seru pelayan menyambut mereka.


Sarapan pagi ini sedikit berbeda dari biasanya jika mereka akan menghidangkan roti bakar namun kali ini mereka menghidangkan roti oppa untuk menu sarapan.


"Duduk dan habiskan sarapanmu.."


"Iya aku mengerti.."


***


Selesai sarapan mereka berdua masih tetap duduk dikursi masing-masing tanpa seorang pelayanpun.


"Katakan apa jawabanmu?"

__ADS_1


Bagaimana aku bisa menjawabnya jika kau memandangiku sedingin itu.


"Arabela Danita?"


"Aku setuju dengan syarat."


"Katakan.."


"Aku akan menuliskan semua persyaratannya dan kau bisa mengesahkannya pada pengacara."


"Tidak masalah, baiklah aku puas dengan jawabanmu." usai berbincang Raypun segera melenggang pergi, diluar sana Kris sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu.


"Selamat pagi tuan?" tangannya bergerak membukakan pintu mobil samping bagian belakang.


Ray mengangguk lalu masuk kedalam mobil, "Kirim pengacara untuk nona Arabela Danita!"


"Baik tuan.." dan mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.


***


Tepatnya jam 11.30 siang pengacara Daren datang ke vila sesuai dengan permintaan Bela ternyata Ray benar-benar menepatinya.


"Selamat pagi juga, bisakah kita langsung keintinya?"


Mereka berdua duduk saling berhadapan, "Baiklah tidak masalah nona."


Bela memberikan selembar kertas yang sudah ia tulis beberapa poin penting selama terikat pernikahan dengan tuan muda Ray.


Daren sedikit terkejut saat membacanya, Ku fikir nona akan menuntut harta gono gini kepada tuan muda, ternyata semua diluar dugaanku.


Dirinya masih menyimak poin-poin tersebut.


Dibagian atas tertera lengkap nama mereka berdua Ivander Raymond selaku pihak pertama dan Arabela Danita selaku pihak kedua.


Menyepakati untuk :



__ADS_1


Apapun yang terjadi dengan pernikahan ini, dan kesalahan apapun yang dilakukan oleh pihak kedua maka pihak pertama tidak boleh menjadikan orangtua pihak kedua sebagai sasaran amarah;




Pihak pertama tidak boleh melakukan kekerasan fisik dalam bentuk apapun, dan apapun alasannya kepada pihak kedua;




Mengizinkan pihak kedua untuk bekerja diluar.




"Nona apakah anda yakin hanya 3 poin ini saja? Nona tidak ingin menambahkannya lagi misalnya seperti pembagian harta gono-gini?" Daren mencoba untuk memancing sikap Bela. Tapi sepertinya dia sudah salah orang.


"Aku tidak membutuhkannya, itu saja sudah cukup."


"Baiklah, saya akan menemui tuan muda terlebih dahulu sebelum mengesahkannya."


"Iya terimakasih untuk kerjasamanya tuan Daren."


***


Darenpun segera melajukan mobilnya menuju kantor tuan muda Ray.


Mobilpun sampai diparkiran kantor, sepasang kaki turun dari mobil dan melangkah dengan penuh kharisma.


Setelah sampai diruangan Ray langsung saja Daren menyampaikan syarat yang telah diajukan Bela untuknya.


"Hanya ini?" seru Ray alisnya berkedut, "Kenapa dia tidak meminta sebagian hartaku daripada harus bekerja diluar."


"Saya sudah menanyakannya tetapi nona muda tidak menginginkan itu semua."


"Baiklah langsung kau sahkan saja." menatap Kris yang duduk didekatnya, "Kris segera urus dokumen pernikahan kami."

__ADS_1


"Baik tuan, akan segera saya urus." Kris mengangguk hormat lalu pergi meninggalkan kantor, masuk kedalam mobil melajukannya dengan kecepatan sedang menuju kantor catatan sipil.


__ADS_2