
Hari berikutnya Ray masih seperti biasa menjalankan semua tugas-tugasnya sebagai seorang CEO, menandatangani berkas, memimpin rapat, dan masih banyak lagi.
Dilantai tertinggi gedung Beez Group tepatnya diruangan Ray bekerja, saat ini dirinya tidak sendirian melainkan sang ayah juga ada disitu.
Pertama kalinya ayah datang setelah Ray menikah secara diam-diam.
Mereka duduk berhadapan disebuah sofa dengan meja kaca yang menjadi pembatasnya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar namun tak satupun yang menoleh, "Masuk!" perintah Ray pada orang itu.
Metapun segera masuk dengan membawa nampan berisi teh panas untuk kedua petinggi perusahaan tempatnya bekerja, "Permisi tuan besar, tuan muda maaf mengganggu.. ini tehnya silahkan." tersenyum lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang sopan.
Suasana dingin diantara anak dan ayah bukanlah hal yang aneh lagi, semenjak ayah menikah untuk yang kedua kalinya hal seperti ini sudah sering terjadi.
"Kapan kau akan pulang kerumah?"
Ray diam tak menjawab.
"Aku sedang bicara padamu!"
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang!" balasnya dengan tegas, dia beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati meja kerja. Tangannya memutar vas bunga kecil, "Kenapa ayah datang kemari?"
"Hmph!" tersenyum sinis, "Ini juga perusahaanku jika bukan karena diriku apakah kau fikir dirimu bisa menjadi seperti sekarang?"
"Langsung saja keintinya!" seolah tahu apa maksud dari kedatangan ayah.
"Tinggalkan wanita itu!" melemparkan sebuah amplop coklat keatas meja, "Hanya anak seorang buruh cuci memangnya siapa dia?"
Mendadak Ray menghentikan permainan vasnya, mendongakan wajah keatas langit-langit ruangan dan tertawa kecil, "Hmh! Meninggalkannya? Mendiang ibuku adalah seorang putri tunggal dikeluarga kakek, mereka memiliki jumlah kekayaan dengan total nilai triliunan untuk 1 aset.."
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" wajahnya mengeras dengan tatapannya yang penuh emosi.
"Ray!" membentak, "Jaga ucapanmu."
"Sebelum kematiannya ibu mewasiatkan kepada pengacara Sridy seorang ahli waris yang akan mewarisi semua kekayaannya.." melirik ayah lalu mengangkat 1 alisnya dengan wajah sinis. "Ivander Raymond, nama itu tercatat sebagai ahli warisnya."
"Ray!" tak bisa lagi menahan amarah, ayahpun spontan berdiri tegak dengan kedua tangannya yang terkepal erat.
"Hm?" diam sejenak, "Raymond adalah nama kebanggaan keluarga ibu. Jika ayah masih ingin hidup bergelimang harta seperti ini maka ayah yang paling tahu apa yang harus ayah lakukan bukan?" Ray kembali terkekeh, menggeleng merendahkan lalu pergi begitu saja meninggalkan ayahnya diruangan itu.
__ADS_1
***
Sementara itu di vila siang ini Bela hanya tiduran seperti biasa, kaum rebahan akut yang hidupnya sudah sangat terjamin.
Bosan bermain hp dia melanjutkannya dengan menonton tv, "Aaa apa ini kenapa acara tv nya tidak ada yang bagus sih?" keluh Bela yang terus mengganti channel tv nya.
Tidak ada satupun acara hiburan di tv yang seru, klik! Suara tv yang dimatikan.
Bela kembali beranjak keatas ranjang untuk melakukan video call dengan suaminya.
Panggilan video call terhubung.
"Sayang kapan kau pulang.. eh tunggu bukankah kau sedang di coffe?" melihat kejam dinding, "Aaaa curang bukankah ini jam kerja lalu kenapa kau bisa ada di coffe?" itulah rentetan pertanyaan yang dilontarkannya, masih belum selesai, "Dengan siapa kau pergi ke coffe, Kris? Dimana dia cepat arahkan kamera padanya."
"Kau ini istriku atau istrinya? Cerewet!" mendengus kesal, "Awas saja kalau kau berani keluar dari vila akan kupotong kakimu." nadanya tegas mengancam.
"Hm.. 😣😣"
"Hey lihat ekspresi wajah apa itu yang kau tunjukan padaku? Sekalipun dunia ini terbalik aku tidak akan mengizinkanmu untuk keluar kecuali aku yang mengajakmu. Ingat itu!" klik, video call terputus. Ray sungguh keterlaluan dia mematikan panggilan video itu.
__ADS_1
"🤦🤦🤦 Haaah!" menghela nafas sedalam-dalamnya dengan dalam.