Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Kejutan


__ADS_3

Ray menekan tombol bel rumah ayahnya dan tak lama kemudian seorang pelayan datang membukakan pintu. Wajahnya terlihat senang, "Tuan muda?" pelayan itu memeluknya.


Pelayan tua yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. "Kenapa baru datang sekarang?" dia menangis dengan cepat Ray melepaskan diri dari pelukannya lalu mengusap air matanya.


"Kenapa menangis? Aku masih hidup jadi jangan menangisiku."


"Tuan dan nyonya besar sudah menunggu tuan muda.." pandangannya beralih kepada sosok Bela yang tersenyum kepadanya. "Tuan muda siapa wanita ini?"


"Dia istriku.."


"Istri? Wah cantik sekali sama seperti mendiang nyonya besar pertama."


Mereka berempatpun masuk bersamaan diruang keluarga tuan dan nyonya besar serta Salsa yang sudah menunggu.


Salsa terlihat sangat terkejut saat melihat Ray menggandeng seorang wanita.


"Sayang siapa yang kau bawa?"


Mendengar kata sayang meluncur dari bibir Salsa membuat dada Bela bergemuruh, bahkan hampir melepaskan gandengan tangannya.


Namun dengan kuat Ray menggenggamnya hingga tak bisa terlepas.

__ADS_1


"Selamat malam ayah.." hanya menyapa sanga ayah sementara istri muda yang disebut sebagai nyonya besar alias ibu tirinya ia abaikan.


"Duduk.." perintah sang ayah, dirinya sudah tidak heran lagi dengan sikap Ray yang selalu mengacuhkan keberadaan istri mudanya itu.


Bela dan Ray duduk berdekatan hampir tak ada jarak yang tersisa diantara keduanya, sedangkan Kris dia hanya berdiri dibelakang tuan mudanya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa dia?" wajahnya sudah merah menahan amarah dengan tangan terkepal erat.


"Perkenalkan dirimu!" seru Ray dengan wajah dinginnya menatap Salsa.


Bibir Bela bergetar menyebabkan suaranya sedikit kacau, Bela masih berusaha untuk menenangkan dirinya mencoba untuk berdehem kecil, "Selamat malam ayah, ibu, namaku Arabela Danita -"


Bela tercekat dan terdiam bagaimana dirinya bisa tahu jika itu yang dimaksud, tak ada yang memberitahukannya.


"Istri?" sang ayah terkejut bukan main, dia terlihat begitu emosi. Sementara ibu tirinya mencoba untuk menenangkan sang suami.


"Suamiku tenanglah, itu sudah pilihannya.. dia berhak untuk memilih.."


Lain halnya dengan Salsa, dia begitu terpuruk hingga menghela nafas begitu dalam tubuhnya serasa lemas, "I.. istri? Tapi kenapa tadi kau menerima ajakanku untuk ketaman itu.." Salsa tak kuasa menahan air matanya, dadanya begitu sesak dia mencoba berdiri namun tak bisa, "Kau tahu sepenting apa tempat itu untukku!" teriaknya memenuhi ruangan itu.


"Karena itu adalah tempat terakhir kau bisa melihatnya denganku. Sekarang kau sudah mendapatkan kejutannya jadi sadarilah siapa dirimu sekarang, dan menjauhlah dari hidupku!" dingin, suara datarnya terdengar seperti sedang mengancam.

__ADS_1


Suasananya mendadak tidak kondusif dan sang ibu berusaha untuk mencairkannya, "Sudah waktunya untuk makan malam.. ayo kita makan dulu, setelah itu kita bisa melanjutkan obrolan ini.."


Salsa menggeleng, dia menggigit kecil bibir bawahnya dengan air matanya yang menderai deras. "Aku.." suaranya terdengar bergetar pilu, "Aku.. maaf aku masih ada urusan diluar." lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan berlari.


Sang ibu menatap ayah dari putra tirinya, "Suamiku ayo.." bisiknya dengan pelan.


***


Bahkan dimeja makanpun suasananya masih tegang, ada apa ini? Hubungan antara orangtua dan anak yang terlihat tidak harmonis seperti ini.


"Karena kalian sudah datang malam ini menginaplah dirumah.." seru sang ibu.


Ray hanya diam tak menggubrisnya membuat sang ayah semakin emosi, "Mau sampai kapan kau mengacuhkannya? Dia juga ibumu!"


"Tapi tidak dengan membunuh ibuku!" tandas Ray tak kalah membentak sembari menggebrak meja, dirinya semakin diliputi emosi saat melihat ibu tirinya menitikan air mata, "Ayo pulang!" seru Ray menarik tangan Bela.


***


Didalam mobil yang melaju sedang mereka hanya diam, Bela masih bingung dengan apa yang terjadi namun 1 hal yang ia inginkan saat ini yaitu mengusap air mata suaminya.


Bela menyandarkan kepalanya dibahu sang suami, menggenggam tangannya namun tetap diam tanpa berucap sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2