Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Membersihkan Kamar (2)


__ADS_3

Ling dan 2 orang pelayan lainnya masih sibuk membersihkan kamar tuan dan nona muda mereka, sebut saja nama salah seorang pelayan itu Maria.


Matanya sejak tadi melirik kanan dan kiri seperti sedang mengincar sesuatu dari kamar itu.


Saat 2 orang lainnya lengah secepat kilat tanganya meraih liontin yang ada didalam laci, benda berharga itu adalah peninggalan mendiang ibunya.


Semalam dia mengeluarkannya dari laci dalam lemari, berniat untuk memberikannya kepada Bela sang istri namun saat kantuknya menyerang Ray menyimpan liontin itu didalam laci meja rias.


"Maria kau sudah membersihkan meja itu dengan benar, jangan sampai ada debu yang tersisa sedikitpun." ucap Ling memperingatkannya.


"Baik saya mengerti bula.."


Usai membersihkan kamar Ling menutup kembali pintunya dengan rapat dan segera pergi untuk mengerjakan tugas lainnya.


Di gazebo belakang, Bela duduk sembari memperhatikan Risa yang cukup cekatan dalam bekerja.


"Risa.." serunya memanggil, sementara yang dipanggil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi, "Risa.."


Menoleh kebelakang, Nona muda? Risa segera membersihkan tangannya lalu melangkah cepat untuk memenuhi panggilan nona mudanya. "Iya nona? Ada yang bisa saya bantu?"


"Kaku sekali, ayo sini.." menepuk tempat duduk disebelahnya.


Bula bilang aku tidak boleh dekat-dekat dan harus menjaga jarak dengan nona muda.

__ADS_1


"Kenapa melamun?" Bela menyentuh dan menarik tangannya membuat Risa terkejut.


"No- nona saya.."


"Cepat duduk.."


"Tapi nona saya.."


"Kubilang duduk, sekarang!"


Akhirnya Risapun duduk tepat disamping nona mudanya, suasananya mendadak canggung namun hanya sebentar, "Bagaimana caramu bisa bekerja di vila ini?"


Risa terdiam tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa ayahnyalah yang sudah menyakiti nona mudanya. "Em itu karena saya mengatakan kepada tuan bahwa saya sangat membutuhkan pekerjaan apapun itu, lalu tuan muda dan tuan Kris membawa saya kemari nona."


"Persisnya tidak sama persis dengan apa yang nona katakan tadi, saya juga baru mempelajarinya dari bula."


"Bula? Siapa dia?" mengatakannya dengan serius.


Nona serius tidak tahu siapa bula? "Bu kepala Ling, nona."


"Pft, haha.. siapa pencetus nama itu? Aku bahkan baru mendengar nama itu." Bela tak bisa menahan tawanya.


"Benarkah.. tapi bukankah itu memang nama panggilan untuk kepala pelayan?"

__ADS_1


"Haha.." mengusap sudut matanya yang basah, "Maaf.. maaf.. mungkin memang aku yang tidak tahu, ah baiklah lanjutkan lagi pekerjaanmu.."


"Baik nona saya permisi."


***


Kris dan Ray barusaja sampai diaula gedung rumah sakit swasta, semua petinggi dan staff berdiri berjejer rapih menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi tuan selamat datang di rumah sakit ini, kami sungguh merasa tersanjung karena tuan muda bisa datang menghadiri acara amal ini." imbuhnya memuji sembari mengulurkan tangannya kehadapan Ray.


"Tidak perlu seformal itu, duduklah." balasnya tanpa menjabat tangan direktur utama rumah sakit.


Mereka yang melihat cara Ray membalas sambutan direktur utamapun langsung bereaksi namun tetap dalam kadar batasnya setelah ditatap Kris.


Semua kembali duduk dan menikmati acara amal yang sedang berlangsung, sebagai pembuka acara mereka menyuguhkan tarian tradisional salah satu daerah.


Saat masih fokus diacara amal itu, Kris mendadak mendapatkan telefon dari asistennya dikantor.


Kris berjalan mendekati tuan mudanya yang duduk dikursi VVIP, sedikit membungkukan tubuh dan membisikannya sesuatu sepertinya hal itu sangat penting terlihat dari reaksi yang ditunjukan Ray saat mendengarnya.


##


Q : Bula apaan sih?

__ADS_1


A : Bu kepala (kepala pelayan) 😁


__ADS_2